Konflik Tak Berujung Antara Gajah Sumatera dengan Masyarakat di Lampung

Konflik Tak Berujung Antara Gajah Sumatera dengan Masyarakat di Lampung
Penggiringan sekawanan gajah sumatera masuk ke kawasan Taman Nasional. Foto: Suyitno, Tim Elephant Patrol

Oleh: Hasna Afifah, Kontributor Garda Animalia


Gardaanimalia.com – Sekawanan gajah sumatra liar sejumlah 23 ekor lagi-lagi memasuki perkebunan warga. Kali ini, kebun pisang di Sumberejo yang berjarak 500 meter dari resort Pemerihan, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung menjadi targetnya.

Dering telfon pada perangkat seluler salah seorang Mahout (sebutan untuk pawang gajah) menghentikan perbincangan hangat kami di Resort Pemerihan, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Gajahe mlebu maning maring kebon Sumberejo,” ucap Sumarni, salah seorang mahout Taman Nasional.

Dengan tangkas, 8 orang Mahout segera men-starter motor mereka dan bergegas menuju lokasi konflik. 15 menit kemudian, DORR! Terdengar bunyi petasan, tanda penghalauan gajah liar telah dilakukan.

Ini bukan yang pertama kali. Terhitung sejak hari pertama kami, Mahasiswa Jurusan Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Bandung, ditempatkan untuk Kerja Praktik di Resort Pemerihan TNBBS tanggal 21 Juli 2020, sudah sembilan kali kawanan gajah liar ini menghancurkan perkebunan masyarakat setempat.

Menurut para Mahout disini, ada dua kawanan gajah yang seringkali berkonflik. Kawanan gajah pertama berjumlah 23 ekor, dipimpin oleh gajah betina tertua yang oleh pihak Taman Nasional diberi nama Citra, dan kawanan lainnya berjumlah 12 ekor dipimpin gajah yang biasa disebut Bunga.

Masing-masing Bunga dan Citra dipasangi GPS Collar untuk mempermudah pihak Taman Nasional melacak keberadaan dua kelompok gajah tersebut. Mahout-mahout yang tergabung dalam Tim Elephant Patrol TNBBS kemudian dibekali aplikasi Lokus pada perangkat seluler mereka untuk melihat posisi gajah liar ini.

Makan Hasil Kebun Warga

Penasaran, kami akhirnya memutuskan untuk mencari informasi lebih lanjut terkait penyebab konflik gajah liar dengan masyarakat. Kami mendatangi tiga kebun masyarakat dengan komoditas yang berbeda: jagung, jeruk, dan pisang di Pemerihan, tepat berbatasan dengan kawasan TNBBS. Tujuannya untuk mengetahui pengaruh komoditas kebun terhadap keluarnya gajah dari kawasan.

BACA JUGA:
Habitat Terancam Picu Konflik Satwa dengan Warga di Jambi

“Gajah selalu lewat kebun ini. Jeruknya sih nggak dimakan, tapi gajah-gajahnya kan ngerusak kebun, nginjek-nginjek pohon,” kata Sopan, pemilik kebun jeruk di tepi kawasan.

Para pemilik kebun yang kami wawancarai mengatakan gajah hanya memakan jagung, pepaya, dan pisang. Sedangkan kebun-kebun lainnya seperti kebun jeruk dan kopi hanya dilewati saja oleh kawanan gajah tanpa dimakan bagian pohonnya. Walau begitu, tampaknya tidak ditemukan banyak korelasi antara komoditas perkebunan dengan keluarnya gajah.

“Gajah pasti bakal lewat kebun yang itu-itu aja. Mau itu kopi, jeruk, coklat, atau jagung. Bedanya kalau pas mereka lewat kebun jagung, jagungnya dimakan, kalau kopi enggak,” menurut Supriadi, seorang mahout yang juga merupakan pemilik kebun di tepi kawasan.

Menurutnya, masyarakat sini sudah bisa menduga kapan gajah akan lewat lagi ke kebun mereka. Tandanya terlihat dari feses gajah. Apabila feses di kebun itu sudah berjamur, artinya sebentar lagi gajahnya akan datang.

Baca juga: Kabur 4 Bulan, Dua Pembunuh Gajah Sumatra Akhirnya Tertangkap

Jalur Jelajah Gajah Tergusur

Wawancara-wawancara yang telah kami lakukan selanjutnya membawa pada suatu kesimpulan terkait penyebab gajah sumatera yang selalu berkonflik dengan masyarakat, yaitu keberadaan kebun masyarakat yang berada pada wilayah jelajah atau home range dari kelompok gajah liar. Home range adalah suatu area yang secara normal digunakan untuk berbagai aktivitas satwa, termasuk ruang yang dipertahankan dari ancaman satwa lain.

“Walau sudah bertahun-tahun vegetasinya berubah, tapi gajah akan selalu hafal dengan jalur jelajahnya,” ucap Roma Purwata, polisi hutan penyelia Resort Pemerihan TNBBS.

Konflik gajah dengan masyarakat diduga disebabkan adanya tumpang tindih kebutuhan ruang antara kebun masyarakat dan habitat alami gajah. Dulunya, kebun masyarakat di Pemerihan, Bengkunat ini merupakan hutan alam tempat hidup gajah. Sayangnya, karena program transmigrasi yang dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1960-an, masyarakat dari Jawa datang dan mulai merambah hutan, menjadikannya sebagai tempat tinggal. Terlebih setelahnya pertambahan penduduk terus meningkat dan menyebabkan kebutuhan akan lahan, khususnya pertanian, juga ikut bertambah. Habitat alami gajah pun semakin berkurang.

BACA JUGA:
Warga Minta BKSDA Giring Gajah Sumatera ke Rimba

“Tahun 1980-an, konflik gajah jauh lebih sering dan berbahaya dibanding sekarang. Dulu rumah-rumah dihancurkan, beberapa warga tewas dibunuh gajah. Gajah juga beberapa kali mati diracun warga yang kesal. Jadi mereka punya hubungan yang saling merugikan. Itu karena pemukimannya berada di wilayah jelajah utama gajah, di hutan. Akhirnya pada tahun 1998 pemukiman warga dipindah ke tepi kawasan, ya di tempat yang sekarang ini. Sekarang gajah sudah tidak merusak rumah warga lagi, paling ya kebun,” ucap Roma Purwata.

Konflik Gajah dan Manusia

Sejak pertama kali masyarakat merambah hutan pada tahun 1960-an, konflik gajah dengan masyarakat memang sudah sering sekali terjadi di Pulau Sumatera. Konflik ini jumlahnya bervariasi tiap tahunnya. Di Sumatera bagian utara misalnya, BKSDA Aceh mencatat pada 2017 ada 103 kasus, 2018 ada 71 kasus, dan 2019 ada 109 kasus. Pun di Sumatera bagian selatan, angkanya tidak jauh berbeda.

Berbagai kegiatan penghalauan gajah sumatera liar dari kebun masyarakat seringkali dilakukan, mulai dari blokade hingga penggiringan gajah masuk kembali ke kawasan. Pada tahun 2018 dan 2019, terhitung terjadi lebih dari 100 kali konflik gajah yang ditangani oleh Tim Elephant Patrol TNBBS. Diantaranya yang paling lama dilakukan adalah pada bulan November 2019, penggiringan dilakukan dari kebun masyarakat di Rowo Rejo, Kabupaten Suoh kembali ke kawasan di Pesisir Barat, Lampung. Penggiringan gajah ini dilakukan selama hampir satu bulan.

Adanya aktivitas manusia juga menyebabkan terjadi perubahan perilaku gajah liar dari tahun ke tahun. Metode blokade dan penggiringan gajah yang dulunya cukup menggunakan api unggun atau obor kini berubah jadi harus menggunakan mercon.

“Api udah nggak mempan lagi,” ujar Pak Roma.

BACA JUGA:
Setrum Gajah Hingga Mati, Seorang Petani Asal Aceh Ditangkap Polisi

Satwa Terancam Punah

Bagaimanapun, gajah sumatera (Elephas maximus sumatrenus) yang digolongkan dalam kategori terancam (Endanger) oleh IUCN Red List merupakan spesies yang dilindungi. Keberadaannya sebagai spesies kunci untuk penyebaran benih (seed dispersal) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menjadikan upaya konservasi dan mitigasi konflik gajah penting untuk dilakukan.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang memiliki luas kawasan sekitar 324.000 hektare merupakan kawasan yang ditujukan untuk melindungi keanekaragaman hayati dari hutan hujan tropis Pulau Sumatra. UNESCO menjadikan Taman Nasional ini sebagai Warisan Dunia yang perlu untuk dilindungi.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments