BRIN Temukan Dua Spesies Burung Baru di Pegunungan Kalimantan

  • Share
Gambar burung baru bernama kacamata meratus (Zosterops meratusensis). | Foto: BRIN
Gambar burung baru bernama kacamata meratus (Zosterops meratusensis). | Foto: BRIN

Gardaanimalia.com – Ditemukan dua spesies burung baru di Pegunungan Meratus, Kalimantan Tenggara yang diidentifikasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dua spesies aves baru tersebut, yaitu burung sikatan kadayang (Cyornis kadayangensis) dan burung kacamata meratus (Zosterops meratusensis).

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Tri Haryoko menjelaskan, secara penampilan fisik, kacamata meratus berwarna berwarna hijau zaitun dengan corak zaitun kekuningan pada tubuh bagian bawah.

Kerabat paling dekat dengan kacamata meratus adalah kacamata laut (Zosterops chloris) yang memiliki warna kuning dengan tingkat kecerahan lebih tinggi.

“Sehingga keduanya dapat dibedakan, kerabat yang paling dekat yaitu kacamata laut (Z. chloris) yang memiliki warna kuning yang lebih terang,” ungkapnya melalui keterangan tertulis, Selasa (29/3).

Sedangkan, sikatan kadayang memiliki warna yang lebih khas, yaitu tubuh bagian atas berwarna biru dan bagian bawah berwarna cokelat jingga terang sampai putih.

Sikatan kadayang berbeda dari sikatan dayak (Cyornis montanus) yang memiliki warna biru lebih pekat dan tubuh bawah berwarna kecokelatan tanpa warna putih.

Gambar burung baru bernama sikatan kadayang (Cyornis kadayangensis). | Foto: BRIN
Gambar burung baru bernama sikatan kadayang (Cyornis kadayangensis). | Foto: BRIN

Sementara itu, peneliti dari Museum Zoologicum Bogoriense Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Mohammad Irham menyebut Pegunungan Meratus membentuk kelompok fauna yang unik.

“Pegunungan Meratus yang terisolasi dari rantai pegunungan lain di Kalimantan membentuk komunitas fauna yang unik seperti yang terlihat pada kelompok burung,” kata Irham.

Ia menceritakan, kalau penelitian aves jenis baru ini dilakukan melalui serangkaian proses, meliputi studi morfologi, DNA, dan vokalisasi dari jenis baru ini dan kerabatnya.

“Hasil kajian tersebut menunjukkan populasi Zosterops dan Cyornis di Pegunungan Meratus berbeda dari kerabatnya, sehingga kami anggap sebagai spesies yang terpisah dan baru,” tuturnya.

BACA JUGA:
KLHK Gagalkan Perdagangan Sisik 140 Ekor Trenggiling

Selain itu, menyoal konservasi dan kelestarian burung di Pegunungan Meratus, Irham menyebut, bahwa itu berpotensi terhadap ancaman dari perubahan dan kerusakan habitat.

Wilayah dataran rendah dari Pegunungan Meratus telah mengalami perubahan, sehingga menyisakan habitat yang relatif utuh di zona pegunungan di atas 500 meter di atas permukaan laut dengan luasan yang cukup terbatas.

Kemudian, ancaman lainnya adalah perburuan burung untuk memenuhi pasar burung berkicau. Perburuan tersebut mendorong populasi burung di Pegunungan Meratus menuju ancaman kepunahan.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Irham pun berpandangan, bahwa konservasi habitat dan spesies satwa di Pegunungan Meratus sangat penting untuk dilakukan.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments