Berita  

BKSDA Nilai Pantai di Bali Tak Ramah bagi Penyu Bertelur

Ilustrasi penyu sisik (Eretmochelys imbricata). | Foto: Kormandallas/Pixabay
Ilustrasi penyu sisik (Eretmochelys imbricata). | Foto: Kormandallas/Pixabay

Gardaanimalia.com – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Bali temukan penyu bertelur di Pantai Kuta setelah wilayah tersebut sepi pengunjung akibat pandemi Covid-19.

Raden Agus Budi Sentosa, Kepala BBKSDA Bali mengatakan bahwa sejak pandemi kunjungan wisatawan dibatasi, saat itulah pihaknya menemukan sebanyak 4 ekor penyu kembali bertelur di Pantai Kuta.

“Kenapa kok Pantai Kuta kemudian ada penyu bertelur? Karena aktivitas di Pantai Kuta kan sudah jauh berkurang. Jadi sebetulnya intinya adalah semakin sedikit aktivitas manusia ya semakin banyak penyu bertelur,” ujarnya, Kamis (20/1) dilansir dari Detik.

Berdasarkan teori, tutur Agus, predator paling besar bagi penyu justru adalah manusia. Setelah itu, baru predator lain yaitu satwa, baik yang berada di darat maupun di lautan.

Menurutnya, posisi manusia sebagai predator terbesar penyu tersebut haruslah dihentikan. Pasalnya, presentase tukik yang lahir hingga dapat bertelur itu hanya 1-2 persen.

“Jadi angkanya sangat kecil. Bahkan ada beberapa literatur mengatakan dari 1.000 ekor maksimal 5 ekor yang bisa bertelur. Jadi kita ini semakin banyak melepasliarkan (penyu) akan tentu semakin baik,” tegasnya.

Selain itu, Agus juga menyebut bahwa pantai di Bali tidak ramah bagi penyu bertelur. Hal itu dikarenakan pantai di Pulau Dewata tersebut selalu dijamah manusia.

“Sebetulnya ada beberapa intervensi manusia itu yang mengakibatkan penyu yang tadinya bertelur menjadi tidak bertelur. Contohnya yang paling gampang kita lihat di sini adanya pemecah ombak. Itu jelas yang tadinya penyu ramah bertelur menjadi tidak ramah bertelur,” ungkapnya.

Kemudian, pemanfaatan pantai untuk pariwisata seperti beach club juga mengakibatkan penyu enggan untuk bertelur, lanjut Agus.

“Di beberapa beach club kita lihat itu kan dipasangi lampu sorot yang ke arah laut. Itu kalau ada dipasang lampu sorot ke arah laut pasti nggak akan bertelur. Kemudian ada suara-suara yang bising sampai malam hari. Ingat ya, penyu itu pasti bertelur malam hari,” terangnya.

BACA JUGA:
Hadiah 130 Juta Rupiah bagi yang Bisa Mengungkap Pembunuh Gajah Bunta

Agus menambahkan bahwa mungkin boleh saja untuk ada suara dan lampu-lampu sorot, tetapi tidak pada waktu malam hari. Karena malam hari merupakan waktu untuk penyu bertelur.

Atas alasan itu, ia berharap pemerintah daerah setempat untuk membuat aturan khusus mengenai pemanfaatan pantai di Bali, sehingga satwa dilindungi tersebut dapat bertelur dengan nyaman.

“Mungkin kita perlu bagi, karena tidak mungkin juga semuanya (pantai) kita biarkan tidak ada aktivitas. Tapi mungkin ada pengaturan, di (pantai) mana manusia boleh beraktivitas, di mana binatang boleh bertelur, kan kira-kira itu. Itu yang mungkin perlu diatur lebih lanjut nanti,” tuturnya.

Saat ini, semua jenis penyu laut telah dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Tak hanya itu, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 juga menjamin perlindungan bagi kura-kura laut tersebut.

Lebih jauh, menurut International Union for Conservation of Nature, status konservasi penyu sisik dan belimbing sangat terancam punah (Critically endangered).

Sementara itu, berdasarkan sumber yang sama, status konservasi untuk penyu hijau, penyu lekang, dan penyu tempayan kini adalah terancam punah (Endangered).

Pun, dalam ketentuan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES), semua jenis penyu laut termasuk ke dalam Appendix I. Sehingga, segala bentuk perdagangannya telah dilarang.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments