
Seekor buaya diserahkan ke PPS Alobi Air Jangkang dalam kondisi kaki dan mulut terikat setelah ditangkap dari tambak di sekitar Kabupaten Bangka.

Staf Alobi berusaha mencabut kail pancing besi yang menembus rahang bawah buaya. Masyarakat sering menggunakan kail pancing besi untuk menangkap buaya.

Kail pancing besi yang berhasil dicabut. Di Bangka, kail adalah salah satu pembunuh utama buaya. Kail yang tertelan dapat mengoyak saluran pencernaan dan membuat buaya enggan makan hingga akhirnya mati kelaparan.

Buaya di dalam kotak kayu dari hasil serahan masyarakat kepada PPS Alobi Air Jangkang.

Proses pemindahan buaya dari kotak kayu menuju kandang rehabilitasi buaya di PPS Alobi Air Jangkang.

Buaya muda yang ditemukan masuk ke dalam tambak milik Universitas Bangka Belitung. Pihak Alobi menduga kerusakan sungai di seberang kampus memaksa buaya untuk mencari tempat tinggal lain.

Seluruh buaya muara di PPS Alobi Air Jangkang terpaksa tinggal berdesakan di dalam kandang sempit karena Joni, buaya dominan di kandang utama, akan membunuh buaya lain yang masuk teritorinya.

Joni (kanan) dan pasangannya di kandang utama buaya PPS Alobi Air Jangkang. Ukuran Joni hampir mencapai 5 meter, memungkinkannya untuk membunuh buaya-buaya dengan ukuran lebih kecil.

Jon, buaya berukuran sekitar 3,5 meter yang dicurigai kuat memuntahkan kantong plastik dari perutnya. Di Bangka, banyak cerita tentang buaya yang memakan sampah karena suplai pakan mereka yang turun drastis.

Satu hari, ketika hujan sedang lebat, Joni mendobrak pagar besi yang membatasi kandang mereka berdua. Keesokan harinya, mayat Jon sudah ditemukan terapung di tengah kandang Joni.
Dipublikasikan: 7 Februari 2026