Azriel mempersiapkan bubu yang akan digunakan untuk memonitoring ikan air tawar. Ikan yang tertangkap akan diidentifikasi dan dicatat sebelum dilepaskan kembali ke habitatnya.

Azriel mempersiapkan bubu yang akan digunakan untuk memonitoring ikan air tawar. Ikan yang tertangkap akan diidentifikasi dan dicatat sebelum dilepaskan kembali ke habitatnya.

Sabtu, 22 Agustus 2026. Matahari baru menampakkan cahaya paginya. Puluhan orang telah berkumpul di sebuah ruang hijau di kawasan bekas bandara pertama di Indonesia, Hutan Kota Kemayoran. Mereka bukan sekadar datang untuk berolahraga atau menikmati suasana taman, melainkan mengikuti pengamatan biodiversitas Jakarta dalam kegiatan Jakarta Naturalist Walk (JNW).
Kegiatan yang digelar setiap empat bulan sekali sejak Februari 2025 ini diselenggarakan oleh Jakarta Birdwatcher’s Society bersama komunitas dan institusi yang bergerak di bidang konservasi. Selama ini, pengamatan JNW lebih banyak menyasar kehidupan di daratan, mulai dari burung, mamalia, reptil, amfibi, serangga, araknida hingga tumbuhan.
Namun, pagi itu berbeda. Untuk pertama kalinya, ikan dan seluruh ekosistem air lainnya turut menjadi objek pengamatan.
Pemerhati ikan lulusan Biologi Universitas Nasional sekaligus fasilitator kegiatan, Muhamad Azriel, datang lebih awal untuk menyiapkan perangkat pemantauan sederhana. Tiga buah bubu payung bersama umpan ikan dipasang di tiga titik perairan di Hutan Kota Kemayoran yang memiliki luas 22,3 hektare.
“[Menggunakan] umpan campuran cacing sama dedak ikan. Umpan tersebut biasa (digunakan) untuk mancing, (tetapi ini) saya pakai untuk masang bubu juga bisa,” ujar Azriel.
Bubu, perangkap ikan tradisional, yang telah dipasang kemudian ditinggalkan.
Ikan yang nanti terperangkap di dalam bubu tidak dibawa pulang, melainkan untuk mengetahui siapa saja yang hidup di dalam perairan kawasan tersebut. Inilah salah satu perbedaan antara memancing untuk rekreasi dan monitoring biodiversitas.
Ikan yang masuk ke dalam bubu akan diidentifikasi, dicatat dan didata sebagai bagian dari gambaran keanekaragaman hayati di suatu lokasi. Setelah proses pengamatan selesai, ikan akan dikembalikan ke habitatnya.
Sambil menunggu bubu bekerja, rangkaian kegiatan JNW terus berlangsung. Dari parit, danau hingga kawasan sekitar mangrove diobservasi, karena setiap sudut Hutan Kota Kemayoran menyimpan kemungkinan ditemukannya kehidupan akuatik.
Menurut Azriel, beberapa jenis ikan yang dapat ditemukan di perairan sekitar Jakarta, antara lain kelompok wader dan seluang.
Ketika hari berganti malam, tibalah waktunya memeriksa bubu. Satu per satu perangkap diangkat dari perairan. Harapannya sederhana: menemukan ikan yang dapat memberikan informasi mengenai kondisi ekosistem Hutan Kota Kemayoran.
Namun, alam tidak selalu memberikan hasil sesuai harapan. Alih-alih ikan, bubu justru berisi dedaunan yang berguguran dan lumpur. 
“Pertama, [karena] kemarau, jadi airnya sangat surut. Kedua, mungkin karena durasi pemasangannya lebih sebentar,” ucap Azriel.
Ketiadaan ikan dalam satu kali pemantauan tentu tidak serta-merta berarti ikan telah menghilang dari kawasan tersebut. Kondisi air, musim, durasi pemasangan perangkap, lokasi hingga kadar oksigen dapat memengaruhi peluang ikan untuk ditemukan. Karena itu, monitoring biodiversitas dilakukan bukan untuk sekadar mendapatkan sebanyak mungkin satwa, tetapi untuk mengumpulkan data yang dapat dibaca bersama dengan kondisi lingkungan.
Bagi ekosistem, keberadaan ikan juga memiliki arti lebih luas. Ikan merupakan salah satu sumber pakan bagi burung air yang hidup di sekitar perairan.
“Itu bisa ngaruh ke populasi burung air juga. Mungkin sekarang masih banyak burung air, tetapi seiring waktu dengan kemarau yang makin tinggi, makin banyak anoksia, yaitu kekurangan oksigen di air, kemungkinan akan berpengaruh ke populasi burung air juga,” jelas Azriel.
Di sisi lain, pengamatan juga memperlihatkan persoalan lain: keberadaan ikan invasif. Dalam kegiatan JNW kali ini, ditemukan ikan sapu-sapu yang telah mati dan mengering di sekitar perairan.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa memantau ikan bukan semata-mata soal mencari tahu ikan apa yang masih hidup. Dari seekor ikan, peneliti dan pengamat dapat membaca bagian kecil dari cerita yang lebih besar tentang kondisi sebuah ekosistem.
Tidak ada ikan dicatat hari itu. Namun, bukan berarti kegiatan monitoring berakhir tanpa hasil. Dedaunan, lumpur, kondisi air, keberadaan ikan invasif, bahkan ketiadaan ikan dalam perangkap tetap menjadi bagian dari catatan bagaimana biodiversitas Hutan Kota Kemayoran hidup dan berkembang dengan dinamikanya.

Sabtu, 22 Agustus 2026. Matahari baru menampakkan cahaya paginya. Puluhan orang telah berkumpul di sebuah ruang hijau di kawasan bekas bandara pertama di Indonesia, Hutan Kota Kemayoran. Mereka bukan sekadar datang untuk berolahraga atau menikmati suasana taman, melainkan mengikuti pengamatan biodiversitas Jakarta dalam kegiatan Jakarta Naturalist Walk (JNW). Kegiatan yang digelar setiap empat bulan sekali sejak Februari 2025 ini diselenggarakan oleh Jakarta Birdwatcher’s Society bersama komunitas dan institusi yang bergerak di bidang konservasi. Selama ini, pengamatan JNW lebih banyak menyasar kehidupan di daratan, mulai dari burung, mamalia, reptil, amfibi, serangga, araknida hingga tumbuhan. Namun, pagi itu berbeda. Untuk pertama kalinya, ikan dan seluruh ekosistem air lainnya turut menjadi objek pengamatan. Pemerhati ikan lulusan Biologi Universitas Nasional sekaligus fasilitator kegiatan, Muhamad Azriel, datang lebih awal untuk menyiapkan perangkat pemantauan sederhana. Tiga buah bubu payung bersama umpan ikan dipasang di tiga titik perairan di Hutan Kota Kemayoran yang memiliki luas 22,3 hektare. “[Menggunakan] umpan campuran cacing sama dedak ikan. Umpan tersebut biasa (digunakan) untuk mancing, (tetapi ini) saya pakai untuk masang bubu juga bisa,” ujar Azriel. Bubu, perangkap ikan tradisional, yang telah dipasang kemudian ditinggalkan. Ikan yang nanti terperangkap di dalam bubu tidak dibawa pulang, melainkan untuk mengetahui siapa saja yang hidup di dalam perairan kawasan tersebut. Inilah salah satu perbedaan antara memancing untuk rekreasi dan monitoring biodiversitas. Ikan yang masuk ke dalam bubu akan diidentifikasi, dicatat dan didata sebagai bagian dari gambaran keanekaragaman hayati di suatu lokasi. Setelah proses pengamatan selesai, ikan akan dikembalikan ke habitatnya. Sambil menunggu bubu bekerja, rangkaian kegiatan JNW terus berlangsung. Dari parit, danau hingga kawasan sekitar mangrove diobservasi, karena setiap sudut Hutan Kota Kemayoran menyimpan kemungkinan ditemukannya kehidupan akuatik. Menurut Azriel, beberapa jenis ikan yang dapat ditemukan di perairan sekitar Jakarta, antara lain kelompok wader dan seluang. Ketika hari berganti malam, tibalah waktunya memeriksa bubu. Satu per satu perangkap diangkat dari perairan. Harapannya sederhana: menemukan ikan yang dapat memberikan informasi mengenai kondisi ekosistem Hutan Kota Kemayoran. Namun, alam tidak selalu memberikan hasil sesuai harapan. Alih-alih ikan, bubu justru berisi dedaunan yang berguguran dan lumpur. “Pertama, [karena] kemarau, jadi airnya sangat surut. Kedua, mungkin karena durasi pemasangannya lebih sebentar,” ucap Azriel. Ketiadaan ikan dalam satu kali pemantauan tentu tidak serta-merta berarti ikan telah menghilang dari kawasan tersebut. Kondisi air, musim, durasi pemasangan perangkap, lokasi hingga kadar oksigen dapat memengaruhi peluang ikan untuk ditemukan. Karena itu, monitoring biodiversitas dilakukan bukan untuk sekadar mendapatkan sebanyak mungkin satwa, tetapi untuk mengumpulkan data yang dapat dibaca bersama dengan kondisi lingkungan. Bagi ekosistem, keberadaan ikan juga memiliki arti lebih luas. Ikan merupakan salah satu sumber pakan bagi burung air yang hidup di sekitar perairan. “Itu bisa ngaruh ke populasi burung air juga. Mungkin sekarang masih banyak burung air, tetapi seiring waktu dengan kemarau yang makin tinggi, makin banyak anoksia, yaitu kekurangan oksigen di air, kemungkinan akan berpengaruh ke populasi burung air juga,” jelas Azriel. Di sisi lain, pengamatan juga memperlihatkan persoalan lain: keberadaan ikan invasif. Dalam kegiatan JNW kali ini, ditemukan ikan sapu-sapu yang telah mati dan mengering di sekitar perairan. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa memantau ikan bukan semata-mata soal mencari tahu ikan apa yang masih hidup. Dari seekor ikan, peneliti dan pengamat dapat membaca bagian kecil dari cerita yang lebih besar tentang kondisi sebuah ekosistem. Tidak ada ikan dicatat hari itu. Namun, bukan berarti kegiatan monitoring berakhir tanpa hasil. Dedaunan, lumpur, kondisi air, keberadaan ikan invasif, bahkan ketiadaan ikan dalam perangkap tetap menjadi bagian dari catatan bagaimana biodiversitas Hutan Kota Kemayoran hidup dan berkembang dengan dinamikanya.

Peserta JNW mengamati dari seberang parit proses pemasangan bubu.

Peserta JNW mengamati dari seberang parit proses pemasangan bubu.

Pemasangan perangkap tidak mengharuskan si pemasang masuk ke dalam air. Cukup menggunakan tali, bubu dapat dilempar langsung ke titik pengamatan.

Pemasangan perangkap tidak mengharuskan si pemasang masuk ke dalam air. Cukup menggunakan tali, bubu dapat dilempar langsung ke titik pengamatan.

Pemasangan perangkap tidak mengharuskan si pemasang masuk ke dalam air. Cukup menggunakan tali, bubu dapat dilempar langsung ke titik pengamatan.

Pemasangan perangkap tidak mengharuskan si pemasang masuk ke dalam air. Cukup menggunakan tali, bubu dapat dilempar langsung ke titik pengamatan.

Bangkai ikan sapu-sapu yang telah mengering ditemukan peserta JNW, mengindkasikan bahwa ikan invasif kemungkinan pernah hidup di perairan Hutan Kemayoran.

Bangkai ikan sapu-sapu yang telah mengering ditemukan peserta JNW, mengindkasikan bahwa ikan invasif kemungkinan pernah hidup di perairan Hutan Kemayoran.

Bubu kadang dipasang di titik yang sulit dijangkau. Azriel harus menyeberangi bendungan sempit untuk mengambil bubu yang telah dipasang.

Bubu kadang dipasang di titik yang sulit dijangkau. Azriel harus menyeberangi bendungan sempit untuk mengambil bubu yang telah dipasang.

Hingga malam tiba, ikan tak kunjung didapat. Azriel membawa bubu yang hanya berisi daun dan lumpur.

Hingga malam tiba, ikan tak kunjung didapat. Azriel membawa bubu yang hanya berisi daun dan lumpur.

Merekam Ekosistem Air di Hutan Kota Kemayoran

Dipublikasikan: 9 September 2026

Bagikan:
Sabtu, 22 Agustus 2026. Matahari baru menampakkan cahaya paginya. Puluhan orang telah berkumpul di sebuah ruang hijau di kawasan bekas bandara pertama di Indonesia, Hutan Kota Kemayoran. Mereka bukan sekadar datang untuk berolahraga atau menikmati suasana taman, melainkan mengikuti pengamatan biodiversitas Jakarta dalam kegiatan Jakarta Naturalist Walk (JNW).

Kegiatan yang digelar setiap empat bulan sekali sejak Februari 2025 ini diselenggarakan oleh Jakarta Birdwatcher’s Society bersama komunitas dan institusi yang bergerak di bidang konservasi. Selama ini, pengamatan JNW lebih banyak menyasar kehidupan di daratan, mulai dari burung, mamalia, reptil, amfibi, serangga, araknida hingga tumbuhan.
Namun, pagi itu berbeda. Untuk pertama kalinya, ikan dan seluruh ekosistem air lainnya menjadi objek pengamatan.
Pemerhati ikan lulusan Biologi Universitas Nasional sekaligus fasilitator kegiatan, Muhamad Azriel, datang lebih awal untuk menyiapkan perangkat pemantauan sederhana. Tiga buah bubu payung bersama umpan ikan dipasang di tiga titik perairan di Hutan Kota Kemayoran yang memiliki luas 22,3 hektare.
“[Menggunakan] umpan campuran cacing sama dedak ikan. Umpan tersebut biasa (digunakan) untuk mancing, (tetapi ini) saya pakai untuk masang bubu juga bisa,” ujar Azriel.
Bubu, perangkap ikan tradisional, yang telah dipasang kemudian ditinggalkan.
Ikan yang nanti terperangkap di dalam bubu tidak dibawa pulang, melainkan untuk mengetahui siapa saja yang hidup di dalam perairan kawasan tersebut. Inilah salah satu perbedaan antara memancing untuk rekreasi dan monitoring biodiversitas.
Ikan yang masuk ke dalam bubu akan diidentifikasi, dicatat dan didata sebagai bagian dari gambaran keanekaragaman hayati di suatu lokasi. Setelah proses pengamatan selesai, ikan akan dikembalikan ke habitatnya.
Sambil menunggu bubu bekerja, rangkaian kegiatan JNW terus berlangsung. Dari parit, danau hingga kawasan sekitar mangrove diobservasi, karena setiap sudut Hutan Kota Kemayoran menyimpan kemungkinan ditemukannya kehidupan akuatik.
Menurut Azriel, beberapa jenis ikan yang dapat ditemukan di perairan sekitar Jakarta, antara lain kelompok wader dan seluang.
Ketika hari berganti malam, tibalah waktunya memeriksa bubu. Satu per satu perangkap diangkat dari perairan. Harapannya sederhana: menemukan ikan yang dapat memberikan informasi mengenai kondisi ekosistem Hutan Kota Kemayoran.
Namun, alam tidak selalu memberikan hasil sesuai harapan. Alih-alih ikan, bubu justru berisi dedaunan yang berguguran dan lumpur.
“Pertama, [karena] kemarau, jadi airnya sangat surut. Kedua, mungkin karena durasi pemasangannya lebih sebentar,” ucap Azriel.
Ketiadaan ikan dalam satu kali pemantauan tentu tidak serta-merta berarti ikan telah menghilang dari kawasan tersebut. Kondisi air, musim, durasi pemasangan perangkap, lokasi hingga kadar oksigen dapat memengaruhi peluang ikan untuk ditemukan. Karena itu, monitoring biodiversitas dilakukan bukan untuk sekadar mendapatkan sebanyak mungkin satwa, tetapi untuk mengumpulkan data yang dapat dibaca bersama dengan kondisi lingkungan.

Bagi ekosistem, keberadaan ikan juga memiliki arti lebih luas. Ikan merupakan salah satu sumber pakan bagi burung air yang hidup di sekitar perairan.

“Itu bisa ngaruh ke populasi burung air juga. Mungkin sekarang masih banyak burung air, tetapi seiring waktu dengan kemarau yang makin tinggi, makin banyak anoksia, yaitu kekurangan oksigen di air, kemungkinan akan berpengaruh ke populasi burung air juga,” jelas Azriel.

Di sisi lain, pengamatan juga memperlihatkan persoalan lain: keberadaan ikan invasif. Dalam kegiatan JNW kali ini, ditemukan ikan sapu-sapu yang telah mati dan mengering di sekitar perairan.

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa memantau ikan bukan semata-mata soal mencari tahu ikan apa yang masih hidup. Dari seekor ikan, peneliti dan pengamat dapat membaca bagian kecil dari cerita yang lebih besar tentang kondisi sebuah ekosistem.

Tidak ada ikan dicatat hari itu. Namun, bukan berarti kegiatan monitoring berakhir tanpa hasil. Dedaunan, lumpur, kondisi air, keberadaan ikan invasif, bahkan ketiadaan ikan dalam perangkap tetap menjadi bagian dari catatan bagaimana biodiversitas Hutan Kota Kemayoran hidup dan berkembang dengan dinamikanya.
Fotografer:

Muhammad Wildan Al Gifari

CC-BY-NC-SA