Siang itu (18/8), keheningan di Klinik YIARI Ciapus mendadak pecah oleh kedatangan makhluk langka yang sedang bertaruh nyawa di ambang kematian. Namanya Travo, seekor kukang jawa jantan dewasa yang dievakuasi oleh BKSDA Soreang setelah tubuh mungilnya terhempas oleh arus listrik bertegangan tinggi.
Saat diletakkan di atas meja periksa, tubuhnya terasa begitu dingin. Di bawah temaram lampu ruang medis, dokter hewan mendapati pemandangan yang memilukan. Sengatan itu meninggalkan luka bakar derajat 3–4 yang sangat dalam di lengan kirinya, sementara tangan kanannya telah mengalami kematian jaringan total. Jaringan kulit dan ototnya mati seketika, menyisakan bau hangus yang menjadi saksi bisu betapa kejamnya bentangan kabel telanjang di habitat mereka.
Namun, di balik tubuhnya yang hancur, Travo menolak menyerah. Stetoskop dokter menangkap suara napas dan detak jantung yang masih terdengar bersih dan ritmik—sebuah isyarat bahwa ia ingin tetap bertahan hidup. Tim medis bergerak cepat menyuntikkan rangkaian antibiotik, pereda nyeri, hingga anti-tetanus untuk menstabilkannya.
Luka di kedua lengan Travo mulai memasuki fase lanjut; jaringannya menghitam, mengering, dan mengeluarkan aroma infeksi yang menyengat. Sadar bahwa pembusukan ini bisa menjalar ke organ dalam dan merenggut nyawa Travo, tim dokter terpaksa mengambil keputusan dramatis setelah kondisinya stabil: amputasi.
Lampu bedah dinyalakan, dan peralatan steril ditata demi sebuah tindakan penyelamatan yang berisiko.
Travo akhirnya berhasil melewati operasi besar itu. Ia selamat dan mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali bernapas, meski kini ia harus melangkah di babak baru hidupnya tanpa lengan.














