Konflik Buaya Tinggi, BKSDA Kalteng Imbau Masyarakat Tak Buang Sampah ke Sungai

  • Share
Konflik Buaya Tinggi, BKSDA Kalteng Imbau Masyarakat Tak Buang Sampah ke Sungai
Pemasangan jerat oleh BKSDA. Foto: Antara/HO-BKSDA Pos Sampit

Gardaanimalia.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah mencatat sebanyak 11 kali serangan buaya terjadi sepanjang tahun 2020. Komandan Jaga BKSDA Kalteng Pos Sampit, Muriansyah, menyebutkan selama bulan Januari hingga Juni 2020 sudah ada empat kasus serangan buaya di perairan sungai Desa Handil Sohor. Konflik ini menyebabkan dua orang mengalami luka-luka.

Muriansyah menambahkan kasus serangan juga terjadi di perairan sungai Desa Lampuyang pada Maret 2020. Total ada dua kasus serangan dengan dua korban yang terluka.

Pada bulan September 2020, peristiwa serupa kembali terjadi. Ada dua kasus serangan buaya di daerah perairan muara sungai Desa Lampuyangan. Dua korban juga mengalami luka-luka. Di lokasi yang sama, terjadi serangan lagi pada Oktober 2020. Satu korban yang digigit buaya mengalami luka di tangan dan kakinya.

Akhir tahun 2020, daftar kasus serangan buaya kembali bertambah. Dua serangan terjadi di perairan sungai Desa Bagendang Hulu dan di Sungai Hambawang, Desa Ganepo, Kecamatan Seranau.

Menurut Muriansyah, munculnya buaya hingga ke dekat pemukiman dikarenakan buaya kesulitan mendapat makanan di hutan atau habitat aslinya.

Baca juga: Selamatkan Satwa Lewat Pendidikan Konservasi Sejak Dini

“Selain makan sampah bangkai binatang yang dibuang ke sungai, buaya juga mengincar ternak yang dikandangkan di dekat sungai,” jelas Muriansyah, dilansir dari Antara, Rabu (6/1/2021).

Atas peristiwa ini, Muriansyah mengimbau agar masyarakat tidak lagi membuang sampah ke sungai. Tindakan ini dikhawatirkan dapat menjadi pemicu buaya datang.

“Kami minta masyarakat jangan membuang sampah ke sungai, khususnya bangkai binatang, seperti ayam, tikus, dan lainnya. Itu menjadi makanan buaya sehingga itu juga yang memancing buaya banyak menyasar ke permukiman warga,” paparnya.

BACA JUGA:
Memburu dan Menjual Sisik Trenggiling, Dua Lelaki Paruh Baya Diamankan Polisi

BKSDA juga memasang papan imbuan di titik-titik yang dinilai rawan. Papan itu untuk mengingatkan masyarakat agar lebih waspada dan berhati-hati. Terlebih, buaya biasanya akan semakin agresif di akhir tahun hingga awal tahun karena itu adalah masa kawin.

“Akhir tahun yaitu Oktober, November, dan Desember, serta pada awal tahun, yaitu Januari, Februari, dan Maret, biasanya merupakan masa kawin dan bertelur buaya. Itu yang menyebabkan buaya semakin agresif,” papar Muriansyah.

Selain melalui imbauan, BKSDA Kalteng juga berupaya untuk menangkap buaya tersebut. BKSDA sudah memasang jerat dengan umpan ayam dan bebek.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments