Berkabar dengan Hutan Dunia

  • Share
Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan. | Foto: Denny Saputra/MI
Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan. | Foto: Denny Saputra/MI

Gardaanimalia.com – Dua tahun lalu, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mempublikasikan laporan terbaru kondisi hutan dunia dalam The State of Our Forests: Forests, Biodiversity and People.[1]FAO dan UNEP. 2020. The State of the World’s Forests 2020. Forests, biodiversity and people. Roma. DOI: https://doi.org/10.4060/ca8642en

Laporan ini menjawab banyak pertanyaan seputar relasi antara hutan, biodiversitas, dan manusia.

Di mana saja hutan dunia tersebar? Hewan dan tumbuhan apa saja yang bisa ditemukan di dalam hutan? Berapa jumlah orang yang hidupnya bergantung dengan hutan? Seberapa jauh kita telah merusak hutan?

Mengingat kita baru saja melewati Hari Hutan Internasional (21 Maret), mari kita baca bersama-sama laporan ini!

Melihat Hutan Milik Dunia

Kira-kira berapa luas lahan dunia yang ditumbuhi oleh hutan? 31 persen! Hampir sepertiga dari seluruh daratan di dunia adalah hutan. Setengahnya terdapat pada lima negara, yaitu Brazil, Kanada, Tiongkok, Rusia, dan Amerika Serikat.

Walaupun sering dinobatkan sebagai negara agrikultur, ternyata Indonesia tidak masuk ke dalam lima besar negara pemilik hutan terluas.

Indonesia ada di peringkat kedelapan, di bawah Australia dan Kongo. Kenapa bisa seperti itu? Bukankah Sumatera, Kalimantan, dan Papua masih rimbun oleh pepohonan liar, sedangkan Australia sering digambarkan sebagai daratan tandus?

Pertama, Indonesia adalah negara kepulauan. Sebagian besar wilayah negara kita terendam air laut. Di lain sisi, Kongo dan Australia memiliki luasan negara yang sangat besar. Berarti, mereka memiliki tempat yang lebih luas untuk ditumbuhi pepohonan.

Kedua, kalau kita menggunakan istilah hutan dunia, kita tidak lagi hanya berbicara tentang hutan hujan tropis yang ada di Indonesia.

Hutan itu ternyata punya suku dan ras juga (Gambar 1). Hutan tropis adalah salah satu jenis hutan, sedangkan hutan hujan tropis adalah salah satu jenis dari hutan tropis.

Di pedalaman Rusia dan Kanada yang dingin dan bergunung, pohon yang mampu tumbuh adalah pohon-pohon berdaun menjarum seperti pinus, fir, dan spruce. Komunitas pepohonan ini membentuk hutan boreal, saudara jauh dari hutan tropis.

Australia memiliki hutan yang lebih mirip dengan Indonesia dibandingkan Rusia dan Kanada. Kedua negara ini memiliki hutan tropis.

Bedanya, yang ada di mayoritas kepulauan Indonesia adalah hutan hujan tropis, sedangkan Australia memiliki hutan kering tropis (tropical dry forest) dan hutan gunung tropis (tropical mountain system) karena iklimnya yang kering. Indonesia juga memiliki hutan yang serupa dengan Australia pada kepulauan di sekitar Nusa Tenggara.

BACA JUGA:
Mengapa Kita Masih Gagal Melindungi Kelestarian Alam?
Gambar 1. Persebaran jenis-jenis hutan di dunia. | Foto: UNEP
Gambar 1. Persebaran jenis-jenis hutan di dunia. | Foto: UNEP

Namun, bagaimana dengan hutan terpadat? Apakah Indonesia memiliki hutan paling padat di dunia? Ternyata tidak! Posisi kita jauh lebih bawah lagi kalau berbicara tentang kepadatan hutan.

Dari seluruh daratan Indonesia, hanya 49,1% yang ditutupi hutan. Bandingkan dengan Suriname, negara dengan hutan terpadat. Dari seluruh wilayahnya, 97,4% daratan Suriname adalah hutan![2]Ritchie, H. dan Roser, M. 2021. “Forests and Deforestation”. Our World in Data. Diakses dari … Continue reading

Gambar 2. Perbedaan nilai BII antara tahun 2001 dan 2012. Semakin warna ungu, berarti semakin ekstrem penurunan BII wilayah tersebut. Indonesia berada pada warna biru gelap. | Foto: De Palma dkk.
Gambar 2. Perbedaan nilai BII antara tahun 2001 dan 2012. Semakin warna ungu, berarti semakin ekstrem penurunan BII wilayah tersebut. Indonesia berada pada warna biru gelap. | Foto: De Palma dkk.

Melihat Hutan Milik Hewan dan Tumbuhan

Biodiversitas tertinggi dunia dapat ditemukan di wilayah hutan. Walaupun hanya mencakup sepertiga daratan dunia, hutan menjadi rumah bagi 80% amfibi, 75% burung, dan 68% mamalia yang ada di dunia. Dari seluruh tumbuhan berpembuluh yang ada, 60% terdapat di hutan.

Jika kita mengambil peringkat dari nilai biodiversitas, Indonesia jadi salah satu juaranya. Indonesia berada di peringkat kedua dari nominasi negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi di dunia, yaitu Brazil.[3]Convention on Biological Diversity. Indonesia – Main Details. Diakses dari https://www.cbd.int/countries/profile/?country=id

Indonesia juga merupakan negara dengan spesies pohon terbanyak ketiga di dunia setelah Brazil dan Kolombia.[4]FAO dan UNEP. 2020. The State of the World’s Forests 2020. Forests, biodiversity and people. Roma. DOI: https://doi.org/10.4060/ca8642en

Hutan Indonesia bukan yang terluas, tapi kenapa Indonesia bisa menjadi negara dengan tingkat biodiversitas yang sangat tinggi?

Ini karena hutan di Indonesia adalah hutan hujan tropis, jenis hutan yang memiliki daya tampung biodiversitas terbesar. Menjadi alasan, kenapa kita juga selalu ada di bawah Brazil.

Brazil memiliki hutan yang sangat luas, ditambah lagi mayoritas hutannya merupakan hutan hujan tropis. Tentunya semua orang sudah pernah dengar tentang Amazon, bukan?

Bentuk Indonesia yang kepulauan juga berpengaruh terhadap kelimpahan spesies hewan dan tumbuhan. Setiap pulau mempunyai kesempatan untuk memiliki spesiesnya masing-masing atau biasa disebut sebagai spesies endemik.

Di Mentawai ada owa Mentawai, di Bali ada jalak Bali, dan di Pulau Komodo tentunya ada komodo. Banyak di antara hewan ini yang tidak dapat ditemukan di pulau lain, bahkan yang bersebelahan dengannya.

Jika membahas biodiversitas, kita perlu menyinggung tentang biodiversity intactness index (BII), yaitu perhitungan untuk menentukan jumlah spesies yang masih tersisa pada suatu wilayah.

BACA JUGA:
Kapitalisme Jadi Akar Kejahatan Terhadap Satwa dan Kehidupan Liar

Perhitungan ini bisa memperlihatkan pengaruh dari tekanan manusia terhadap keanekaragaman hayati pada tempat tertentu.[5]Natural History Museum. Biodiversity Intactness Index. Diakses dari … Continue reading

Jika suatu negara wilayah nilai BII di atas 90%, maka biodiversitas wilayah itu masih lestari dan belum banyak terganggu.

Jika nilainya di bawah 90%, maka sudah ada faktor yang mengganggu kelestarian alam wilayah tersebut, terutama faktor manusia.

Bagaimana dengan Indonesia? Penelitian terbaru oleh De Palma dkk. (2021) menunjukkan, kalau bersama dengan Malaysia dan sebagian Filipina, Indonesia merupakan salah satu negara dengan penurunan nilai BII terekstrem, yaitu sekitar 6-8% di antara tahun 2001-2012 (Gambar 2).[6]De Palma, A., Hoskins, A., Gonzales, R.E. dkk. 2021. “Annual changes in the Biodiversity Intactness Index in tropical and subtropical forest biomes, 2001-2012”. Nature. 11:20249. DOI: … Continue reading

Indonesia memang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Sayangnya, negara ini juga memiliki nilai penurunan keanekaragaman hayati yang tinggi pula.

Melihat Hutan Milik Manusia

Manusia punya tendensi untuk mengabaikan sesuatu yang terlihat melimpah, seperti sumber daya hutan. Negara-negara dengan hutan paling luas dan produktif di dunia juga merupakan negara dengan tingkat deforestasi tertinggi.

Brazil dan Indonesia tentu tidak terlepas dari dakwaan ini. Di Indonesia, ancaman utamanya adalah ekspansi industri sawit.

Pada laporan UNEP, industri sawit disebut sebagai salah satu di antara tiga aktivitas agrikultur utama penyebab deforestasi.[7]FAO dan UNEP. 2020. The State of the World’s Forests 2020. Forests, biodiversity and people. Roma. DOI: https://doi.org/10.4060/ca8642en

Dua yang lainnya adalah pembukaan lahan untuk lahan peternakan dan perkebunan kacang kedelai. Keduanya dilakukan secara masif di Hutan Amazon, Brazil.

Tiga aktivitas agrikultur ini bertanggung jawab atas 40% dari seluruh aktivitas deforestasi antara tahun 2000 hingga 2010.

Secara mengejutkan, ternyata kegiatan agrikultur subsisten (pertanian dan perkebunan lokal, biasanya untuk menghidupi satu keluarga atau komunitas kecil) bertanggung jawab atas 33% deforestasi pada rentang waktu yang sama.

Ini menunjukkan rendahnya tingkat pendidikan mengenai pentingnya hutan kepada masyarakat lokal di seluruh dunia. Subsidi yang rendah dari pemerintah kepada masyarakat lokal juga mampu mengakibatkan dampak yang sama.

Sementara, jumlah manusia yang tergantung kepada hutan jauh dari kata sedikit. Ada 86 juta orang dengan pekerjaan formal yang berkaitan langsung dengan keberadaan hutan.

BACA JUGA:
Selamatkan Satwa Lewat Pendidikan Konservasi Sejak Dini

Sebanyak 880 juta orang di dunia menghidupi dirinya dengan mencari sumber daya di hutan, terutama untuk dijadikan arang.

Sekitar 1 miliar jiwa bergantung dengan bahan pangan yang berasal dari hutan, termasuk di antaranya daging hewan liar, jejamuran, bahkan serangga.

Jika kita lihat dampak yang diberikan oleh hutan secara langsung maupun tidak langsung, maka hajat hidup semua orang di dunia bergantung pada hutan tanpa terkecuali.

Hutan menjadi salah satu penyedia oksigen terbesar di dunia sekaligus penyerap karbondioksida yang mampu menahan laju perubahan iklim.

Dalam satu contoh ini saja, kita bisa lihat bahwa tidak ada satu orang pun yang tidak butuh hutan, bahkan bagi seseorang yang dalam hidupnya tidak pernah melihat hutan.

Maka dari itu, kita perlu menyeimbangkan apa yang bisa kita ambil dengan apa yang perlu kita konservasikan. Dengan lanskap ekonomi, sosial, dan politik hari ini, usaha menjaga keseimbangan ini memang bukan hal yang mudah.

Inilah kenapa Hari Hutan Internasional 2022 berkampanye dengan mengambil judul Forests and Sustainable Production and Consumption—hutan dan produksi serta konsumsi berkelanjutan.

Tema Hari Hutan Internasional tahun ini adalah tema yang tidak naif. Dia tidak memungkiri bahwa manusia membutuhkan sumber daya hutan. Sebagai konsekuensinya, akan ada sebagian hutan yang dialihfungsikan atau bahkan ditebang.

Yang ingin ditekankan dalam tema ini adalah bahwa jika mengambil sumber daya hutan dengan serakah, maka pada tahun-tahun ke depan dia tidak akan lagi tersedia dan semua orang di dunia akan merasakan pengaruh buruknya.

Coexistence—koeksistensi. Kemampuan untuk hidup berdampingan dengan harmonis merupakan kata kunci dari keseimbangan yang kita cari. Kita mampu mendapatkan sumber daya hutan tanpa perlu menebangnya habis-habisan.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments