Menjarah
Menjarah
Menjarah
Liputan KhususProfil

Daya Juang dan Tugas Moral Dokter Hewan Satwa Liar

212
×

Daya Juang dan Tugas Moral Dokter Hewan Satwa Liar

Share this article
Pemeriksaan kesehatan harimau sebelum dilepasliarkan di Barumun Sanctuary, Sumatra Utara. | Foto: Regina Safri
Pemeriksaan kesehatan harimau sebelum dilepasliarkan di Barumun Sanctuary, Sumatra Utara. | Foto: Regina Safri

Seluruh foto dalam artikel ini dipotret oleh Regina Safri yang baru saja menerbitkan buku foto berjudul HOPE. Buku foto tersebut bercerita mengenai konflik satwa liar dan manusia di Aceh dan Sumatra Utara.

Gardaanimalia.com – Rosa Rika Wahyuni adalah satu dari empat orang dokter hewan yang bekerja di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. Dia telah menekuni profesi sebagai dokter hewan satwa liar selama 14 tahun.

pariwara
usap untuk melanjutkan

Dalam rentang waktu tersebut, dirinya telah terlibat dalam setidaknya 70 proses nekropsi dan menjadi saksi ahli dalam berbagai persidangan kasus kriminal terhadap satwa liar.

Garda Animalia berkesempatan untuk berdiskusi dengan Rosa mengenai peran seorang dokter hewan dalam melakukan kegiatan nekropsi, yaitu pemeriksaan terhadap bangkai hewan untuk mengetahui penyebab kematian.

Belakangan, istilah “nekropsi” banyak berkelindan di berbagai berita akibat banyaknya kasus kematian satwa liar.

Garda Animalia juga berbincang dengan Rosa mengenai tantangan dan pengorbanan menjadi seorang dokter hewan satwa liar di Indonesia, juga hal apa yang membuatnya gigih melanjutkan profesinya sampai hari ini.

Wawancara kami lakukan pada Sabtu, 27 April 2024 melalui Zoom.

Wawancara ini berdampingan dengan artikel Garda Animalia dengan judul “Cara Dokter Hewan Melacak Keadilan dari Bangkai Satwa Liar” yang menelaah tahap-tahap nekropsi secara lebih mendalam.

Bagaimana kisah Ibu Rosa sampai bisa menjadi dokter hewan di BKSDA Aceh saat ini?

Sebelum kuliah di kedokteran hewan, saya sekolah di sekolah perawat manusia. Jadi, setiap yang saya lakukan kepada hewan itu saya anggap [sedang] menangani manusia. Saat saya mendapatkan kasus, yang saya andalkan adalah bekal saya menjadi perawat manusia. Misalkan, bayi gajah keracunan, saya bayangkan itu pada manusia.

Kebetulan saya ada guru, Dokter Anhar Lubis. Bersyukur sekali beliau sudah mendidik saya sampai saya bisa seperti sekarang. Beliau memegang andil besar dalam kehidupan satwa liar saya, dunia medis saya, terutama terkait pengetahuan saya untuk menangani satwa. Dari beliau saya belajar banyak.

Saya sudah bekerja di BKSDA Aceh itu lebih kurang 14 tahun menjadi pegawai ‘horor’, bukan pegawai honor. Jarang di rumah, pergi malam pulang malam, kerjaannya entah ke mana-mana. Memang betul-betul horor.

Di tahun ke-14 ini ada rezeki dibuka peluang P3K [Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja], dan Alhamdulillah saya diterima.

Jadi penempatan [saya] sudah di SKW II, meliputi Aceh Jaya sampai ke Aceh Tenggara. Basecamp saya posisinya di Aceh Selatan, di Trumon. Kebetulan ada kamp gajah yang namanya CRU, Conservation Response Unit, Desa Naca. Jadi, kalau saya tidak ada kegiatan lapangan, ya sama gajah-gajah di sini.

Setelah saya jadi P3K, status saya Pengendali Ekosistem Hutan. Jadi, [pekerjaan saya] berkaitan juga dengan pemulihan ekosistem, pemulihan kawasan. Dokternya menjadi dua, dokter ke satwa, juga dokter ke hutan.

Dokter Rosa memberikan air minum kepada harimau yang akan dilepasliarkan di Kantor Gakkum Sumatra Utara. | Foto: Regina Safri
Di Kantor Gakkum Sumatra Utara, Dokter Rosa memberikan air minum kepada harimau yang akan dilepasliarkan. | Foto: Regina Safri

Kami tertarik berdiskusi tentang salah satu tugas dokter hewan, yaitu melakukan nekropsi. Apa tantangan yang Ibu hadapi selama melakukan nekropsi?

Di Aceh, lokasi kematian [satwa liar] tidak ada yang gampang. Untuk menuju ke lokasi itu kita harus berjuang. Harus didampingi oleh kepolisian, TNI, mitra, warga desa, karena [lokasinya] memang rata-rata di hutan, di habitat [satwa]. Rezeki aja misalnya ada yang mati di kebun sawit yang ada jalannya. Kalau mati di hutan, ya, bersiap-siaplah.

Oleh karena itu, dokter hewan satwa liar itu harus punya fisik yang kuat, bukan cuma kuat mentalnya saja.

Selama melakukan nekropsi, kita tidak hanya mengandalkan apa yang ada di tubuh satwa. Dari pertama kita jalan menuju ke lokasi itu mata kita sudah jelalatan. Maksudnya, sudah lihat kiri, kanan, atas, bawah, depan, belakang. Apa ada tanda-tanda yang mencurigakan? Jejak, rumput yang tumbang, sampai dahan ranting yang patah, itu semua jadi bagian yang membantu kita. Itu bukan ranah [dokter hewan], tapi saya sampaikan ke kawan-kawan penyidik juga.

Misal, kasus gajah mati karena racun. [Karena pengalaman], kita sampai kita tahu, oh, ternyata pakan pancing yang dikasih ke gajah itu bukan ditaruh di tanah, tapi digantung di pohon. Kawan-kawan polisi nggak terpikir. Mereka lihat ke bawah, ke tanah. Saya bilang, “Lihat ke atas.”

Umumnya, [racun] digantung di buah nangka atau buah cempedak, buah-buah yang beraroma menyengat. Jadi tersangka mengamuflasekan racun itu ke buah-buahan yang beraroma keras. Satwanya nggak tahu apa-apa, jadi dimakannya terus, padahal itu adalah pancingan.

Si pelaku juga pasti sudah mempelajari jalur mana yang akan dilalui oleh satwa sehingga mereka tahu potensi racun itu dimakan lebih besar. Mereka sudah mempelajari itu, pasti. Dan itu memang terbukti saat penyidikan.

Walaupun itu bukan ranah kita, tapi informasi itu akan sangat membantu kawan-kawan penyidik. Kalau kita tidak punya pengalaman, maka informasi itu tidak akan pernah tersampaikan ke kawan-kawan penyidik.

Beberapa proses nekropsi bersangkutan dengan kasus pidana satwa liar. Menurut Ibu, apa peran penting dokter hewan dalam proses ini?

[Di persidangan], kita hanya menjawab pertanyaan yang diberikan. Kemudian, sampaikan apa yang kita ketahui, jangan pernah mengarang sesuatu yang kita tidak ketahui karena ingin terlihat keren. Jangan pernah mengkhayal, jangan pernah beropini. Itu membahayakan diri kita sendiri.

Kemudian, kita [harus] benar-benar paham dengan apa yang kita sampaikan, karena nanti ada imbas pada penentuan lama masa hukuman si tersangka.

Kalau kita memberikan keterangan yang salah, keterangan yang tidak sepengetahuan kita, itu akan berdampak ke si pelaku. Katakanlah, [pelaku] memang salah, tapi kita juga memberikan keterangan yang salah. Dengan keterangan kita yang salah, bisa semakin berat hukumannya. [Contoh lain], bisa jadi dia bukan pelakunya, atau pun dia bukan berniat membunuh.

Penegakan hukum itu kan harus adil seadil-adilnya. Maka, ada beban moral yang kita tanggung dari setiap keterangan yang kita beri. Setiap keterangan akan memberi dampak kepada si pelaku.

Kalau kita tidak paham, kita tidak pernah melakukan kegiatan nekropsi, bagaimana kita mau menjelaskan di pengadilan?

[Jika] kita tidak ada latar belakang apa-apa tentang gajah, tidak pernah melakukan nekropsi, tidak pernah merawat gajah semasa hidup, itu akan sulit menjelaskan di pengadilan.

Dengan tingginya beban pekerjaan, apakah menurut Ibu jumlah dokter satwa hewan liar di Indonesia sudah cukup?

Kalau saya lihat perbandingan dengan dokter ternak, jauh sangat sedikit sebenarnya kita [dokter hewan satwa liar].

Sangat sedikit, tapi yang anehnya dianggap banyak pula. Contoh, kami di BKSDA Aceh itu ada empat [dokter hewan], itu dianggap banyak. Sebenarnya itu belum cukup.

Memang dokter hewan ini akan terlihat sibuk pada saat ada kasus. Pada saat tidak ada kasus, sedikit lebih luang. Tapi saya rasa dengan kondisi Aceh, terutama dengan luasnya dan kasus kadang-kadang sampai berbarengan, [jumlah dokter hewan] kurang.

Tapi memang rezeki kita, dokter hewan satwa liar saat ini tidak hanya di pemerintahan, tapi juga banyak di NGO. Mitra-mitra kita itu yang membantu kita sekarang.

Contohnya, kasus yang terjadi pada orangutan. Kita punya mitra yang dokter hewannya punya concern khusus untuk orangutan. Tim medis dari BKSDA sendiri cukup [melakukan] pendampingan atau ikut bekerja sama.

Kalau dulu tidak. Pada saat saya pertama masuk itu cuma dua dokter hewan di BKSDA Aceh. Yang satu stay di kantor, saya di lapangan. Itu tidak pulang-pulang. Dari Aceh Selatan, pulang ke rumah cuma meletakkan pakaian kotor, langsung berangkat lagi ke Aceh Timur.

Dokter Rosa saat mempersiapkan alat pemeriksaan kesehatan kepada harimau di Barumun Sanctuary, Sumut. | Foto: Regina Safri
Dokter Rosa saat mempersiapkan alat pemeriksaan kesehatan kepada harimau di Barumun Sanctuary, Sumut. | Foto: Regina Safri

Menurut Ibu, apa tantangan terbesar menjadi dokter hewan satwa liar?

Kalau dalam penanganan, memang yang namanya totalitas itu wajib. Kalau tidak, kalau masih parsial, masih setengah-setengah, tidak akan sempurna pekerjaan itu. Misalnya, kita menangani contoh kasus gajah terjerat. Ketika kita tangani dia, kita lihat ternyata masih memungkinkan untuk kita obati di hutan. Tetapi kalau kita obati di hutan, kita harus korbankan diri kita dan tim. Kita harus bermalam [di hutan].

Kesuksesan kita juga kesuksesan tim, bukan individu. Tidak akan pernah bisa kita menangani kasus sendiri tanpa ada dukungan kawan-kawan.

Setiap kasus medis, saya berharap tim medisnya itu memang tim medis yang bisa bekerja sama dengan baik, yang punya ide sama. Paling tidak, [contohnya], “Oh, iya siap. Kami siap bisa menginap di hutan”.

Tantangan pertama, bagaimana cara [satwa] itu selamat. Kedua, bagaimana cara orang-orang yang ikut kita juga selamat. Ketiga, bagaimana cara kita juga selamat. Jadi, secara tidak langsung, kita harus prioritaskan keselamatan tim kita.

[Selain itu], ada pengorbanan. Kalau tantangan Insya Allah selagi kita kuat, bisa [dilewati]. Tapi pengorbanan ini yang terlalu banyak, terutama keluarga.

Kita perempuan, kemudian kita juga seorang ibu, kita punya suami. Anak saya tinggalkan di masa-masa pertumbuhan yang butuh ibu. Mereka kan di rumah saya tinggalkan terus. Nyesek, ya. Tapi saya keras-keraskanlah. Karena kita tugasnya bukan sehari dua hari, bahkan berbulan di lapangan.

[Contohnya] hari libur anak, mereka sudah merencanakan libur ke sana ke sini, tapi saya nggak bisa. Belum lagi saat lebaran, saya nggak kumpul dengan keluarga karena ada kasus. Begitu banyak pengorbanannya, apalagi kita sudah berkeluarga.

Saya berharap tidak ada yang sia-sia, karena Allah mencatat [bahwa] semua pengorbanan yang saya lakukan itu membawa kebaikan untuk keluarga saya. Bukan cuma untuk saya pribadi. Kalau gak ada izin dari suami, tidak ada restu dari beliau, tidak ada izin dari ibu, keluarga saya, anak-anak yang sering saya tinggalkan, mungkin saya nggak akan bisa bekerja seperti ini.

Dengan semua pengorbanan tersebut, apa yang membuat Ibu gigih bertahan sebagai dokter hewan?

Saya merasa–mungkin saya terlalu percaya diri–kalau saya pergi, siapa yang menangani ini? Mau nggak mereka menangani [satwa] seperti saya tangani? Itu satu.

Yang kedua, saya sudah merasa berarti di sini. Saya merasa berfungsi di sini. Kalau saya keluar, belum tentu saya bisa seberarti ini.

Di Aceh dengan kasus medis yang banyak, dengan kasus satwa liar yang banyak, [saya merasa] lebih bermanfaat, karena nggak banyak orang yang menjadi profesi ini.

Profesi ini kotor, secara harfiah. Kita susah cantik-cantik. Kadang-kadang sudah perawatan wajah, tiba-tiba ke hutan lagi, tergores lagi.

Orang nggak suka profesi ini karena kotor, bau, berhadapan sama basah, melewati sungai, gunung, berkeringat, kawannya cowok semua, tidurnya entah di mana. Cocok memang kata-kata “tidur beralaskan Bumi, beratapkan langit”. Bukan bualan itu.

Belum lagi autopsi. Kadang-kadang kita harus menghadapi bangkai yang sudah berhari-hari dengan bau yang luar biasa. Tetapi karena saya punya niat tersendiri, jadi saya kuat. Bau itu terabaikan, nggak terpikir oleh tubuh saya.

Memang lama-kelamaan mungkin saya nggak akan bisa seperti ini. Saya nggak terus muda. Saya nggak terus kuat. Suatu saat saya akan lemah.

Saya juga merasa, ini sampai kapan sih saya seperti ini? Tapi saya nggak akan berhenti selama saya masih mampu. Selama saya masih mampu naik gunung, kurang jam tidur, biarlah saya jalani itu.

Kalau pun saya berhenti, biarlah Tuhan yang menghentikan. Biarlah saya berhenti secara alami.

Profil Dokter Rosa. | Foto: Regina Safri
Profil Dokter Rosa. | Foto: Regina Safri
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments