Cerecet Jawa, Burung Terkecil dengan Suara Merdu dan Berirama

  • Share
Buurng cerecet jawa (Psaltria exilis). | Foto: Alamendah
Buurng cerecet jawa (Psaltria exilis). | Foto: Alamendah

Gardaanimalia.com – Cerecet jawa (Psaltria exilis) atau yang memiliki nama Inggris pygmy tit merupakan burung endemik asal Pulau Jawa yang terkenal sangat kecil.

Keberadaannya cukup umum ditemukan di area lembab seperti hutan pegunungan, hutan konifer, hutan cemara, serta di lokasi buatan seperti perkebunan milik warga.

Disebutkan, cerecet jawa memiliki ukuran yang sama seperti burung terkecil di dunia yaitu bee hummingbird dengan ukuran tubuh sepanjang 8 cm.

Ukuran tubuhnya yang mungil membuat burung ini kerap disapa dengan si biji nangka. Burung kecil dengan kicau merdu dan berirama.

Adapun kicauannya berbunyi, “trrr… trrr… trrr…” serta apabila dalam mode melengking, kicauan akan terdengar seperti, “ti-ti-tii-tii”.

Perilaku dan Ciri Fisik

Tubuh cerecet jawa diselimuti oleh bulu berwarna abu-abu kecokelatan dengan bagian bawah berwarna putih sedikit buram. Pada bagian matanya tampak garis berwarna kuning yang mengelilingi pupil hitam satwa dilindungi tersebut.

Ekor yang dimiliki oleh burung kecil ini tergolong panjang, yaitu mencapai dua per tiga dari ukuran tubuhnya. Ia memiliki kemiripan dengan long-tailed tit dalam hal tingkah laku, suara, dan bentuk sarang.

Hal itu kemudian menyebabkan cerecet jawa turut dikelompokkan ke dalam keluarga Aegithalidae, sehingga burung ini menjadi satu-satunya keluarga Aegithalidae yang tinggal di Indonesia.

Dalam beraktivitas, cerecet jawa kerap berada dalam kelompok kecil dengan jumlah mencapai 15 ekor burung. Burung-burung ini akan mengunjungi dahan pepohonan yang berada di pinggir jalan.

Sesekali mereka akan turun ke tanah mencari makan dengan menggunakan paruhnya yang tebal dan pendek. Diketahui bahwa cerecet jawa mengonsumsi beberapa jenis serangga kecil, salah satunya yaitu kutu loncat.

Pakan lainnya yang biasa dikonsumsi oleh satwa mungil dan lucu ini adalah laba-laba dan beberapa jenis biji-bijian sebagai upaya untuk bertahan hidup.

BACA JUGA:
Burung Rangkong, Sang Petani Hutan Sesungguhnya

Umumnya musim kawin terjadi pada bulan Maret-Mei dan Agustus-September. Ketika musim kawin tiba, cerecet jawa kerap memisahkan diri dari kelompoknya.

Lalu, ia akan terlihat berdua bersama pasangannya membuat sarang berbentuk kantung menggantung dengan diameter 6-8,5 sentimeter yang terbuat dari rumput dan daun.

Sarang tersebut kemudian diberi lubang kecil dan dilapisi oleh lumut. Telur yang dihasilkan oleh cerecet jawa berjumlah dua sampai tiga butir telur dengan ciri-ciri berwarna putih berbintik merah.

Status Konservasi

Persebaran cerecet jawa saat ini sebagian besar berada di area hutan pegunungan Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan ketinggian lebih dari 1000 mdpl. Namun, di beberapa area khususnya di Banten, Kabupaten Pandeglang habitat cerecet jawa juga dapat ditemukan.

Status cerecet jawa dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) yaitu decreasing atau mengalami penurunan dengan status konservasi Least Concern yang berarti tingkat risikonya rendah.

Untuk saat ini, jumlah populasi cerecet jawa masih belum diketahui angka pastinya, namun diyakini masih jauh dari batas kerentanan berdasarkan perkembangan populasi.

Menurut tren populasi, satwa dapat dikatakan berada di angka rentan apabila mengalami penurunan lebih dari 30% selama sepuluh tahun terakhir. Sedangkan dalam sepuluh terakhir, cerecet jawa hanya mengalami penurunan kurang lebih 10%.[1]https://www.iucnredlist.org/species/22712032/94316107

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, cerecet jawa masuk ke dalam daftar satwa yang dilindungi.

Walaupun keberadaannya masih dapat kita jumpai di pepohonan, bukan berarti kita bisa seenaknya untuk mengusik kehidupan dan habitatnya.

Pun begitu, informasi mengenai burung ini tergolong sangat minim, sehingga banyak orang yang masih belum bisa mengidentifikasi atau bahkan mengenali keberadaan dari burung tersebut.

BACA JUGA:
Tapir Asia, Satwa Malam yang Terancam Pengalihan Lahan Hutan

Mari terus menjaga dan melestarikan satwa liar, baik yang dilindungi maupun yang tidak. Tujuannya sederhana, yaitu untuk menjaga keseimbangan ekosistem bumi dan untuk memberikan satu pemahaman bahwa kita tidak hidup sendiri, melainkan ada satwa dan lingkungan yang harus dijaga.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments