Lumba-lumba Tak Bersirip, Si Mamalia Laut yang Nasibnya Kian Memprihatinkan

  • Share
Lumba-lumba Tak Bersirip, Si Mamalia Laut yang Nasibnya Kian Memprihatinkan
Lumba-lumba tak bersirip (Neophocaena phocaenoides). Foto: Wikipedia

Gardaanimalia.comNeophocaena phocaenoides atau lumba-lumba tak bersirip (Indo-Pasific Finless Porpoise), merupakan salah satu jenis lumba-lumba dari famili Phocoenidae, ordo Cetacea dan subordo Odontoceti. Hewan ini tergolong Rentan (Vulnerable) dalam daftar merah IUCN. Tren populasinya menurun dan termasuk dalam daftar Apendiks I berdasarkan CITES. Di Indonesia, lumba-lumba tak bersirip masuk dalam jenis satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

Morfologi dan Sebaran

Hewan ini memiliki bentuk tubuh yang tidak terlalu besar dengan panjang 1,5 – 2 meter dan berat sekitar 120 kilogram. Seperti namanya, lumba-lumba ini tidak mempunyai sirip di bagian punggungnya, namun ada bubung punggung yang rendah dan sempit. Lumba-lumba ini juga tidak punya moncong dengan sirip dada lebar yang meruncing pada bagian ujung. Matanya bulat berwarna hitam dan bentuk ekornya agak lebar dengan ujung tepi yang cekung.

Lumba-lumba jenis ini didominasi warna abu-abu dan warna abu pucat pada bagian tenggorokan dan kelamin. Belum banyak diketahui apa makanannya. Namun, diduga lumba-lumba tak bersirip memakan cumi-cumi kecil, udang dan sepia kecil serta beberapa jenis ikan lainnya.

Baca juga: Jenis Rusa dan Kijang Langka yang Hidup di Indonesia

Pada umumnya, hewan ini tersebar di perairan pesisir yang dangkal (di bawah 50 meter) dan beberapa muara sungai di sekitar tepi utara Samudra Hindia. Bisa juga dijumpai di Samudra Pasifik barat dari Laut Persia ke arah timur di sekitar tepian Samudra Hindia hingga wilayah Indo-Melayu dan Indonesia, dan ke arah utara ke Selat Taiwan dan perairan Cina tengah. Di Indonesia, lumba-lumba tak bersirip ini tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Maluku, Papua, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Timor.

Ancaman yang Dihadapi

Lumba-lumba tak bersirip juga tidak luput dari ancaman tangkapan sengaja dan juga bycatch atau tangkapan tidak sengaja. Hewan ini sering ditangkap dengan sengaja menggunakan jaring insang, pukat, gillnet dan alat tangkapan lainnya di perairan pantai Iran, India, Pakistan, Malaysia, dan China. Terdapat banyak kasus mengenai penangkapan hewan ini, salah satunya yang terjadi di perairan China pada awal tahun 1990. Saat itu penangkapan dilakukan dengan menggunakan lebih dari 3,5 juta jaring insang. Di Malaysia Timur, diduga spesies ini mengalami penurunan populasi akibat dari bycatch dan penangkapan ikan secara komersil yang intensif di Semenanjung Malaysia.

Selain tangkapan, ancaman yang dihadapi oleh spesies ini yaitu degradasi habitat pesisir pantai, lalu lintas kapal dan juga polusi meliputi limbah industri, militer, pertanian dan kehutanan. Di perairan Thailand, hewan ini mengalami penurunan populasi atau menghilang akibat dari degradasi habitat dan bycatch. Pada tahun 1980-an dan 1990-an terdapat kematian dua spesies ini yang diduga akibat dari tumpahan minyak besar di Teluk Persia/Arab. Selain itu pada tahun 1970-an di Pakistan, spesies ini terlihat mengalami penurunan populasi, dan pada tahun 1990-an spesies ini hampir menghilang dari daerah yang terdegradasi ini. Bahkan, di beberapa daerah, daging lumba-lumba tak bersirip dikonsumsi sebagai makanan.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments