Cucak Hijau, Terancam Punah Karena Kontes Burung Kicau


Cica daun besar/Cucak hijau. Foto : Hbw.com/Lars Petterson

Gardaanimalia.com – Burung Cica daun besar (Chloropsis sonnerati) atau lebih dikenal dengan sebutan Cucak hijau atau murai daun merupakan burung dari keluarga Chloropsidae. Burung ini tersebar di kawasan Indonesia, Brunei, Malaysia, Myanmar, Singapura dan Thailand.

Terdapat dua subspesies burung Cica daun besar di Indonesia, yaitu Chloropsis sonnerati sonnerati Jardine & Selby, 1827 tersebar di Sumatera dan Kalimantan sementara subspesies lainnya Chloropsis sonnerati zosterops Vigors, 1830 menghuni pulau Jawa dan Bali.

Di Indonesia, burung ini dapat ditemukan di Bali, Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Kepulauan Natuna. Mereka tinggal di hutan kayu, perkebunan, hutan bakau dan hutan dataran rendah hingga mencapai ketinggian 1,100 mdpl.

Dapat ditemukan dibagian kanopi hutan, sendiri atau berpasangan, melompat-lompat diantara dahan pohon mencari buah, nektar bunga dan serangga yang termasuk ke dalam makanan kesehariannya.

Burung jenis ini memiliki ukuran cukup besar dibandingkan jenis burung Cica lainnya, dengan panjang tubuh antara 18–21 cm dengan berat mencapai 42,9–48,2g.

Sama seperti jenis lainnya, burung ini memiliki warna bulu tubuh dominan hijau, dengan bercak hitam bersemburat biru pada bagian muka untuk jantan, lingkaran cincin kuning pada bagian mata dan bercak kuning bersemburat biru pada bagian leher untuk betina.

Burung ini termasuk ke dalam status rentan punah (Vulnerable/VU) di daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Meski hingga kini jumlah populasinya tidak dapat dihitung secara pasti. Banyaknya perburuan menggunakan perangkap  trap diduga menurunkan populasi burung ini di alam bebas.

Cica daun besar diperdagangkan di Pasar burung Seteno betek, Kediri, Jawa Timur.

Perburuan burung tentu berkaitan dengan permintaan pasar untuk stok perdagangan ilegal di pasaran. Burung cucak ijo masih dapat ditemukan di pasar burung di Indonesia. Umumnya burung jenis ini diperjualbelikan sebagai burung kicau. Dengan suara yang lantang dan indah, tak pelak burung ini menjadi salah satu incaran para penghobi.

Menurut data dari buletin Traffic, terdapat total 3008 ekor burung Cica daun besar yang berhasil disurvey dari 515 toko di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Pontianak, dan Palangkaraya di tahun 2015.

Burung-burung ini umumnya dikirim dari Sumatera dan Kalimantan untuk memenuhi permintaan di Pulau Jawa. Sumber lokal menyebutkan bahwa banyak orang di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan telah memperdagangkan burung Cica daun besar dalam jumlah fantastis, menyebabkan populasi spesies ini menurun drastis dan bahkan hampir punah di Kalimantan Barat. Hal ini menyebabkan banyak pemburu mencari hutan baru untuk memburu jenis burung ini.

Burung Cica daun besar mulai naik pamornya semenjak burung ini sering diikutsertakan dalam kontes kicau burung yang digagas komunitas kicau mania. Burung ini juga memiliki keahlian dalam menirukan suara burung Murai batu dan Kacembang gadung.

Padahal burung ini juga termasuk ke dalam daftar satwa dilindungi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup no. P106 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Tetapi kurangnya sosialiasi dari pemerintah, kurang teredukasinya pemburu, pedagang dan pembeli tak urung menambah maraknya perdagangan burung ini.


Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × 1 =