Investigasi Perdagangan Beo Nias di Pasar Burung Sukahaji dan Facebook

  • Share
Investigasi Perdagangan Beo Nias di Pasar Burung Sukahaji dan Facebook
Beo nias yang dijual di Pasar Burung Sukahaji. Foto: Istimewa

Gardaanimalia.com – Nama Tiong Nias bukanlah sejenis burung yang bisa dipandang sebelah mata. Tubuhnya merupakan paling gagah di antara sekawannya, bahkan ia dapat mencapai panjang hingga 40 sentimeter. Umumnya, burung ini dikenal sebagai beo nias atau beo sumatera. Berasal dari sebuah pulau di Sumatera Utara dan hanya menyebar di sana mejadikannya sebagai burung khas Pulau Nias. Sayangnya keberadaannya kini diambang kepunahan. Menurut Red list dari IUCN, burung ini memiliki status EN (Endangered). Sedangkan di Indonesia, burung ini masuk dalam jenis burung dilindungi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No. P 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Mencari Beo Nias di Pasar Sukahaji Bandung

Untuk melihat langsung perdagangan beo nias, pada tanggal 25 Maret 2020 silam, kami mendatangi salah satu pasar burung terbesar di Indonesia yakni Pasar Burung Sukahaji di Bandung, Jawa Barat. Tidak terlalu sulit mencari keberadaan burung ini. Bahkan, di trotoar menuju gerbang utama pasar pun, burung ini sudah banyak diperjualbelikan.

Mayoritas pedagang di pasar ini lebih mengenal burung ini dengan nama beo nias atau beo sumatera. Ketika menggunakan kata “tiong”, mereka akan menunjukkan burung ciung.

Di Pasar Burung Sukahaji, burung dengan nama latin Gracula religiosa robusta ini tersedia dalam berbagai pilihan mulai dari ukuran, usia, hingga jumlah kosa kata yang dikuasai burung. Beda pilihan tentu berbeda pula harganya.

Baca juga: Menelusuri Perdagangan Satwa Dilindungi di Pasar Pal 7 Banjarmasin

Berbicara tentang harga, rata-rata kios di sini menjual tiong nias dengan kisaran harga antara Rp 1,2 juta untuk ukuran kecil dan masih muda hingga Rp 4 juta untuk beo besar dengan pengucapan kosa kata yang banyak.

Satu hal yang membuat kami tercengang adalah sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh salah satu pedagang, sebut saja Z. Di kiosnya yang terletak di pelataran trotoar Jalan Peta itu, ia tidak hanya menjual beo nias tetapi juga jalak bali. Kedua hewan ini merupakan jenis burung yang dilindungi.

BACA JUGA:
Kejanggalan Penangkaran Harimau Benggala Milik Alshad Ahmad

Beo nias yang kami temukan di Pasar Burung Sukahaji diperjualbelikan secara bebas, tanpa adanya surat-surat resmi yang dikeluarkan dari lembaga-lembaga terkait. Sedangkan, jalak bali dijual dengan harga yang relatif lebih tinggi dengan surat-surat yang disebut lengkap.

“Kalau jalak bali mulai dari Rp 3 jutaan udah lengkap sama surat-surat resmi dari BKSDA sih, neng. Kalau Beo mah sekitar sejutaan langsung lepas tanpa surat,” kata Z, penjual di Pasar Burung Sukahaji.

Menelusuri Jual Beli Beo di Facebook

Tidah hanya berhenti di Pasar Sukahaji, kami juga menelusuri perdagangan burung ini di beberapa grup jual beli baik publik maupun privat yang ada di laman Facebook. Harga yang ditawarkan pun tak terlalu jauh dari harga di pasar konvensional.

Dalam dunia forum jual beli, terdapat beberapa istilah yang digunakan dalam bertransaksi baik penjual maupun pembeli. Biasanya mereka menggunakan kode harga yang berisikan padanan huruf dan angka yang telah disepakati bersama dan memiliki arti tertentu.

Investigasi Perdagangan Beo Nias di Pasar Burung Sukahaji dan Facebook
Pasar Burung Sukahaji. Foto: Istimewa

Kode harga dalam bentuk abjad menginisiasikan besaran dari nominal pecahan uang kertas dalam rupiah. Huruf A untuk nominal Rp 100 ribu, B untuk Rp 50 ribu, C untuk Rp 20 ribu, D untuk Rp 10 ribu, begitu pula E F G untuk Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1000.

Beo nias dimahari dengan nominal mulai dari A 12 hingga A 18 atau berkisar pada angka Rp 1,2 juta hingga Rp 1,8 juta. Harga juga ditentukan dari kecerdikan, besaran, usia, hingga banyaknya kata yang dikuasai. Harga itu masih dapat dinegosiasikan lebih lanjut di dalam fitur Inbox maupun aplikasi lainnya.

Berdasarkan data dan fakta yang ditemukan di lapangan, perdagangan beo nias masih bisa kita temukan dengan bebas meski resiko kepunahan terus mengancam mereka.

Penulis: Karina Rahma dan Putri Nur, Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments