Mendengarkan Musisi Hutan, Menyaksikan Owa Indonesia

  • Share

Gardaanimalia.com – Pada tahun 1871, John Edward Gray, seorang ahli taksonomi ternama asal Inggris, membuat satu famili baru pada Ordo Primata. Dia menamakannya Hylobatidae, yang secara kasar bisa diterjemahkan sebagai penghuni hutan.[1]Grooves, C.P. 2005. “Genus Hylobates”. Dalam Wilson, D.E., Reeder, D.M. (ed). Mammal Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference. Baltimore: John Hopkins University Press, hal. … Continue reading

Para penghuni hutan ini bertubuh seperti manusia yang terlampau kerdil dengan tangan yang terlalu panjang. Mereka adalah owa, spesies-spesies kera paling kecil di dunia.

Di Indonesia, terdapat dua jenis owa dari famili Hylobatidae, yaitu Hylobates dan Symphalangus. Jenis Hylobates mencakup seluruh spesies owa, sedangkan jenis Symphalangus mencakup siamang. Dua jenis lainnya, Hoolock dan Nomascus, hidup di daratan Asia tenggara hingga India (Gambar 1).[2]Geissmann, T. 1995. “Gibbon Systematics and Species Identification”. International Zoo News. 42(8): 467-501.

Dari kedua jenis ini, ada tujuh spesies Hylobatidae yang berhabitat di hutan Indonesia. Mereka adalah owa bilau (Hylobates klossii), owa jenggot putih (Hylobates albibarbis), owa kalawat (Hylobates muelleri), owa serudung (Hylobates lar), owa ungko (Hylobates agilis), owa jawa (Hylobates moloch), dan siamang (Symphalangus syndactylus).[3]Gibbonesia. 2021. Owa Indonesia. Diakses dari https://gibbonesia.id/owa-indonesia/ pada 13 Oktober 2021.

Tiga di antaranya, yaitu owa bilau, owa jenggot putih, dan owa jawa, merupakan spesies endemik Indonesia.

Gambar 1. Persebaran jenis-jenis owa pada Famili Hylobatidae. Di Indonesia, terdapat dua jenis, yaitu Hylobates (owa) yang tersebar di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, serta Symphalangus (siamang) yang eksklusif terdapat di Sumatera. Sumber gambar: Geissmann, 1995.
Gambar 1. Persebaran jenis-jenis owa pada Famili Hylobatidae. Di Indonesia, terdapat dua jenis, yaitu Hylobates (owa) yang tersebar di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, serta Symphalangus (siamang) yang eksklusif terdapat di Sumatera | Foto: Geissmann, 1995.

Menjelajahi Indonesia dan Spesies-Spesies Owa di Dalamnya

Sekarang, mari jelajahi hutan-hutan Indonesia sembari melihat spesies-spesies owa yang hidup di dalamnya. Kita mulai perjalanan pada biku-biku perbukitan Taman Nasional Gunung Leuser, Gayo Lues, Aceh.

Sekelompok owa hidup pada dahan-dahan tertinggi damar dan meranti. Keunikan owa ini terdapat pada tangan dan kaki mereka yang berwarna abu-abu terang, hampir putih. Ini adalah ciri khas dari spesies owa serudung atau lar gibbon (Hylobates lar).

Seperti manusia dengan warna kulit yang berbeda-beda, owa serudung juga punya warna rambut yang bervariasi. Beberapa berwarna hitam dan yang lain berwarna coklat terang.

Populasi utama owa serudung berada di Malaysia, Thailand, Laos, hingga Myanmar. Di Indonesia, owa serudung hanya dapat ditemukan pada sepertiga bagian paling utara dari Pulau Sumatera.[4]Gron, K.J. 2010. “Primate Factsheets: Lar gibbon (Hylobates lar) Taxonomy, Morphology, & Ecology.” Wisconsin National Primate Research Center. Diakses dari … Continue reading

Bersama dengan owa serudung, mungkin kita akan melihat spesies owa lainnya. Owa ini memiliki janggut dan jambang putih di sekeliling wajahnya. Mereka adalah owa ungko (Hylobates agilis) atau yang secara lokal disebut sebagai wau-wau.[5]Tim Pembela Satwa Liar. 2020. “Mengenal Owa Ungko, Primata Langka Berjenggot Putih yang Dilindungi”. Garda Animalia. Diakses dari … Continue reading

Seperti seluruh spesies owa, owa ungko menghabiskan hidupnya di puncak-puncak pohon. Namun, mereka tidak membuat sarang di sana. Tidak memiliki sarang adalah perilaku yang cukup janggal di kalangan primata.[6]“Gibbons”. New England Primate Conservancy. Diakses dari https://www.neprimateconservancy.org/gibbons.html pada 14 Oktober 2021.

Owa ungko dapat ditemukan hampir di seluruh penjuru Sumatera, kecuali pada wilayah-wilayah paling utara.

Populasinya banyak terkonsentrasi di Taman Nasional Leuser, Taman Nasional Batang Gadis, dan hutan-hutan liar di Riau dan sekitarnya. Populasi kecil owa ungko juga dapat ditemukan di Kalimantan bagian barat.[7]Bangun, TM., Mansjoer, S.S., Bismark, M. 2009. “Populasi dan Habitat Ungko (Hylobates agilis) di Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara”. Jurnal Primatologi Indonesia. 6(1): 19-24. Dapat … Continue reading[8]2019.”Wildlife of RER: Agile Gibbon”. Restorasi Ekosistem Riau. Diakses dari https://www.rekoforest.org/field-stories/wildlife-of-rer-agile-gibbon/pada 14 Oktober 2021.

Lalu, di sepanjang petak-petak hutan melingkupi Bukit Barisan, Sumatera, kita dapat melihat spesies owa yang bisa jadi paling terkenal di Indonesia, yaitu siamang.

BACA JUGA:
Ketika Penangkaran Menjadi Sarang Perdagangan Ilegal

Walaupun begitu, sepertinya tidak banyak yang tahu kalau siamang pun sebenarnya masih termasuk dalam keluarga owa. Barangkali karena ukuran tubuh siamang yang relatif jauh lebih besar dibandingkan dengan spesies owa lainnya.

Selain ukurannya, ada dua hal yang membedakan siamang dengan owa. Pertama, jari kaki kedua dan ketiga milik siamang disatukan oleh semacam selaput membran.

Karakteristik ini disebut sebagai syndactylous yang menjadi asal-usul nama ilmiah siamang (Symphalangus syndactylus).

Yang kedua, siamang memiliki kantung tenggorokan yang bisa dimekarkan hingga sebesar kepala manusia. Kantung ini berfungsi untuk mengeraskan suara ketika sedang berteriak.[9]Symphalangus syndactylus. Siamangs. Animal Diversity Web. Diakses dari https://animaldiversity.org/accounts/Symphalangus_syndactylus/#d7aa1f6cbd0905fbadbe73f78b6a014e pada 14 Oktober 2021.

Kemudian, kita akan menyeberangi Selat Mentawai untuk tiba di Kepulauan Mentawai, tempat beberapa hewan paling eksklusif dan langka di Indonesia. Salah satunya adalah owa bilau atau kloss’s gibbon (Hylobates klossii).

Owa bilau merupakan owa paling kecil di antara spesies owa Indonesia. Berbeda juga dari owa lainnya, seluruh rambutnya berwarna hitam tanpa corak warna lain. Mereka lebih mirip seperti miniatur siamang.[10]“Owa Bilau”. Gibbonesia. Diakses dari https://gibbonesia.id/owa-indonesia/owa-bilau/ pada 14 Oktober 2021.

Gambar 2. Spesies-spesies owa di Indonesia (bagian satu). Kiri atas: owa serudung (Hylobates lar). Kanan atas: owa ungko (Hylobates agilis). Kiri bawah: owa bilau (Hylobates klossii). Kanan bawah: siamang (Symphalangus syndactylus). Sumber gambar: Wikimedia Commons.
Gambar 2. Spesies-spesies owa di Indonesia (bagian satu). Kiri atas: owa serudung (Hylobates lar). Kanan atas: owa ungko (Hylobates agilis). Kiri bawah: owa bilau (Hylobates klossii). Kanan bawah: siamang (Symphalangus syndactylus) | Foto: Wikimedia Commons.

Setelah itu, kita dapat berpindah ke Kalimantan, pada rimba yang dipelihara oleh sungai-sungai raksasa. Di pulau ini terdapat dua spesies owa, yaitu owa jenggot putih dan owa kalawat.

Owa jenggot putih (Hylobates albibarbis) memiliki karakteristik yang identik dengan owa ungko. Keduanya memiliki rambut putih yang mengelilingi wajah mereka.

Dahulu owa jenggot putih dikategorikan sebagai subspesies dari owa ungko, tapi setelah analisis DNA lebih lanjut, diputuskan kalau keduanya adalah spesies yang berbeda.[11]Hirai, H., Hayano, A., Tanaka, H., Mootnick, A.R., Wijayanto, H., Perwitasari-Farajallah, D. 2009. “Genetic Differentiation of Agile Gibbons Between Sumatra and Kalimantan in Indnonesia”. Dalam … Continue reading

Owa jenggot putih biasa ditemukan pada belantara yang diapit oleh Sungai Kapuas dan Barito.

Sementara owa kalawat, yang disebut juga sebagai owa abu-abu Kalimantan dan Müller’s gibbon (Hylobates muelleri) tersebar di seluruh penjuru Pulau Kalimantan.

Owa kalawat memiliki warna abu-abu dan coklat. Pada alisnya terdapat rambut berwarna putih yang membuat mereka tampak seperti orang yang sudah berusia.

Owa kalawat merupakan jam penunjuk waktu bagi masyarakat lokal. Mereka akan bernyanyi pada pukul 03.00-04.00 pagi, 12.00-13.00, dan 15.00-15.10 sore waktu setempat.[12]Alicia, C. 2020. “Owa Kalawat, Primata Endemik Kalimantan yang Terancam Punah”. Garda Animalia. Diakses dari … Continue reading

Sebagian peneliti menemukan dua spesies owa lain di Kalimantan, yaitu owa abu-abu abbott (Hylobates abbotti) dan owa abu-abu kalimantan timur (Hylobates funereus).

Tapi, sebagian lainnya berpendapat kalau dua spesies ini merupakan subspesies dari owa kalawat.[13]“Hylobates muelleri abbotti, Kloss, 1929”. Integrated Taxonomic Information Report. Diakses dari … Continue reading[14]“Hylobates muelleri funereus, I. Geoffroy Saint-Hilaire, 1850”. Integrated Taxonomic Information Report. Diakses dari … Continue reading Sehingga ketiga owa ini sangat sulit dibedakan antara satu dengan yang lain.

Kita akan mengakhiri perjalanan ini di Pulau Jawa dengan hutan yang sudah langka. Jika kita beruntung, kita bisa mendengar lolongan owa jawa pada kanopi hutan di bagian barat Pulau ini (Hylobates moloch).

Lolongan itu adalah media komunikasi antarindividu, layaknya manusia berbicara kepada sesama. Perilaku owa jawa terbilang unik karena hanya betina yang mengeluarkan suara lolongan. Sedangkan owa jawa jantan sangat jarang bersuara.

BACA JUGA:
Polisi Tangkap Penjual Potongan Tubuh Satwa Dilindungi

Biasanya, owa jawa betina melolong pada pagi hari untuk menandakan wilayahnya, karena owa jawa adalah hewan yang sangat teritorial.[15]Silvery Gibbon Project. 2010. Silvery Gibbon Fact Sheet. Dapat diakses dari https://silvery.org.au/about/about-silverys/

Gambar 3. Spesies-spesies owa di Indonesia (bagian dua). Kiri atas: owa jenggot putih (Hylobates albibarbis). Kanan atas: owa jawa (Hylobates moloch). Bawah: owa kalawat (Hylobates muelleri). Sumber gambar: Wikimedia Commons.
Gambar 3. Spesies-spesies owa di Indonesia (bagian dua). Kiri atas: owa jenggot putih (Hylobates albibarbis). Kanan atas: owa jawa (Hylobates moloch). Bawah: owa kalawat (Hylobates muelleri) | Foto: Wikimedia Commons.

Akhir Sebuah Penjelajahan dan Eksistensi Owa Indonesia

Sayangnya, penjelajahan kita sepertinya tidak bisa dilanjutkan di masa depan. Ini karena jumlah owa di Indonesia berkurang secara drastis.

Seluruh spesies owa Indonesia masuk kategori terancam (endangered) dalam IUCN Red List dan semuanya terus mengalami penurunan populasi.[16]“Hylobatidae”. IUCN Red List. Diakses dari https://www.iucnredlist.org/search?taxonomies=101943&searchType=species pada 15 Oktober 2021.

Sama sekali tidak mengejutkan jika biang dari masalah ini adalah manusia. Ada dua aktivitas manusia yang menjadi faktor utama dari turunnya populasi spesies owa Indonesia, yakni perusakan habitat dan perdagangan ilegal.[17]Mongabay.com. 2019. “Forest loss threatens territorial gibbons in southern Borneo”. Mongabay Series: Global Forests. Dapat diakses dari … Continue reading[18]Cheyne, S. “Tackling the Illegal Online Trade of Indonesian Small Apes”. Borneo Nature Foundation. Diakses dari … Continue reading

Di Kalimantan, kebakaran hutan mengancam kehidupan owa jenggot putih dan owa kalawat.[19]Cheyne, S. “Tackling the Illegal Online Trade of Indonesian Small Apes”. Borneo Nature Foundation. Diakses dari … Continue reading Owa yang kehilangan habitatnya akan berusaha mencari petak hutan baru sebagai wilayah mereka.

Masalahnya, owa adalah spesies yang sangat teritorial. Perpindahan wilayah secara masif dapat meningkatkan konflik antarkelompok owa secara signifikan.

Hal ini terjadi bukan hanya di Kalimantan. Di Sumatera, siamang kehilangan habitatnya karena kebakaran hutan yang dipicu oleh aktivitas El-Nino yang semakin intens.[20]O’Brien, T.G., Kinnaird, M.F., Nurcahyo, A., Prasetyaningrum, M., Iqbal, M. 2003. “Fire, demography, and persistence of siamang (Symphalangus syndactulus: Hylobatidae) in a Sumatran … Continue reading

Perdagangan ilegal produk owa atau owa hidup sebagai peliharaan bukanlah hal asing lagi. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah perdagangan ilegal primata tertinggi di dunia.

Salah satunya penyebabnya pendidikan tentang perdagangan primata ilegal masih sangat rendah.

Contohnya, beberapa waktu lalu, seorang bupati di Badung, Bali, sempat mendapat kecaman dari berbagai pihak karena memelihara seekor bayi siamang. Sesaat setelah itu, bayi siamang pun diberikan dan ditranslokasikan oleh BKSDA ke Sumatera Barat.[21]Isminanda, B.A. 2021. “Owa Siamang Peliharaan Bupati Badung Ditranslokasi ke Sumbar:. Garda Animalia. Diakses dari … Continue reading

Selama pandemi, pusat perdagangan primata ilegal berpindah ke platform media sosial seperti Facebook dan Instagram.[22]Nijman, V., Smith, J.H., Foreman, G., Campera, M., Feddena, K., Nekaris, K.A.I. 2021. “Monitoring the Trade of Legally Protected Wildlife on Facebook and Instagram Illustrated by the Advertising … Continue reading Dikarenakan aturan yang lemah dari kedua platform tersebut menyebabkan perdagangan satwa langka meraih sukses besar.

Gambar 4. Seekor owa ungko (Hylobates agilis) peliharaan warga terlihat sangat tidak terurus. Sumber foto: Facebook/Anggoro via Garda Animalia.
Gambar 4. Seekor owa ungko (Hylobates agilis) peliharaan warga terlihat sangat tidak terurus | Foto: Facebook/Anggoro via Garda Animalia.

Hari ini, tanggal 24 Oktober adalah Hari Owa Sedunia (International Gibbon Day), di mana masyarakat dari berbagai negara merayakan sang penyanyi hutan bersama dengan mitos-mitos yang dilantunkannya.

Di Sumatera, seekor siamang putih adalah putri raja yang dikutuk. Di Jawa, owa bernyanyi untuk meminta hujan kepada langit.

BACA JUGA:
Kala Harimau dalam Lindungan Kearifan Lokal

Kemudian, dalam kepercayaan Taoisme di penjuru Tiongkok, owa dianggap sebagai makhluk spiritual yang memegang kunci keabadian.

Sementara di India, owa kerap kali dianggap sebagai makhluk mitologi penghuni hutan dengan nama Mande Burung.

Namun, pada masa depan yang buruk, di mana owa mungkin saja telah punah karena ulah manusia. Sehingga keturunan kita hanya dapat bercerita tentang manusia kerdil berlengan panjang yang musnah karena ketamakan.

Sebelum terlambat, mari kita jaga, lindungi, dan lestarikan owa beserta habitatnya.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments