Banteng Jawa, Spesies Tangguh yang Kini Terancam Punah

  • Share
Banteng Jawa, Spesies Tangguh yang Kini Terancam Punah
Banteng jawa di Taman Safari Indonesia. Foto: Mongabay.co.id

Gardaanimalia.com – Banteng jawa (Bos javanicus javanicus) merupakan spesies endemik di Indonesia yang kini terancam punah. Degradasi habitat, perburuan liar, dan konflik dengan masyarakat menjadi sebab dari kondisi tersebut. Jelas saja bagian tubuh banteng ini bernilai ekonomi tinggi seperti daging, kulit dan tanduknya yang marak diburu untuk dijadikan hiasan maupun piala dalam perlombaan. Mengakibatkan sekitar 80% banteng di seluruh dunia menurun populasinya. Bahkan satu di antara spesies mamalia itu sudah dinyatakan punah yakni aurochs (Bos primigenius).

Meski sering digunakan sebagai simbol ataupun ikon tetap saja nasibnya luput dari perhatian luas. Sebetulnya interaksi manusia dengan banteng sudah berlangsung sejak lama. Seperti penggunaannya sebagai pengangkut hasil panen perkebunan kopi di Jawa Barat hingga abad ke-18. Kemudian jauh sebelumnya banteng tertulis dalam karya sastra klasik Indonesia Nagarakretagama berisi kegiatan berburu sang raja yang melibatkan berbagai macam hewan termasuk banteng. Banteng memang mempunyai peranan yang besar dalam peradaban manusia. Selain dari segi tenaga, banteng berperan terhadap regenerasi vegetasi hutan, yaitu melalui biji dan tumbuhan yang disebarkan melalui fesesnya.

Satwa yang berasal dari famillia Bovidae ini berkerabat dekat dengan indian bison atau gaur (Bos gaurus) dan kerbau air (Bubalus bubalis). Tak heran kita sering terkecoh mengira banteng, sapi, dan kerbau adalah sama. Padahal secara fenotipe mereka sangat berbeda walaupun ada keterkaitan satu sama lain. Selain Bos javanicus javanicus (Jawa), Banteng memiliki sub spesies lain yakni Bos javanicus lowi (Kalimantan) dan Bos javanicus birmanicus (Thailand).

Di  Indonesia sendiri, dua sub spesies Bos javanicus javanicus dan Bos javanicus lowi  tersebar di wilayah Jawa, Madura, Bali (tersisa hanya di Jawa) dan Kalimantan. Lebih tepatnya terkonsentrasi di empat lokasi pulau Jawa (TN Ujung Kulon, TN Baluran, TN Alas Purwo, dan TN Meru Betiri) sedangkan Bos javanicus lowi menghuni di Kalimantan yaitu TN Kayan Mentarang dan TN Kutai. Terbatasnya sebaran alami dipicu fragmentasi pada habitat sedangkan jenis satwa ini menyukai tipe habitat yang lebih terbuka dan luas. Adapun juga dipengaruhi oleh sejarah penyebaran masa lalu, kondisi iklim, kemampuan adaptasi dan pergerakannya. Populasi banteng tercatat tidak lebih dari 500 individu di tiap sebaran alaminya.

BACA JUGA:
Owa Kalawat, Primata Endemik Kalimantan yang Terancam Punah

Secara morfologi, yang membedakan banteng dengan hewan lainnya terletak pada bagian pantat yang terdapat warna belang putih, bagian kaki dari lutut ke bawah berwarna putih, begitu pun bagian atas dan bawah bibir berwarna putih. Tubuhnya tegap, besar dan kuat dengan bahu bagian depan lebih tinggi daripada bagian belakang tubuhnya. Pada bagian kepala, terdapat sepasang tanduk yang mana tanduk banteng jantan berwarna hitam mengkilap, runcing, dan melengkung simetris ke dalam. Perbedaan dengan tanduk banteng betina bentuknya lebih kecil daripada tandung banteng jantan. Bagian dada banteng terdapat gelambir (dewlap) yang dimulai dari pangkal kaki depan hingga bagian leher, tetapi tidak mencapai daerah kerongkongan.

Pada umumnya banteng mempunyai pola aktivitas harian yang tetap.  Banteng memulai pagi hari dengan mendatangi padang rerumputan untuk makan. Dari aktivitas inilah banteng lebih dominan bersifat pemakan rumput (grazer) dibanding pemakan daun dan semak (browser). Bila matahari terik di waktu siang, spesies ini akan segera menepi untuk beristirahat sambil memamah biak di bawah tegakan rotan lalu sesekali minum di sungai. Tiba sore hari dilanjutkan kembali dengan makan. Saat waktu malam, banteng akan melangsungkan reproduksinya. Satwa herbivor yang satu ini termasuk kategori satwa monoestroes atau satu musim kawin dalam satu tahun, yang terjadi antara bulan Juli hingga November.

Selama melakukan aktivitasnya mereka selalu bergerombol dalam kelompok  yang terdiri dari dewasa, remaja, anak-anak (jantan dan betina). Hal tersebut merupakan strategi yang bertujuan untuk pemanfaatan pakan yang optimal serta terhindar dari pemangsa. Karena dibandingkan penciuman dan pendengaran spesies ini, kemampuan penglihatan banteng cukup terbatas sehingga dalam membedakan musuh-musuhnya tidak begitu tajam.

BACA JUGA:
Badak Jawa Terancam Kepunahan, Kini Menjadi Mamalia Terlangka di Bumi

Sayangnya, di Indonesia populasi banteng semakin menurun. Selain karena kompetisi dengan badak jawa (TN Ujung kulon) dan ancaman predator ajag (Cuon alpinus) pun menjadi momok, ancaman lain yang cukup besar seperti penurunan kualitas habitat dari segi sumber pakan rumput, invasi tumbuhan langkap (Arenga obtusifolia), kirinyuh (Chromolaena odorata), kacangan (Cassia tora), Telean (Lantana camara), dan akasia (Acacia Nilotica) telah menginvasi padang perumputan lebih dari 50% sehingga berdampak pada kemampuan bertahan hidup banteng.

Berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species banteng masuk dalam kategori genting (endangered). Keberlangsungan hidup satwa dengan risiko kepunahan sangat tinggi dan diperparah dengan maraknya perburuan oleh masyarakat dengan alasan banteng sebagai hama pengrusak lahan pertanian. Padahal banteng jawa ini merupakan spesies tangguh yang berperan penting dalam keberlangsungan regenerasi hutan.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments