Menengok Cara Ikan Bermigrasi

  • Share
Gambar belut Amerika (Anguilla rostrata). | Foto: Flickr.com
Gambar belut Amerika (Anguilla rostrata). | Foto: Flickr.com

Gardaanimalia.com – Tidak ada yang pernah melihat bayi belut Amerika di alam liar. Tidak pernah ada yang melihat larva, telur, maupun ikan muda dari spesies ini. Tidak ada yang pernah melihat mereka kawin.

Bahkan, organ reproduktif mereka tidak pernah ditemukan walaupun ribuan tubuh belut sudah dibelah dan dicacah sebagai usaha menemukan organ tersebut.

Ratusan kilometer dari pesisir timur Amerika Serikat, satu spesies belut lain dibalut oleh misteri yang sama. Belut kaca berenang bebas di antara hamparan sargassum, alga berbetuk daun yang mengambang luas di Laut Sargasso. Tidak pula ada yang pernah melihat bayi spesies belut ini.

Baru pada tahun 1886, Yves Delage, seorang zoologis Prancis menemukan bahwa ternyata kedua belut ini merupakan spesies yang sama. Belut kaca adalah bayi dari belut Amerika.

Belut Amerika merupakan salah satu ikan yang bermigrasi ribuan kilometer dari sungai, danau, dan kubangan menuju Laut Sargasso di Samudera Atlantik untuk bertelur di sana, lalu mati.

Siklus hidup belut Amerika adalah salah satu contoh menakjubkan dari perjalanan spesies-spesies ikan yang bermigrasi.

Namun, belut Amerika tentunya bukan satu-satunya spesies ikan yang melakukan perjalanan jauh. Dari hilir sungai-sungai Andes, lele dorado berenang lebih dari 11 ribu kilometer menuju muara Sungai Amazon.

Berbagai spesies salmon bergerak melawan arus jeram untuk bertelur di hulu sungai yang lebih tenang. Hiu mako dan hiu biru menjelajahi dasar samudera untuk mencapai benua yang berbeda setiap tahunnya.

Bermigrasi ke Sungai, Bermigrasi ke Laut

Migrasi merupakan aktivitas perpindahan suatu populasi spesies hewan dalam jumlah yang lebih besar daripada aktivitas perpindahan pada umumnya.[1]Tamario, C., Sunde, J., Petersson, E. dkk. 2019. “Ecological and Evolutionary Consequences of Environmental Change and Management Actions for Migrating Fish”. Frontiers. 7:271.

Tidak semua spesies ikan melakukan migrasi. Bagi yang melakukannya, mereka memiliki tujuannya masing-masing pada jenjang waktu yang berbeda-beda.

Salah satu tujuan utama dari migrasi ikan adalah untuk berkembang biak. Umumnya, ikan muda dan ikan dewasa memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda.

Dengan tubuhnya yang kecil, ikan muda tidak perlu berburu mangsa yang besar. Banyak di antara mereka bisa bertahan hidup dengan mengandalkan asupan gizi dari plankton.

Di samping itu, ikan muda juga butuh ekosistem yang tidak memiliki banyak pesaing dan predator.

Oleh karena itu, ikan dewasa perlu bertelur di tempat yang lebih aman dan jauh dari habitat asal mereka yang lebih berbahaya untuk ikan muda. Hal inilah yang memicu banyak ikan untuk bermigrasi.

Spesies seperti belut Amerika, lele dorado, dan kakap putih bermigrasi dari sungai ke laut (catadromous), sedangkan sebagian salmon dan bass bermigrasi dari laut ke sungai (anadromous).

Sebagian, seperti ikan kuning dan arapaima hanya berpindah dari satu sungai ke sungai lain (potamodromous) dan beberapa, seperti haring dan tuna, selalu menetap di laut lepas (oceanodromous).

Jenis-jenis migrasi ikan berdasarkan lokasi asal dan lokasi tujuannya. | Sumber: Tamario dkk. (2019).
Jenis-jenis migrasi ikan berdasarkan lokasi asal dan lokasi tujuannya. | Sumber: Tamario dkk. (2019).

Walaupun belut Amerika dan lele dorado perlu bermigrasi sejauh ribuan kilometer, banyak spesies lain hanya melakukan migrasi dari satu cabang sungai ke sungai lain atau dari tengah danau ke tepi danau.

BACA JUGA:
5 Satwa Asal Indonesia yang Paling Terancam Punah

Migrasi tidak selalu membutuhkan perjalanan jauh yang ditempuh secara berbondong-bondong. Migrasi juga tidak melulu terjadi dalam siklus tahunan. Beberapa migrasi terjadi setiap hari.

Sebagai contoh, berbagai spesies ikan bermigrasi dari tubuh air yang dalam di siang hari ke daerah yang lebih dangkal di malam hari. Mereka biasanya datang ke permukaan untuk mencari makanan ketika burung predator sedang beristirahat.

Saat sinar matahari terlihat, ikan-ikan ini akan kembali bersembunyi di tubuh air yang dalam. Hal kebalikannya juga dapat terjadi.

Ikan pike dan karper justru akan datang ke permukaan pada siang hari untuk mengatur suhu tubuh mereka di tubuh air dangkal yang hangat.[2]Nordahl, O., Tibblin, P., Koch-Schmidt, P. dkk. 2018. “Sun basking fish benefit from body temperatures that are higher than ambient water”. Proceeding of the Royal Society B. 285: 20180639.

Ketika ikan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mereka menjadi sumber makanan raksasa bagi seluruh habitat yang dilewatinya.

Beruang mengandalkan asupan gizinya dari salmon dan bass. Berbagai predator laut seperti hiu, paus, dan tuna berpesta ketika melihat rombongan haring dan teri.

Bahkan industri perikanan bergantung pada migrasi ikan-ikan ini. Tiga miliar manusia di dunia hidup lewat konsumsi ikan sebagai salah satu asupan protein primer mereka.[3]WWF. Sustainable Seafood Overview. 870 juta manusia bekerja sehari-hari pada industri yang berkaitan dengan penangkapan ikan dan akuakultur.[4]Our Ocean. 2016. Sustainable Fisheries.

Apalagi kalau kita berbicara tentang Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Tidak mengejutkan kalau hampir 100 % masyarakat Indonesia bergantung pada konsumsi ikan air laut maupun air tawar.

Tembok Penghalang Gerak Ikan

Sayangnya, migrasi merupakan kegiatan yang sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Migrasi ikan bisa terganggu hanya karena suhu air berubah sedikit atau ada penghalang yang menutupi jalur gerak ikan.

Ketika migrasi terganggu, seluruh ekosistem yang bergantung kepadanya juga akan terganggu.[5]Tamario, C., Sunde, J., Petersson, E. dkk. 2019. “Ecological and Evolutionary Consequences of Environmental Change and Management Actions for Migrating Fish”. Frontiers. 7:271. Bayangkan, ribuan ton ikan tersendat pada hulu sungai ketika di hilir sana puluhan spesies hewan menunggu makanan datang.

Siapa yang membawa masalah terhadap migrasi ikan hari ini? Siapa lagi kalau bukan manusia. Seluruh perubahan dan modifikasi manusia terhadap sungai, danau, dan laut berdampak signifikan terhadap pola migrasi berbagai spesies ikan.

BACA JUGA:
Pentingnya Perlindungan Hiu Seiring Tren Penangkapan yang Meningkat

Setidaknya ada tiga aktivitas manusia yang menyebabkan gangguan pada migrasi ikan. Yang pertama terjadi pada skala lokal, yaitu pembangunan konstruksi-konstruksi air seperti bendungan dan pembangkit listrik tenaga air.

Jarak tempuh ikan pada sungai yang tidak terbendung (a dan c) serta terbendung (b dan d). Pada sungai yang tidak terbendung, ikan bisa bergerak bebas di sepanjang sungai. Pada sungai yang banyak terbendung, gerak ikan sangat tersegmentasi oleh konstruksi manusia. | Sumber: Tamario dkk. (2019).
Jarak tempuh ikan pada sungai yang tidak terbendung (a dan c) serta terbendung (b dan d). Pada sungai yang tidak terbendung, ikan bisa bergerak bebas di sepanjang sungai. Pada sungai yang banyak terbendung, gerak ikan sangat tersegmentasi oleh konstruksi manusia. | Sumber: Tamario dkk. (2019).

Bagi ikan, bendungan pada dasarnya gunung raksasa yang sama sekali tidak bisa didaki. Ketika bendungan didirikan pada jalur migrasi, ikan hanya memiliki dua opsi.

Pertama, tidak bermigrasi sama sekali dan terpaksa berkembang biak pada habitat yang penuh pesaing dan predator. Hal ini mengakibatkan hanya sedikit ikan muda yang berhasil selamat menjadi dewasa.

Opsi kedua adalah bersikukuh melompat menuruni bendungan dan menuju habitat berkembang biak yang aman. Jika suatu spesies mengambil opsi ini, maka populasi mereka di arah hulu akan berkurang drastis. Dampaknya adalah kepunahan spesies pada skala lokal.

Untuk mencegah hal ini, beberapa bendungan dilengkapi oleh jalur ikan (fishway) yang merupakan kanal kecil penghubung sungai yang dibuat khusus untuk gerak migrasi ikan.

Di Indonesia, pembuatan jalur ikan sama sekali belum menjadi prioritas. Dari 3.530 bendungan yang ada, hanya empat yang dilengkapi oleh fishway.[6]Ambari, M. 2020. “Memetakan Kebutuhan Jalur Ikan di Seluruh Indonesia: Mongabay.

Kegiatan kedua adalah pemancingan berlebihan (overfishing). Dampak yang dihasilkan oleh kegiatan overfishing terhadap migrasi ikan dapat terlihat dalam skala lokal pada satu aliran sungai hingga skala regional yang meliputi perairan suatu negara.

Dampak utama overfishing tentunya adalah berkurangnya populasi suatu spesies secara ekstrem. Namun, itu bukan satu-satunya dampak yang terjadi. Nelayan dan pemancing rekreasional memiliki tendensi untuk mengambil ikan yang paling besar.

Di berbagai negara, kegiatan ini telah dijadikan sebagai aturan di mana setiap spesies ikan memiliki batas ukuran terkecil yang boleh dipancing. Konsekuensinya, gen yang bertahan hanyalah gen untuk ikan dewasa berukuran kecil.[7]Garcia, S.M., Kolding, J., Rice, J. dkk. 2012. “Reconsidering the Consequences of Selective Fisheries”. Science. 335: 1045-1047.

Pada ikan yang bermigrasi, ukuran kecil menjadi masalah besar karena mereka menjadi sangat rentan terhadap serangan predator selama perjalanan menuju lokasi berkembang biak.

Kegiatan ketiga memberikan dampak pada skala global, yaitu perubahan iklim. Sebagai hewan berdarah dingin, 99,9% spesies ikan mengandalkan suhu dari lingkungan untuk mengatur suhu tubuh mereka.

Ketika suhu air berubah drastis, maka pola migrasi ikan akan bergeser. Ikan yang tidak kuat dengan suhu air yang terlalu hangat akan bergerak ke utara untuk mencari air yang lebih dingin.

Ketika ikan-ikan ini pergi, seluruh jaring-jaring makanan yang bergantung kepadanya putus. Seluruh ekosistem runtuh, tanpa terkecuali manusia di dalamnya.

BACA JUGA:
Perlukah Pemusnahan Kelelawar Dilakukan Demi Cegah Corona?

Indonesia bahkan telah diperingatkan bahwa 40 % populasi ikannya akan hilang dalam setengah abad ke depan karena suhu air yang terlalu tinggi membuat banyak ikan bermigrasi ke utara.[8]Pitakasari, A.R. 2012. “Migrasi Ikan Diprediksi Kurangi Potensi Indonesia 40 %”. Republika.

Perubahan iklim bukan hanya menaikkan suhu air global, tapi juga membuat kondisi tubuh air menjadi tidak stabil dan sering berubah-ubah.

Air laut juga menjadi asam dan kekurangan oksigen yang mengakibatkan banyak tubuh air berubah menjadi “gurun” miskin nutrisi yang tidak dapat dihuni.

Setiap tanggal 21 Mei, dunia merayakan hari migrasi ikan. Hari migrasi ikan dunia dikukuhkan untuk mengingatkan betapa krusialnya peran migrasi ikan terhadap stabilitas ekosistem.

Tahun ini, hari migrasi ikan dunia mengangkat tema “Connecting Fish, Rivers and People” (Menghubungkan Ikan, Sungai, dan Manusia).

Tema ini menekankan betapa pentingnya sungai yang mengalir bebas tanpa dibatasi oleh dinding-dinding konstruksi manusia demi kesejahteraan berbagai spesies ikan dan manusia itu sendiri.[9]World Fish Migration Day. 2022.

Walaupun mayoritas dari kita tidak bersinggungan langsung dengan aktivitas migrasi ikan, kita tetap bisa membantu kelestariannya dengan mengedukasi diri kita sendiri.

Lennox dkk. (2019) membuat artikel menarik dengan menuliskan 100 pertanyaan yang perlu kita jawab untuk mengatasi masalah sains, konservasi, dan manajemen yang berkaitan dengan migrasi ikan.[10]Lennox, R.J., Paukert, C.P., Aarestrup, K. dkk. 2019. “One Hundred Pressing Questions on the Future of Global Fish Migration Sceince, Conservation, and Policy”. Frontiers. 7:288.

Jika masing-masing dari kita bisa menanamkan satu saja pertanyaan ini dalam diri kita dan berusaha mencari solusinya, problematika migrasi ikan tentu dapat teratasi.

Dengannya, ekosistem alam dan kesejahteraan manusia juga akan selalu terjaga.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments