Opini  

Disebut Killer Whale, Benarkah Orca Berkarakter Pembunuh?

Paus pembunuh, mamalia yang merupakan keluarga lumba-lumba terbesar. | Sumber: Whale Watch WA
Paus pembunuh, mamalia yang merupakan keluarga lumba-lumba terbesar. | Sumber: Whale Watch WA

Gardaanimalia.com – Ikan paus nampaknya tengah naik daun bersamaan dengan populernya drama Korea Selatan berjudul Extraordinary Attorney Woo yang rilis pada Juni lalu.

Dalam drama tersebut, paus biru digambarkan sebagai wujud visualisasi pikiran tokoh utama yang melambangkan kebebasan.

Namun, kali ini kita tidak sedang membicarakan paus biru, melainkan satu jenis satwa yang disebut paus, tetapi sebenarnya bukan.

Yap, orca! Meski kita mengenal hewan ini dengan sebutan ‘paus’, orca sebenarnya adalah bagian dari keluarga lumba-lumba. Bahkan, ia merupakan spesies terbesar dalam keluarga lumba-lumba.

Hewan ini begitu mudah dikenali sebab memiliki corak warna hitam mengilap di bagian atas dan warna putih di bagian bawah tubuhnya. Bercak putih di sekitar mata juga menjadi ciri khas, yang sering kali disalahartikan sebagai matanya.

Berdasarkan Permen LHK Nomor P.106 Tahun 2018, satwa liar dengan nama nama latin Orcinus orca ini merupakan jenis yang dilindungi.

Sedangkan jika mengecek situs IUCN Red List, status konservasi paus pembunuh adalah tidak diketahui (data deficient). Kategori ini disematkan untuk satwa-satwa yang dinyatakan tidak memiliki data yang memadai.

Siapa yang Lebih Berbahaya, Paus Pembunuh atau Hiu?

Jika kalian berpikir penguasa laut adalah hiu, maka bisa saya katakan bahwa itu tidaklah benar. Hiu masih bisa menjadi mangsa ikan lain, yaitu orca.

Ini dikarenakan paus orca adalah predator puncak yang sesungguhnya dalam rantai makanan di laut, sehingga tidak ada yang memburu orca, kecuali manusia.

Meskipun orca merupakan predator puncak, tetapi mereka diketahui sebagai hewan yang ramah dan berjiwa sosial tinggi, sehingga senang membantu manusia.

Lantas, Mengapa Disebut Paus Pembunuh?

Sebutan ini sudah ada sejak zaman dulu. Gelar sebagai “paus pembunuh” diberikan oleh pelaut kuno yang melihat sekelompok mamalia laut ini sedang berburu dan memangsa spesies paus yang lebih besar. Dari sanalah, tercetus sebutan killer whale.

BACA JUGA:
Demi Bisa Dikuburkan, Tubuh Paus Dipotong-potong

Meskipun merupakan hewan liar, tidak pernah ada laporan orca yang menyerang manusia di alam liar. Satwa yang juga disebut paus seguni ini justru tercatat pernah menolong satu keluarga dari serbuan hiu putih dan mendorong kapal ilmuwan yang tersesat mendekat ke daratan. Namun, berbeda cerita jika kita membicarakan kasus SeaWorld.

Gambar seekor paus pembunuh. | Sumber: Whale Watch WA
Gambar seekor paus pembunuh. | Sumber: Whale Watch WA

Ada Apa dengan Kasus SeaWorld?

Memang benar jika ikan paus pembunuh ini bukanlah hewan yang membahayakan manusia di alam liar. Namun, seekor orca bernama tilikum menewaskan pelatihnya sendiri di penangkaran SeaWorld.

Tilikum telah bekerja bersama pelatihnya, Dawn Brancheau selama enam belas tahun. Hingga sebuah insiden terjadi pada Februari 2010 silam.[1]https://www.google.com/amp/s/www.bbc.com/indonesia/dunia/2010/02/100225_ikanpaus.amp

Menurut para peneliti, perilaku tilikum tersebut sama sekali tidak wajar—kemungkinan besar karena orca tersebut mengalami stres setelah menghabiskan 27 tahun hidupnya di dalam akuarium yang membatasi perilaku alamiahnya.

Berdasarkan Journal of Veterinery Behavior, hasil studi sekelompok peneliti menghasilkan kesimpulan bahwa menempatkan paus pembunuh di lingkungan buatan dapat meningkatkan risiko penyakit dan kematian dini akibat stres kronis secara signifikan.

Lori Marino yang memimpin penelitian mengatakan, Tidak banyak paus di alam liar yang melukai manusia. Namun, banyak kematian dan cedera malah terjadi penangkaran.

“Agresi yang berlebihan ini merupakan akibat dari kehidupan mereka yang terbatas di dalam tangki,” papar Lori.

Paus pembunuh sebagai makhluk sosial kompleks dengan sistem keluarga terstruktur yang saling mengandalkan, memiliki otak terbesar dan terumit dalam kerajaan mamalia.

Namun, di sisi lain mereka adalah spesies ketiga terbanyak yang dipelihara di penangkaran atau akuarium. Tahun 2019, diperkirakan terdapat 63 paus yang hidup di penangkaran.

BACA JUGA:
Upaya Pengungkapan Kasus Megafaunatik Terdampar

Mereka terpaksa akan menghabiskan hidup puluhan tahun dalam tempat terbatas. Di penangkaran, orca ditempatkan dalam kelompok sosial buatan. Orca yang lahir di penangkaran sering dipindahkan antarfasilitas dan memutus hubungan sosial.

Tekanan akibat gangguan sosial itu disertai fakta bahwa orca tak memiliki kemampuan untuk melarikan diri dari konflik dengan individu orca lain.

Beberapa di antaranya bahkan menunjukkan perilaku abnormal, seperti gangguan kesehatan, stres, dan kematian dini yang tidak akan kita lihat di habitat aslinya.[2]https://www.nationalgeographic.com/animals/mammals/facts/orca[3]https://nationalgeographic.grid.id/amp/131773586/paus-di-penangkaran-atau-akuarium-cenderung-mati-muda-akibat-stres Singkatnya, orca sulit bertahan di habitat buatan manusia.

Metode Penangkapan yang Perlu Dipertanyakan

Kita mengenal beberapa nama, seperti tilikum yang dipekerjakan SeaWorld dan sempat menimbulkan insiden.
Atau orca bernama lolita atau lummi telah berada dalam tawanan Miami Seaquarium selama kurang lebih lima puluh tahun. Di sana, ia bekerja untuk sirkus dangan alasan edukasi.

Metode penangkapan orca tak jarang menggunakan metode yang sangat eksplosif, seperti dengan menyergap paus dan menangkapnya dengan jaring.

Jika orca tidak berenang ke tempat penangkapan, si penangkap akan menjatuhkan bahan peledak ke dalam air. Praktik-praktik ini menyebabkan penurunan populasi orca yang signifikan di dekat pantai Washington dan British Columbia.

Paus orca SeaWorld diambil paksa dari keluarganya, beberapa anggota keluarga asli mereka terbunuh dalam proses penangkapan.

Seperti yang dijelaskan dalam film dokumenter ‘Blackfish’ tahun 2013, SeaWorld menargetkan paus orca muda untuk ditangkap karena dianggap lebih mudah untuk diangkut dari habitatnya.

Setelahnya, orca yang telah ditangkap akan diletakkan dalam tangki yang tidak layak dan membuat kesehatan mereka terganggu.[4]https://www.idntimes.com/science/discovery/amelia-solekha/fakta-tragis-pertunjukan-paus-orca-c1c2

Penangkaran atau di Alam Liar?

Paus pembunuh di taman wisata air kerap kali dijadikan objek hiburan. | Sumber: Dolphinproject
Paus pembunuh di taman wisata air kerap kali dijadikan objek hiburan. | Sumber: Dolphinproject

Pendukung program penangkaran paus mengklaim bahwa orca penting untuk tujuan konservasi, pendidikan, dan pengembangbiakan. Tapi, apakah memamerkan satwa ini di tempat seperti penjara benar-benar sejalan dengan tujuan konservasi?

BACA JUGA:
Mengapa Kita Masih Gagal Melindungi Kelestarian Alam?

Kenyataannya, penangkaran tidak menjamin paus pembunuh hidup lebih aman dibandingkan di habitat aslinya. Pun penelitian tentang orca liar telah menunjukkan kepada kita bahwa kesehatan dan perilaku paus penangkaran sangat berbeda dari paus liar di alam.

Di alam liar, orca memakan berbagai jenis makanan tergantung daerah yang mereka huni. Makanan mereka dapat mencakup tiga puluh spesies ikan, hiu, cumi-cumi, anjing laut, singa laut, walrus, penguin, berang-berang laut, burung, dan bahkan jenis paus lainnya.

Orca di sebagian besar akuarium diberi makanan yang itu-itu saja, misalnya ikan haring yang mati. Akibatnya, kesehatan mamalia ini tidak optimal.

Perlu banyak upaya yang mesti dilakukan untuk menciptakan habitat yang lebih aman untuk satwa liar itu. Salah satunya adalah edukasi kepada masyarakat.

Opsinya, orang-orang dapat menonton film dokumenter tentang orca liar, misalnya Blackfish yang rilis tahun 2013, atau pergi melihat mereka secara langsung di alam liar, bukan dengan cara menonton mereka dalam sirkus berkedok edukasi.

Ketika habitat dalam kondisi yang baik, mereka akan berkembang biak sendiri tanpa campur tangan manusia.[5]https://web.archive.org/web/20101216065407/http://www.keepwhaleswild.org/

Referensi[+]

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments