Kenapa Orangutan Menyeberang Jalan?

  • Share
Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus). | Foto: Andy Holmes/Unsplash
Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus). | Foto: Andy Holmes/Unsplash

Gardaanimalia.com – Kenapa ayam menyeberang jalan? Pertanyaan ini adalah lelucon yang sering terdengar di kalangan anak-anak.

Namun, teka-teki ringan ini jadi pertanyaan yang serius ketika kita melihat peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu, saat sebuah video beredar di internet menunjukkan seekor orangutan berusaha menyeberangi salah satu segmen jalan antarprovinsi di Kalimantan Timur.[1]Saefudin. 2021. “Diduga Kuat Terusik dan lapar, Orangutan Menyeberangi Jalan di Kutai”. Garda Animalia.

Kenapa orangutan menyeberang jalan? Mencari makanan? Mencari pasangan? Ingin kembali ke rumahnya? Banyak orang membuat dugaan dan spekulasi, tapi tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti.

Yang diketahui hanyalah bahwa orangutan itu tidak jadi menyeberang. Jalanan terlalu ramai dan tidak ada satu kendaraan pun yang mau memberikan ruang untuk sang orangutan lewat.

Kisah orangutan ini merupakan salah satu kasus konflik antara manusia dan hewan liar atau HWC (human-wildlife conflict) yang masih terbilang aman. Pada kasus-kasus yang lain, konflik ini menghasilkan banyak kerugian.

Di desa-desa di Pulau Jawa, gerombolan Macaca mencuri hasil panen para petani. Di Aceh, kawanan gajah sumatera mengamuk dan memorakporandakan kebun sawit warga.

Di Riau, orang-orang diserang harimau yang kelaparan karena jumlah mangsanya yang semakin berkurang dan habitatnya yang semakin menyempit.

Penelitian oleh Rifaie dkk. (2021) menunjukkan total kejadian HWC yang tercatat di dalam artikel ilmiah dari tahun 1993-2020.

Jumlah kasus HWC yang tercatat pada artikel ilmiah di tahun (a) 1993–2010 dan (b) 2011–2020. Intensitas konflik tertinggi di daerah Sumatera, khususnya Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. | Sumber: Rifaie dkk., 2021
Jumlah kasus HWC yang tercatat pada artikel ilmiah di tahun (a) 1993–2010 dan (b) 2011–2020. Intensitas konflik tertinggi di daerah Sumatera, khususnya Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. | Sumber: Rifaie dkk., 2021

Kasus HWC membawa berbagai efek negatif bagi manusia, mulai dari ternak yang diterkam, penjarahan kebun, hingga penyerangan. Efek ini kemudian akan menurunkan toleransi komunitas lokal terhadap hewan liar.

Apa yang terjadi ketika toleransi turun? Masyarakat akan menganggap hewan liar sebagai musuh dan mulai memburunya.

Dampaknya, hewan melihat manusia sebagai ancaman dan menjadi semakin agresif. Hubungan seperti ini hanya akan berakibat pada semakin banyak konflik. Ujungnya, yang terjadi adalah krisis ekologi dan kepunahan spesies.

HWC bekerja seperti mesin pembunuh yang ditenagai oleh rasa takut dan ketidakpercayaan.

BACA JUGA:
Tersangka Jual Beli Orangutan Dibebaskan, TOM Dinilai Kooperatif

Konflik yang Telah Ditakdirkan

Tidak mengejutkan kalau kasus HWC berbuah subur di Indonesia. Negara ini adalah sebuah biodiversity hotspot, surga keanekaragaman hayati di mana 17% dari spesies liar dunia menyebut hutan hujan Indonesia sebagai rumah.[2][2]von Rintelen, K., Arida, E., dan Hâuser, C. 2017.”A review of biodiversity-related issues and challenges in megadiverse Indonesia and other Southeast Asian countries”. Research Ideas and … Continue reading[3]Profauna. 2003. Facts about Indonesian Wildlife.

Di antara hewan-hewan ini adalah spesies megafauna, yang di antaranya meliputi gajah sumatera, harimau sumatera, macan tutul jawa, beruang madu, dan orangutan.

Mereka adalah beberapa di antara spesies yang paling terkenal, namun juga yang paling mampu membuat kerusakan karena ukuran dan kekuatannya.

Spesies megafauna yang kerap berkonflik sama manusia, gajah sumatera. | Foto: Silver Ringvee/Unsplash
Spesies megafauna yang kerap berkonflik sama manusia, gajah sumatera. | Foto: Silver Ringvee/Unsplash

Di lain sisi, Indonesia merupakan negara dengan penduduk sebanyak 273 juta jiwa dengan kebutuhan untuk papan dan pangan yang juga semakin meninggi.

Bertambahnya jumlah kasus HWC secara substansial diakibatkan karena peningkatan kebutuhan tersebut. Bertambahnya kebutuhan papan dan pangan berarti bertambah luasnya pembangunan infrastruktur dan agrikultur.

HWC umumnya terjadi di perbatasan di mana permukiman dan perkebunan mulai menerobos masuk ke dalam hutan alam.

Oleh karena itu, orang-orang yang paling rentan adalah komunitas lokal dan pegawai lapangan dari berbagai perusahaan.

Hewan liar kerap kali secara tidak sengaja masuk ke wilayah manusia ketika mereka mencari makan dan sarang.

Hal ini sering terjadi di Sumatera dan Kalimantan, di mana bisnis perhutanan dan perkebunan milik perusahaan multinasional maupun perorangan bertetangga dengan wilayah hutan primer, bahkan kadang-kadang beririsan.

Sebagian besar konflik hewan liar, serangan harimau sumatera dan gajah sumatera terjadi di sekitar perbatasan tersebut.

Warga lokal juga sering masuk ke habitat hewan di dalam zona konservasi. Kegiatan ini tentu merupakan hal yang ilegal, namun mereka tidak punya banyak pilihan.

Warga yang sengaja masuk biasanya didorong oleh keterpaksaan untuk berkebun pada daerah yang masih kosong. Warga juga sering tidak sengaja masuk karena tidak ada batas tegas di antara zona perkebunan dan konservasi.

BACA JUGA:
Perdagangan Ilegal Satwa Liar Marak Dijumpai, Ini Penyebab Utamanya

Semua hal ini berakibat pada semakin menyempitnya habitat hewan liar. Ketika habitat hewan liar menyempit, potensi konflik HWC akan meningkat secara berlipat ganda.

Usaha untuk Hidup Bersama

Respon warga terhadap kasus HWC acap kali didasari oleh rasa takut dan rasa ingin balas dendam. Metode-metode fatal seperti penggunaan perangkap jerat, senapan, atau racun adalah hal yang sangat umum.[4][4]Belecky, M., Gray, T.N.E. 2020. Silence of the Snares: Southeast Asia’s Snaring Crisis. WWF International, 45 hal.

Aksi berbahaya ini adalah hasil manajemen konflik yang ceroboh tanpa melihat pendekatan yang terintegrasi dan holistik. Di mana hanya akan memperburuk keadaan konflik.

Salah satu spesies megafauna yang sering berkonflik sama manusia, macan tutul jawa (Panthera pardus melas). | Foto: Gwen Weustink/Unsplash
Salah satu spesies megafauna yang sering berkonflik sama manusia, macan tutul jawa (Panthera pardus melas). | Foto: Gwen Weustink/Unsplash

Lebih jauh lagi, manajemen yang ceroboh akan dirumitkan dengan adanya kepentingan sosial, ekonomi, dan politik. Setiap kelompok berselisih tentang berbagai pertanyaan: siapa pihak yang harus bertanggung jawab?

Siapa yang akan memberikan kompensasi dari kerusakan? Siapa yang sebenarnya jadi korban? Hingga akhirnya, masalah ekologi berubah jadi masalah sosioekonomi.

Maka, seperti apakah pendekatan konflik yang terintegrasi dan holistik? Konsep ini diusung dalam laporan WWF yang mendiskusikan cara paling efektif untuk memanajemen kasus HWC.[5]Gross, E., Jayasinghe, N., Brooks, A., dkk. 2021. A Future for All: The Need for Human-Wildlife Coexistence. Gland: WWF, 102 hal.

Dijelaskan bahwa terdapat enam aspek yang perlu dipertimbangkan ketika berhadapan dengan kasus HWC, yaitu pemahaman tentang konflik, mitigasi, respon, pencegahan, peraturan, dan pemantauan.

Penyatuan keenam aspek ini disebut sebagai pendekatan yang terintegrasi.

Di lain sisi, pendekatan yang holistik adalah pendekatan yang mempertimbangkan seluruh pihak yang terlibat dalam suatu konflik.

Sistem fungsional apa saja yang berada di sekitar lokasi kepentingan? Apakah hanya masyarakat lokal? Adakah perusahaan di dalamnya? Adakah rencana konservasi yang telah berjalan?

Apa masukan dari pihak yang paling rentan terhadap konflik? Bagaimana lanskap dinamika sosial di tempat tersebut? Dan masih banyak lagi.

BACA JUGA:
Bencana yang Terjadi Jika Serangga Punah dari Muka Bumi

Maka, pendekatan yang terintegrasi dan holistik adalah pendekatan yang mencakup seluruh metode yang esensial serta mempertimbangkan seluruh aktor yang bekerja.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah bahwa pendekatan ini berpusat pada manajemen manusia, bukan pada hewan liar.

Manajemen yang berpusat pada hewan liar hanya akan menguntungkan manusia tanpa melihat kelestarian hewan yang terdampak.

Masa Depan Konflik

Indonesia masih punya banyak megaproyek berskala nasional. Semuanya masih bergantung kepada pembukaan lahan kosong yang meliputi ekosistem alami.

Maka, pengaplikasian manajemen kasus HWC yang terintegrasi dan holistik di dalam perencanaan pembangunan merupakan hal yang krusial. Perlu ditekankan bahwa konsep ini tidak akan menyelesaikan seluruh konflik.

HWC merupakan konsekuensi dari kompetisi terhadap sumber daya, yang salah satunya ruang hidup. Tapi, dengan manajemen yang baik, konflik ini dapat diredam secara signifikan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia butuh ruang hidup, namun jangan sampai pemenuhan kebutuhan ini justru membuat konflik dengan alam yang berkepanjangan.

Kata kuncinya adalah koeksistensi: bagaimana caranya berbagi ruang dengan meminimalisasi gangguan bagi hewan liar maupun manusia.

Ketika koeksistensi diabaikan, kita bisa melihat hasilnya dari pertanyaan awal tulisan ini. Kenapa orangutan menyeberang jalan? Karena jalanan memotong hutan duluan.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments