Badak Jawa Terancam Kepunahan, Kini Menjadi Mamalia Terlangka di Bumi


Badak jawa di habitatnya. Foto : Wikipedia

Badak Jawa atau badak bercula satu-kecil (Rhinoceros sondaicus) adalah salah satu mamalia terlangka di bumi bersama dengan empat jenis badak lainnya. Badak dari famili Rhinocerotidae ini memiliki ukuran tubuh yang relatif lebih kecil daripada jenis badak India dengan panjang 3,1-3,2 m, tinggi 1,4-1,7 m dan berat antara 900 – 2300 Kg. Ukuran culanya pun lebih kecil dari badak lainnya dengan panjang sekitar 20 cm dengan yang terpanjang mencapai 27 cm.

Badak Jawa dapat hidup selama 30-45 tahun. Badak ini hidup di hutan hujan dataran rendah, padang rumput basah, dan daerah basah dengan genangan lumpur. Badak Jawa dikenal dengan sifatnya yang tenang, kecuali saat masa kenal-mengenal dan membesarkan anak. Karena itu, Badak Jawa sering menghindar dari manusia. Namun, akan menyerang bila diganggu.

Badak Jawa sebelumnya tidak hanya tersebar di Pulau Jawa saja. Namun pernah tersebar di seluruh Nusantara, sepanjang Asia Tenggara, India, dan di Tiongkok. Kini populasinya hanya tersisa 40-50 badak yang hidup di Taman Nasional Ujung Kulon di Pulau Jawa, Indonesia. Sedangkan di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam badak ini sudah dinyatakan punah. Hal ini membuat IUCN (International Union for Conservation of Nature) menjadikan hewan badak wajib dilindungi dengan status Terancam punah/Critically endangered (CR)

Badak Jawa terancam kepunahan dikarenakan banyaknya perburuan untuk diambil culanya. Cula Badak Jawa ini sering diperjual belikan karena memiliki daya tarik saat diukir dan dijadikan aksesoris tertentu. Selain itu, cula badak juga dijadikan bahan obat tradisional yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit meski hal itu belum teruji kebenarannya. Menurut Investigator Wildlife Crime and Trade – World Wide Fund (WWF) -Indonesia, Novi Hardianto, harga cula Badak ini mencapai Rp. 25 juta per kilogram di pasar gelap pada tahun 2017. Nilai yang sangat menggiurkan bagi para penjahat untuk menghasilkan pendapatan.

Sementara menurut data WWF, saat ini perburuan liar sudah tidak lagi mengancam kehidupan Badak jawa. Sejak tahun 1990-an perburuan liar telah dihentikan karena penegakan hukum yang efektif oleh otoritas taman nasional maupun pihak-pihak lain yang peduli akan keberadaan jenis satwa ini. Namun, Ancaman lainnya seperti berkurangnya keragaman genetis dapat memperlemah kemampuan jenis badak ini dalam menghadapi penyakit dan bencana alam.

Degradasi dan hilangnya habitat juga menjadi ancaman bagi puluhan individu Badak jawa yang masih tersisa. Pembangunan yang dilakukan manusia memerlukan perluasan lahan hingga mencapai habitat Badak. Pembukaan hutan dan penebangan kayu mulai bermunculan di kawasan lindung dimana satwa-satwa ini hidup.

Aktifnya gunung anak Krakatau juga sempat menjadi ancaman terhadap habitat Badak. Erupsinya gunung anak krakatau yang menyebabkan terpaan tsunami selat Sunda memorak-porandakan wilayah pesisir Banten dan Lampung Selatan. Meski belum pasti apakah Badak Jawa ikut menjadi korban atas keganasan tsunami ini. Dilansir dari Tagar News, tim Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Mumu Muawalah mengatakan, dalam waktu dekat ini pihaknya bersama dengan WWF akan mengkaji kembali populasi badak jawa yang mendiami hutan TNUK.

Ancaman ini sudah pernah dibahas para aktivis lingkungan dan pemerintah sejak lama. Karena itu, mereka ingin memindahkan Badak Bercula satu dari sana. Namun, banyak pertimbangan jika melakukan hal tersebut. Salah satunya adalah tempat untuk menjadi habitat kedua yang susah dicari. Habitat yang dicari tentunya harus cocok dengan Badak Jawa tersebut. Selain itu, mereka juga harus memilih induk badak dengan kondisi sehat untuk bereproduksi. Pelestarian Badak Jawa ini memerlukan dukungan dari banyak pihak. Hal yang bisa dilakukan dengan perluasan habitat Badak Jawa dan memantaunya dengan baik.

***
Atis Warna Sita

Gadis asal Situbondo yang aktif menulis sejak Sekolah Dasar. Jika ingin mengenalnya lebih lanjut dapat dilacak melalui akun Facebooknya yakni Emly Sofiana.


Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 + 9 =