Perahu yang membawa peserta dari Wildlife Jakarta, Jakarta Birdwatcher’s Society, KPB Nycticorax UNJ, dan KSHL Comata UI perlahan meninggalkan Dermaga Pos 3 Hutan Lindung Angke Kapuk. Meski berpuasa, semangat mereka tetap menyala menyusuri perairan demi mencatat jejak burung-burung air di pesisir utara Jakarta.

Perahu yang membawa peserta dari Wildlife Jakarta, Jakarta Birdwatcher’s Society, KPB Nycticorax UNJ, dan KSHL Comata UI perlahan meninggalkan Dermaga Pos 3 Hutan Lindung Angke Kapuk. Meski berpuasa, semangat mereka tetap menyala menyusuri perairan demi mencatat jejak burung-burung air di pesisir utara Jakarta.

Seekor cangak abu melintasi langit pesisir berlatar gedung pencakar langit milik salah satu waralaba swalayan terkemuka Indonesia di kawasan bisnis PIK.

Seekor cangak abu melintasi langit pesisir berlatar gedung pencakar langit milik salah satu waralaba swalayan terkemuka Indonesia di kawasan bisnis PIK.

Panduan identifikasi burung seperti ini menjadi bekal penting untuk memastikan setiap spesies burung air yang dijumpai tercatat dengan akurat.

Panduan identifikasi burung seperti ini menjadi bekal penting untuk memastikan setiap spesies burung air yang dijumpai tercatat dengan akurat.

Sekelompok itik benjut bertengger di tiang-tiang kapal berkarat yang kian karam di perairan dekat pulau reklamasi PIK, mencari pijakan di antara sisa-sisa ambisi manusia.

Sekelompok itik benjut bertengger di tiang-tiang kapal berkarat yang kian karam di perairan dekat pulau reklamasi PIK, mencari pijakan di antara sisa-sisa ambisi manusia.

Seorang peserta pengamatan menatap “pulau sampah” yang kini mulai ditumbuhi vegetasi di perairan Muara Angke. Menurut penuturan pemandu perahu, daratan sampah ini muncul sekitar sembilan tahun lalu, tak lama setelah proyek reklamasi PIK rampung.

Seorang peserta pengamatan menatap “pulau sampah” yang kini mulai ditumbuhi vegetasi di perairan Muara Angke. Menurut penuturan pemandu perahu, daratan sampah ini muncul sekitar sembilan tahun lalu, tak lama setelah proyek reklamasi PIK rampung.

Meski tersusun dari sampah domestik mulai dari bungkus makanan hingga serpihan perabotan, “pulau” itu justru menjelma habitat baru bagi burung air, salah satunya gagang bayam yang memanfaatkan daratan rapuh tersebut untuk mencari makan.

Meski tersusun dari sampah domestik mulai dari bungkus makanan hingga serpihan perabotan, “pulau” itu justru menjelma habitat baru bagi burung air, salah satunya gagang bayam yang memanfaatkan daratan rapuh tersebut untuk mencari makan.

Kuntul besar turut mendarat di atas pulau sampah itu, pemandangan indah sekaligus mengusik, menyisakan tanya tentang kesehatan dan masa depan burung-burung liar yang menggantungkan hidup di “daratan dadakan” tersebut.

Kuntul besar turut mendarat di atas pulau sampah itu, pemandangan indah sekaligus mengusik, menyisakan tanya tentang kesehatan dan masa depan burung-burung liar yang menggantungkan hidup di “daratan dadakan” tersebut.

Burung-burung liar kerap beradaptasi dengan lanskap buatan manusia. Saat perahu memasuki perkampungan nelayan Kaliadem, seekor kuntul kecil tampak tenang bertengger di ujung tiang bambu, seolah menegaskan daya lentingnya di tengah ruang hidup yang terus berubah.

Burung-burung liar kerap beradaptasi dengan lanskap buatan manusia. Saat perahu memasuki perkampungan nelayan Kaliadem, seekor kuntul kecil tampak tenang bertengger di ujung tiang bambu, seolah menegaskan daya lentingnya di tengah ruang hidup yang terus berubah.

Di seberangnya, pemandangan kontras tersaji, seekor cangak abu tampak “mengantuk” di tengah tumpukan sampah yang mengelilinginya.

Di seberangnya, pemandangan kontras tersaji, seekor cangak abu tampak “mengantuk” di tengah tumpukan sampah yang mengelilinginya.

Tak hanya burung air, kawasan Muara Angke juga menjadi habitat beragam satwa liar. Seekor biawak air tampak berjemur di tepian, di samping blekok sawah sambil menikmati “sampah” yang sama.

Tak hanya burung air, kawasan Muara Angke juga menjadi habitat beragam satwa liar. Seekor biawak air tampak berjemur di tepian, di samping blekok sawah sambil menikmati “sampah” yang sama.

Catatan Hari Terakhir Pengamatan Burung Air: Surga yang Kian Terjepit

Dipublikasikan: 8 Maret 2026

Bagikan:
Pada 1930-an, ornitolog Belanda, Karel Willem van Hoogerwerf, pernah menyusuri pesisir utara Batavia, termasuk Muara Angke. Dalam catatannya, bentang pantai kala itu didominasi hutan mangrove lebat. Hanya beberapa titik seperti Sunda Kelapa dan Tanjung Priok yang telah sibuk sebagai pelabuhan, diselingi kampung-kampung nelayan tradisional. Selebihnya, pesisir adalah rumah bagi burung air, kepiting bakau, dan gelombang pasang yang datang tanpa dinding beton.

Sembilan dekade berlalu, lanskap itu berubah drastis.
Muara Angke sempat dikenal sebagai sentra tambak udang, sebelum bertransformasi menjadi kawasan bisnis dan perumahan elit Pantai Indah Kapuk (PIK). Reklamasi dan pembangunan masif membentuk garis pantai baru.

Ironisnya, kawasan yang namanya berarti “pantai indah” justru berdiri di atas wilayah yang dahulu merupakan rawa-rawa produktif dan jalur jelajah burung migran.
Hari ini, tersisa empat ekosistem mangrove yang masih dijaga dan dipertahankan seperti Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Hutan Lindung Angke Kapuk, Suaka Margasatwa Muara Angke, dan Ekowisata Mangrove Angke. Keempatnya menjadi benteng terakhir mangrove alami di tengah kepungan beton.

Secara historis, Muara Angke juga dikenal sebagai salah satu muara penting di pesisir Jakarta, tempat bertemunya aliran sungai dan Laut Jawa, zona kaya nutrien yang menjadi “meja makan” bagi ratusan burung air.

Sabtu, 28 Februari 2026, bertepatan dengan hari terakhir Asian Waterbirds Census (AWC) 2026 di bulan suci Ramadan, kami menelusuri kembali perairan yang dahulu dilalui Hoogerwerf.
Selepas sahur, ketika langit masih gelap dan azan Subuh baru saja reda, kami bergerak menuju dermaga Pos 3 Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara. Alih-alih burung air, anjing-anjing penjaga dermaga lebih dulu menyambut, seolah menjadi saksi perubahan zaman.
Tepat pukul 06.00, sekitar 15 peserta berkumpul mulai dari mahasiswa dari Kelompok Pengamat Burung (KPB) Nycticorax UNJ dan Kelompok Studi Hidupan Liar (KSHL) Comata UI, serta pegiat komunitas Jakarta Birdwatcher’s Society.
Fasilitator dari penyelenggara kegiatan ini, Wildlife Jakarta mulai membagi peran, ada yang menghitung individu, mencatat spesies, hingga mendokumentasikan temuan. Perahu pun dilepas, menyusuri muara PIK hingga Kampung Nelayan Kaliadem.

Selama 3,5 jam pengamatan (06.30–10.00 WIB), kami menyaksikan kerapuhan dengan gamblang, itik benjut (Anas gibberifrons) bertahan di sela tiang pancang kapal berkarat, cangak abu (Ardea cinerea) dan kuntul kecil (Egretta garzetta) berputar dekat lahan reklamasi, serta kuntul besar (Ardea alba) dan gagang bayam (Himantopus leucocephalus) yang mengais makanan di “pulau sampah”, sementara mangrove tersisa berdiri seperti pagar rapuh. Surga itu belum sepenuhnya hilang, tetapi kian menyempit menunggu dicatat, dijaga, atau perlahan dilupakan.
Fotografer:

Muhammad Wildan Al Gifari

CC-BY-NC-SA