Berita  

Kambing Hutan Langka Mati di Sumatera

Seekor kambing hutan sumatera masuk perkampungan warga, namun sebelum berhasil dievakuasi, satwa dilindungi itu mati. | Foto: Dok. TNGL
Seekor kambing hutan sumatera masuk perkampungan warga, namun sebelum berhasil dievakuasi, satwa dilindungi itu mati. | Foto: Dok. TNGL

Gardaanimalia.com – Seekor kambing hutan sumatera menghebohkan warga yang bermukim di Dusun Perteguhen, Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Senin (11/7) sore.

Salah seorang warga bernama Ismet Sembiring mengatakan, satwa tersebut jarang ditemukan dan kondisinya cukup memprihatinkan, sehingga warga berinisiatif untuk mengevakuasi guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

“Kasihan, kondisinya sangat memprihatinkan. Selain kurus, hampir di sekujur tubuh atau di wajah macam berkudis gitu. Saat ini masih dipelihara warga dan menunggu pihak berwenang turun agar segera dievakuasi dan diobati,” ungkapnya saat dihubungi Garda Animalia.

Di sisi lain, Kepala Seksi V Pengelolaan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Palber Turnip, yang menerima informasi langsung menurunkan beberapa personil ke lokasi untuk melakukan evakuasi.

“Iya, kudis hampir di semua permukaan kulit, plus karena sakitnya mungkin jadi tidak ada selera makan, maka sangat kurus saat ditemukan,” jelasnya melalui seluler, Senin (11/7).

Sayangnya, kata Palber, kambing malang itu dinyatakan mati pada pukul 20.00 WIB. Padahal ketika hendak diselamatkan, petugas di lapangan melihat satwa tersebut masih mampu berdiri tegak.

Jika tidak mati, rencananya malam itu juga satwa akan dievakuasi untuk mendapatkan perawatan. Setelah dinyatakan mati, petugas bersama masyarakat pun menguburkan bangkai kambing hutan di sekitar tempat kejadian.

Kambing hutan endemik Pulau Sumatera dikuburkan di sekitar lokasi temuan. | Foto: Dok. TNGL
Kambing hutan endemik Pulau Sumatera dikuburkan di sekitar lokasi temuan. | Foto: Dok. TNGL

Ia menjelaskan, Dusun Perteguhen memang berbatasan dengan TNGL yang menjadi habitat kambing hutan. Satwa-satwa sejenis punya perilaku keluar dari habitat apabila merasa sakit.

“Biasanya, kalau memang satwa tersebut, entah sudah tua, sakit, yang mengakibatkan satwa tak bisa beraktivitas di hutan, dia akan menyingkir dari hutan. Dia masuk ke perkampungan dalam tanda kutip seperti meminta pertolongan,” terangnya.

Palber juga mengapresiasi warga atas informasi yang disampaikan terkait keberadaan kambing hutan tersebut. Meskipun satwa belum berhasil diselamatkan.

BACA JUGA:
Piaraan Warga, Buaya Muara 2,5 Meter Dievakuasi Pemadam Kebakaran

“Saya berterima kasih kepada warga yang sudah menginformasikan. Karena memang selama ini komunikasi kita baik dengan masyarakat. Sehingga kalau ada sesuatu, misalnya ada perburuan, illegal logging, kebakaran hutan, kita bisa cepat meresponnya,” tutur Palber.

Kambing hutan sumatera (Capricornis sumatraensis) adalah jenis kambing hutan yang hanya terdapat di hutan tropis Pulau Sumatera.

Ujarnya, populasi kambing hutan sudah semakin terdesak akibat perambahan hutan secara liar. Spesies ini ditetapkan dalam daftar tumbuhan dan satwa dilindungi di Indonesia.

Kambing hutan memiliki ciri khusus. Badannya lebih kekar dan berotot. Memiliki bulu lebat dan kasar yang berwarna keabuan. Tanduknya ramping, pendek dan lurus ke belakang dengan panjang rata-rata 12 hingga 16 sentimeter.

Satwa dengan berat badan antara 50-140 kilogram dan tinggi bisa mencapai 85-94 sentimeter tersebut memiliki perkembangbiakan yang tergolong lambat.

Biasanya, kambing hutan beranak sebanyak 1 hingga 2 ekor setiap satu kali kelahiran. Lama hidup kambing hutan sumatera jantan maupun betina sekitar 10-20 tahun.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments