Jejak Gelap Keuangan Kejahatan Terhadap Kehidupan Liar

  • Share
Jejak Gelap Keuangan Kejahatan Terhadap Kehidupan Liar
Ilustrasi burung yang diselundupan. Foto: Merdeka

Gardaanimalia.com – Kejahatan terhadap kehidupan liar adalah kejahatan internasional terorganisir yang tidak hanya merusak tatanan alam, namun juga merugikan ekonomi global hingga miliaran dolar atau sekitar triliunan rupiah setiap tahun. Para pelaku kejahatan ini seringkali menyembunyikan dan mencuci uang mereka dengan mengeksploitasi celah-celah dalam sektor finansial dan non-finansial. Namun, para aktor pemberantas kejahatan ini jarang menyelidiki jejak-jejak finansial yang ditinggalkan dari tindak ilegal ini.

Pada bulan Maret 2021, sebuah laporan dengan judul Case Digest: An Initial Analysis of the Financial Flows and Payment Mechanisms Behind Wildlife and Forest Crime menunjukan bagaimana para pelaku kejahatan terhadap kehidupan liar menggunakan mekanisme finansial umum dan penggelapan uang untuk meraup keuntungan.

Dengan mempelajari lebih dari 40 kasus kejahatan terhadap kehidupan liar dari seluruh dunia, dan kerjasama antar badan pemerintahan, OINP (Organisasi Internasional Non Pemerintah), hingga lembaga intelijen keuangan global, laporan ini menekankan bagaimana para pelaku kejahatan memanfaatkan berbagai legitimasi hukum, birokrasi, dan korupsi, untuk mengamankan operasi mereka.

Traffic, OINP anti perdagangan kehidupan liar ilegal yang juga memprakarsai laporan ini, menegaskan bahwa sisi finansial dari kejahatan ini masih belum dipahami sepenuhnya, dan masih banyak yang harus dikerjakan untuk menghentikan sistem yang menyuburkan kejahatan ini. Laporan ini menuliskan perlunya peningkatan investigasi keuangan atas kejahatan terhadap hutan dan kehidupan liar.

Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa informasi tentang bagaimana para kriminal menggali keuntungan dari kejahatan terhadap hutan dan kehidupan liar, dan identitas penerima keuntungan finansial terbesar kejahatan-kejahatan tersebut, masih sangat terbatas. Dengan kata lain, banyak pelaku senior dan penerima manfaat terbesar dari kejahatan internasional terorganisir ini yang masih bebas melenyapkan satwa dan kehidupan liar.

BACA JUGA:
Pelihara Binturong, Arpan Dituntut 1,6 Tahun Penjara

Baca juga: 2 Pemburu Kuskus Putih di Taman Nasional Manusela Ditangkap

Laporan ini juga menemukan bahwa mekanisme pembayaran dan teknik pencucian uang yang digunakan para aktor kejahatan ini untuk menghindari deteksi semakin kompleks. Beragam mekanisme dan teknik tersebut diidentifikasi dalam laporan ini, antara lain: transfer uang antar bank domestik hingga internasional, mobile payment (pembayaran bergerak), perusahaan jasa pengiriman uang, sistem hawala atau hundi, perdagangan yang berbasis pencucian uang, penghindaran dan/atau penipuan pajak, hingga cash intensive business (bisnis penerima uang tunai dalam jumlah yang signifikan).

Nick Ahlers, Direktur Traffic Wilayah Afrika sekaligus penulis utama laporan ini, menyatakan bahwa kurangnya preseden dalam pengaplikasian teknik investigasi finansial pada kasus kejahatan terhadap kehidupan liar menjadi hambatan yang signifikan dalam pemberantasan perdagangan kehidupan liar ilegal.

Ia menambahkan bahwa laporan ini diharapkan membantu mengisi kekosongan data dan informasi terkait tindakan ilegal ini, dengan mengilustrasikan seberapa rumitnya mekanisme finansial yang digunakan oleh para perusak kehidupan liar. Dengan begitu, beliau berharap agar para penegak hukum dan institusi finansial dapat mengalokasikan sumber daya dan unit intelijen mereka untuk memutus rantai perdagangan ilegal ini dengan lebih terorganisir.

Pemahaman yang lebih dalam tentang aspek-aspek finansial dapat membawa prosekusi yang lebih efektif atas para aktor yang menggunakan tindak korupsi untuk memfasilitasi kejahatan terhadap kehidupan liar, yang kemudian dapat melumpuhkan setiap organisasi kriminal terorganisir yang terlibat. Jejak gelap keuangan kejahatan terhadap kehidupan liar tersembunyi dengan kompleksitas sistem finansial yang melewati batas-batas negara hingga benua.

Uang kotor dari kejahatan ekologi ini sudah berbaur dengan hampir sempurna bersama aliran uang bisnis-bisnis legal di seluruh dunia. Diperlukan kerja sama yang terkoordinasi di antara penegak hukum, lembaga finansial, hingga masyarakat dunia, untuk menerangi jejak gelap keuangan kejahatan yang telah merampas kekayaan dan nyawa jutaan makhluk hidup di bumi ini.

BACA JUGA:
Warga Sulawesi Utara Temukan Tarsius Tarsier yang Mengalami Kelainan
  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments