Lagi, Ratusan Burung Diselundupkan! 90 Ekor di Antaranya Satwa Dilindungi

  • Share
Sebanyak 90 ekor burung dilindungi dan 32 ekor satwa tak dilindungi berhasil diamankan dari upaya penyelundupan. | Foto: Dok. BKSDA Kalteng
Sebanyak 90 ekor burung dilindungi dan 32 ekor satwa tak dilindungi berhasil diamankan dari upaya penyelundupan. | Foto: Dok. BKSDA Kalteng

Gardaanimalia.com – Ratusan burung liar di antaranya satwa endemik Kalimantan Tengah yang gagal diselundupkan akhirnya tiba di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, Selasa (8/2).

Sebelumnya, lebih dari seratus burung tersebut digagalkan oleh Balai Penegakan Hukum LHK Wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara bersama Balai Besar Karantina Pertanian Kota Surabaya di Pelabuhan Paciran, Lamongan.

Usai melalui proses translokasi dan beberapa tahapan lainnya, ratusan satwa liar itupun langsung diberangkatkan kembali menuju Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Menurut penuturan Nur Patria, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng, kejadian tersebut bermula ketika petugas gabungan melakukan penangkapan terduga pelaku yang diketahui mengangkut sebanyak 122 ekor burung.

“Jadi ratusan ekor burung tersebut dikirim dari Kalteng melalui Pelabuhan Bahaur, Kabupaten Pulang Pisau menggunakan kapal perintis untuk dikirimkan ke seseorang yang ada di Jatim,” ungkapnya, Rabu (9/2).

Adapun jenis burung yang disita, 90 ekor di antaranya merupakan burung dilindungi dan 32 lainnya merupakan satwa lair yang tidak dilindungi.

Sebanyak 122 ekor burung tersebut terdiri dari tiong emas (Gracula religiosa) 11 ekor, cica daun besar (Chloropsis sonnerati) 14 ekor, tangkar ongklet (Platylophus galericulatus) 2 ekor, anis kembang (Zoothera interpres) 11 ekor, dan kucica hutan (Copsychus malabaricus) 5 ekor.

Selain itu, ada kacamata biasa (Zosterops melanurus) 11 ekor, sikatan cacing (Cyornis banyumas) 8 ekor, merbah belukar (Pycnonotus plumosus) 14, serindit melayu ( Loriculus galgulus) 44 ekor, dan perling kumbang (Aplonis panayensis) 2 ekor.

Dari semua satwa yang dikirim, Patria mengungkapkan bahwa tidak semuanya tiba di Palangka Raya dalam keadaan hidup. Hal itu dikarenakan perjalanan satwa melalui jalur udara.

“Tapi memang namanya yang naik pesawat ada yang mati ya, ada sekitar 4 ekor yang mati. Tetapi tetap kita lakukan BAP atau serah terima,” jelasnya.

BACA JUGA:
Penyelundupan 1.752 Burung Digagalkan Gakkum LHK

Ia juga menjelaskan bahwa maraknya penyelundupan burung yang berasal dari Kalteng itu sebagian besar diduga karena adanya permintaan konsumen.

“Yang pasti kalau jenis-jenis burung yang diselundupkan itu pasti karena ada permintaan, misalnya ada tertarik karena kicau, warna dan sebagainya. Karena tidak mungkin burung itu dibawa kesana kalau tidak ada permintaan atau nilai ekonomi,” kata Patria.

Selama ini, lanjutnya, penyelundupan yang dilakukan biasa menggunakan kapal-kapal perintis melalui pelabuhan kecil yang jarang dideteksi atau dilakukan pemeriksaan oleh petugas.

“Kalau untuk bandara dan pelabuhan umum sudah dapat dipastikan ada petugas yang mengawal. Namun, penyelundupan sering kali dilakukan di pelabuhan kecil yang belum ada petugas,” imbuh Kepala BKSDA Kalteng.

Berkaitan dengan satwa liar yang telah diterima oleh pihaknya, Patria mengatakan bahwa satwa tersebut akan dikembalikan ke habitatnya di Bukit Kalaweit di Tangkiling.

“Rencana besok akan kami lepas liarkan di Bukit Kalaweit, di Tangkiling. Untuk itu kita diamkan dulu sehari di BKSDA Kalteng, agar burung ini tidak stres usai dikirim melalui pesawat,” tutupnya.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments