Lima Kematian Gajah yang Membuat Gempar di Tahun 2021

  • Share
Gambar anak gajah liar betina yang terkena jerat saat berada di klinik sebelum proses pengobatan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, Aceh, Senin (15/11/2021). Satwa langka ini kini telah mati. | Foto: Syifa Yulinnas/Antara
Gambar anak gajah liar betina yang terkena jerat saat berada di klinik sebelum proses pengobatan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, Aceh, Senin (15/11/2021). Satwa langka ini kini telah mati. | Foto: Syifa Yulinnas/Antara

Gardaanimalia.com – Tahun 2021 telah usai, banyak kejadian terkait satwa liar dilindungi yang terjadi. Mulai dari pemeliharaan, perdagangan hingga pembunuhan.

Beberapa kejadian yang tak mengenakan tersebut juga menimpa Elephas maximus sumatrensis atau yang lebih dikenal dengan sebutan gajah sumatera.

Menurut data yang dirilis Balai Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum KLHK) Wilayah Sumatera, terdapat  528 kasus konflik antara manusia dengan gajah dari rentang waktu 2015 hingga 2021.

Rincian dari kasus-kasus tersebut yaitu, 49 kasus pada 2015, 44 kasus pada 2016, 103 kasus pada 2017, 73 kasus pada 2018, 107 kasus pada 2019 serta 130 kasus pada 2020.

Sedangkan, dari Januari sampai dengan Agustus 2021 terdapat 22 kasus. Dan untuk di wilayah Aceh sendiri terdapat 46 kasus kematian gajah sumatera liar dalam kurun waktu 2015-2021.

Sementara itu, berdasarkan data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, terdapat tujuh kematian gajah sepanjang tahun 2021 khususnya di wilayah provinsi paling barat di Indonesia tersebut.

Dari tujuh kematian gajah tersebut, saya mencoba merangkum lima kematian gajah yang membuat gempar dan terjadi di Aceh sepanjang tahun 2021.

Pertama, seekor gajah liar berjenis kelamin betina yang berusia 10 tahun ditemukan mati di Dusun Timbang Rasa, Gampong Blang Rakan, Kecamatan Pinto Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.[1]https://gardaanimalia.com/dugaan-sementara-gajah-sumatera-mati-karena-keracunan/

Berdasarkan hasil nekropsi yang dilakukan secara makroskopis oleh BKSDA dan Pusat Kajian Satwa Liar (PKSL) Universitas Syiah Kuala, diduga gajah tersebut mati keracunan pupuk.

Pasalnya terdapat gubuk milik warga yang hancur berjarak 100 meter dari gajah sumatera yang ditemukan mati tersebut, serta terdapat pupuk yang tercecer.

BACA JUGA:
Ketika Penangkaran Menjadi Sarang Perdagangan Ilegal

Tak hanya itu, terlihat pula perubahan pada usus hemoragi (perdarahan), jantung hancur, dan lidah membiru saat dilakukan makroskopis, sebuah pengujian atau pengamatan dengan menggunakan mata telanjang tanpa bantuan mikroskop.

Kedua, seekor bayi gajah yang sempat diselamatkan usai terjebak kubangan lumpur pada 10 Februari 2021 di kawasan hutan Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh.[2]https://www.mongabay.co.id/2021/03/03/inong-bayi-gajah-sumatera-yang-terjebak-di-kubangan-itu-mati/

Gajah bernama Inong tersebut tak mampu bertahan dan akhirnya mati pada 3 Maret 2021.

Usia Inong sendiri diperkirakan belum genap sebulan. Ia terpisah dari koleganya setelah ikut mandi di kubangan air bersama induk dan kawanan gajah sumatera lainnya.

Berdasarkan pemeriksaan, kaki kiri depan Inong mengalami dislokasi. Sedangkan kaki belakangnya mengalami kelumpuhan sehingga ia tak mampu berdiri.

Kemudian, pada bagian bola mata sebelah kiri anak gajah sumatera tersebut terdapat luka meskipun sempat berangsur membaik.

Ketiga, seekor gajah berusia 10 tahun ditemukan mati dengan kaki terjerat tali di Desa Alue Meuraksa, Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya pada Jumat (5/3).[3]https://kabar24.bisnis.com/read/20210306/79/1364651/kasihan-ternyata-penyebab-gajah-mati-di-aceh-akibat-infeksi-terjerat-tali-sling

Diduga gajah sumatera tersebut terkena jebakan jerat sehingga ia tak mampu bertahan lantaran tak dapat mencari makan.

Berdasarkan haris nekropsi secara makro, gajah itu terlihat sangat kurus dan jaringan bawah kulitnya sangat kering. Kondisi tersebut pun memperburuk kondisi imun satwa dilindungi tersebut hingga akhirnya mati.

Keempat, seekor gajah ditemukan mati tanpa kepala di area perkebunan sawit di Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, Aceh.[4]https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210712114934-20-666416/seekor-gajah-mati-tanpa-kepala-di-perkebunan-sawit-aceh

Diduga gajah itu sengaja dipotong kepalanya guna mempermudah perampasan gading dari satwa langka tersebut. Sebelum dipotong kepalanya, gajah tersebut terlebih dahulu dirancun oleh pelaku yang berjumlah lima orang.

Kelima, seekor anak gajah berusia satu tahun ditemukan terjerat belalainya di kawasan hutan Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh, lalu mati setelah dua hari dirawat di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar.[5]https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2021/anak-gajah-yang-belalainya-putus-karena-jerat-pemburu-akhirnya-mati/

Belalai satwa liar itupun sempat diamputasi sebagai upaya penyelamatan lantaran bekas terjerat. Belalai yang nyaris putus tersebut membuat anak gajah itu kurus karena kesulitan untuk makan.

BACA JUGA:
Refleksi: Menjaga Hayati, Merayakan Hari Strategi Konservasi

Demikian kelima kematian gajah yang terjadi sepanjang tahun 2021. Diharapkan tidak ada lagi konflik antara gajah dengan manusia terlebih mengakibatkan adanya korban, baik itu manusia atau gajah.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments