Di tengah heningnya malam di hutan Jawa Barat, para peneliti dari Little Fireface Project (LFP) melangkah pelan dengan antena di tangan.
Di balik kegelapan, mereka mendengarkan bunyi “beep... beep...” yang samar namun cepat. Bunyi itu bukan berasal dari makhluk astral, melainkan dari sebuah radio di genggaman peneliti.
Bagi tim peneliti, radio receiver adalah mata dan telinga mereka, membantu menembus dunia malam yang tak mudah dijangkau manusia.
Sebelum kukang kembali ke habitatnya, ada momen singkat penuh kehati-hatian. Satwa mungil itu diperiksa kesehatannya, diukur, lalu dipasangi radio collar atau kalung transmitter yang dirancang khusus agar ringan dan aman.
Tim memastikan kalung tidak terlalu longgar maupun terlalu ketat—sering kali dengan uji sederhana: cukup longgar untuk menyelipkan sebatang pensil di antaranya. Semua dilakukan cepat, agar kukang tak stres dan bisa segera dilepaskan kembali ke habitatnya.
Malam-malam berikutnya, sinyal kecil dari kalung itu menjadi panduan bagi para peneliti untuk menelusuri kisah hidup kukang di alam liar. Dari sinyal itulah mereka bisa memetakan wilayah jelajahnya, memahami perilaku malamnya, hingga menilai seberapa baik kukang bertahan setelah dilepasliarkan.
Setiap bunyi beep adalah potongan cerita—tentang upaya manusia memahami dan melindungi salah satu makhluk paling misterius di hutan tropis kita, Indonesia.





