Kambing Hutan Sumatra, Si Hitam Tangguh Pemanjat Tebing

Kambing Hutan Sumatra, Si Hitam Tangguh Pemanjat Tebing
Kambing hutan sumatra. Foto: Wikipedia

Gardaanimalia.com – Capricornis sumatraensis, atau yang dikenal sebagai kambing hutan sumatra adalah salah satu dari enam spesies kambing hutan di Asia bagian Timur. Di Indonesia, habitat dari satwa dilindungi ini berada di daerah hutan pegunungan di dataran tinggi Sumatra.

Status konservasi kambing langka ini diyakini rentan karena mengalami penurunan yang signifikan. Sebanyak lebih dari 30 persen sejak 21 tahun terakhir populasinya menurun akibat perburuan maupun hilangnya habitat. Organisasi IUCN memberikan kambing ini dengan label Rentan/Vulnerable (VU) pada tahun 2019.

Perawakan kambing hutan ini terihat seperti kambing pada umumnya, namun memiliki tubuh lebih kekar dan tertutup rambut lebat yang kasar serta memiliki moncong seperti kerbau. Warna hitam keabuan menjadi ciri khas dari si tangguh ini. Di kepalanya terdapat tanduk melengkung dan ramping seperti antelop dengan panjang 12-6 cm. Berat badannya antara 30 hingga 45 kg baik jantan maupun betina dan memiliki panjang badan antara 140-180 cm. Saat dewasa, tingginya mencapai 85-94 cm.

Baca juga: Kodok Merah, Satu-satunya Amfibi Dilindungi di Indonesia

Musim kawin satwa ini berlangsung pada bulan Oktober sampai November dengan masa kehamilan selama 7 bulan dan satu ekor induk Kambing hutan sumatra dapat melahirkan satu ekor anak.

Karena dikarunai tubuh yang kekar, si tangguh ini mampu memanjat tebing tinggi yang pada manusia harus diperlukan tali untuk memanjat. Kemampuan ini membuatnya dapat hidup di ketinggian antara 200 hingga 3.000 di atas permukaan laut (mdpl). Usia maksimal yang dapat dicapai oleh betina maupun jantan sekitar 20 hingga 22 tahun. Mereka termasuk perenang handal walaupun lebih banyak menghabiskan waktunya di darat utamanya di dataran tinggi.

BACA JUGA:
Kabur 4 Bulan, Dua Pembunuh Gajah Sumatra Akhirnya Tertangkap

Selain di Indonesia, Kambing Hutan Sumatra juga dapat ditemukan di daerah semenanjung Thailand-Malaysia. Satwa ini hidup secara soliter atau senang hidup sendiri terutama pada Kambing Hutan jantan, walaupun sebagian kecil juga ada yang hidup secara berkelompok. Selain itu satwa ini juga salah satu satwa teritorial yang menandai wilayahnya dengan kotoran. Makanan mereka berupa dedaunan dan rerumputan.

Di tahun 2008 tepatnya di Malaysia diperkirakan hanya tersisa antara 500 hingga 750 ekor kambing hutan Sumatera. Di Indonesia tidak di ketahui berapa jumlah Capricornis sumatraensis persisnya. Kelangkaan yang terjadi disebabkan oleh beberapa faktor seperti adanya pembangunan di wilayah hidup Si tangguh ini, selain itu adanya penambangan dan penebangan kayu di hutan yang tentunya akan merusak habitat mereka.

Satwa ini juga tidak luput dari incaran para manusia sebagai objek buruan, karena diketahui bahwa tanduk dari kambing hutan ini berfungsi sebagai obat obatan dan dagingnya untuk dikonsumsi. Pada bulan September lalu, di Bengkulu seorang pelaku kepemilikan tanduk Kambing Hutan telah ditangkap oleh petugas dan terancam terjerat Pasal 40 ayat (2) jo. Pasal 21 ayat (2) Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Konservasinya. Pelaku diancam kurungan penjara selama 5 tahun dan denda 100 juta.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments