Mengenal Lebih Dekat Lahan Gambut sebagai Harta yang Berharga

  • Share
Gambar hutan gambut lindung di Sungai Besar, sepanjang perjalanan di hutan di Riau di Hulu Sungai Serkap. | Foto: Will Rose/Greenpeace
Gambar lahan hutan gambut lindung di Sungai Besar, sepanjang perjalanan di hutan di Riau di Hulu Sungai Serkap. | Foto: Will Rose/Greenpeace

Gardaanimalia.com – Mungkin sampai saat ini beberapa orang masih mengenal lahan gambut sebagai lahan yang tidak produktif, sebab ia selalu tergenang air dengan tingkat keasaman yang relatif tinggi.

Namun di balik karakternya yang khas, rupanya lahan gambut memang memiliki “fungsi” yang tak kalah unik. Dengan kata lain, ia memiliki definisi “produktif” yang berbeda.

Gambut adalah salah satu jenis lahan basah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa pohon, rumput, lumut, dan jasad hewan yang telah membusuk, sehingga ia kaya akan materi organik.

Akumulasi berbagai bahan tersebut menumpuk selama ribuan tahun dan membentuk endapan yang tebal.[1]https://www.pantaugambut.id/pelajari/apa-itu-gambut/sejarah-terbentuknya-gambut

Indonesia memiliki lahan gambut seluas 22,5 juta hektare. Angka ini mendudukkan Indonesia sebagai negara dengan lahan gambut terbesar kedua di dunia, setelah Brazil dengan 31,1 juta hektare.

Sepuluh provinsi di Indonesia yang memiliki lahan gambut terluas adalah Papua (6,3 juta hektare), Kalimantan Tengah (2,7 hektare), Riau (2,2 juta hektare), Kalimantan Barat (1,8 juta hektare), Sumatera Selatan (1,7 juta hektare).

Selain itu, ada Papua Barat (1,3 juta hektare), Kalimantan Timur (0,9 juta hektare), serta Kalimantan Utara, Sumatera Utara, dan Kalimantan Selatan dengan 0,6 juta hektare.[2]https://katadata.co.id/timpublikasikatadata/infografik/5e9a519433cb1/luas-gambut-indonesia-terbesar-kedua-di-dunia

Lantas, apa alasan yang menyebabkan lahan gambut memiliki peran penting dalam ekosistem?

Gambut sebagai Gudang Penyimpanan Karbon

Faktanya, lahan gambut adalah gudang penyimpan karbon yang luar biasa. Ia mampu menyimpan 30 persen karbon dunia atau 550 gigaton karbon, padahal luasnya di dunia hanya 3 persen luas daratan.[3]https://www.pantaugambut.id/pelajari/peran-penting-lahan-gambut/lahan-gambut-menjaga-perubahan-iklim

Menghitung kemampuan penyimpanan karbon lahan gambut Indonesia, rupanya ia sanggup menyimpan sekitar 57 gigaton karbon atau 20 kali lipat karbon tanah mineral biasa.

BACA JUGA:
Owa Kalawat, Primata Endemik Kalimantan yang Terancam Punah

Semakin tebal gambut dalam suatu lokasi, maka kapasitas penyimpanan karbonnya juga akan semakin besar.[4]https://www.pantaugambut.id/pelajari/peran-penting-lahan-gambut/lahan-gambut-menjaga-perubahan-iklim

Apa yang terjadi jika lahan gambut dihilangkan?

Kemampuannya yang luar biasa dalam menyimpan karbon dapat menjadi bumerang jika lahan gambut akhirnya mendapat perlakukan yang memaksa ia menghilangkan karakternya.

Ketika lahan gambut dikeringkan atau mengalami alih fungsi, simpanan karbon yang jumlahnya tidak sedikit itu akan lepas ke udara atau atmosfer. Karbon yang lepas ke udara, tentu akan berpengaruh besar terhadap perubahan iklim.

Analisis dari WRI (World Resources Institute) menunjukkan bahwa mengeringkan satu hektare lahan gambut di wilayah tropis akan mengeluarkan rata-rata 55 mentrik ton CO2 setiap tahun, ini setara dengan membakar lebih dari 6.000 galon bensin.[5]https://www.pantaugambut.id/pelajari/peran-penting-lahan-gambut/lahan-gambut-menjaga-perubahan-iklim

Anggapan bahwa lahan gambut merupakan lahan yang tidak produktif dapat dikatakan sebagai alasan mengapa sebagian pihak menginginkan lahan gambut dikeringkan dan dialihfungsikan.

Padahal, jika lahan gambut sudah kering, ia akan rentan terbakar. Kondisi tanah gambut yang tidak padat karena berisi ranting, rumput, dan sisa pepohonan menyebabkan api cepat menyebar.

Biasanya, meskipun sudah tampak padam di permukaan, api di lahan gambut lazim mampu bertahan berbulan-bulan di dalam lapisan tanahnya hingga kedalaman empat meter.[6]https://www.pantaugambut.id/pelajari/peran-penting-lahan-gambut/lahan-gambut-menjaga-perubahan-iklim

Karena itulah, kebakaran di lahan gambut bukanlah sesuatu yang mudah untuk diatasi dan dapat menjadi bencana yang besar.

Ilustrasi kebakaran lahan. | Foto: Justin Sullivan/Getty Images
Ilustrasi kebakaran lahan. | Foto: Justin Sullivan/Getty Images

Ia Memiliki Sifat Seperti Spons

Gambut memiliki sifat hydrophysical yang berarti memiliki daya serap air yang tinggi. Kemampuan ini membuatnya bisa menampung air sebesar 450-850 persen dari bobot keringnya atau hingga 90 persen dari volumenya.[7]https://www.pantaugambut.id/pelajari/peran-penting-lahan-gambut/mengurangi-dampak-bencana-banjir-dan-kemarau

Kondisi itu membuatnya memiliki sifat seperti spons. Ia mampu menahan air saat musim hujan sehingga mencegah banjir, sekaligus menyimpan air saat musim kemarau sehingga dapat menjamin pasokan air bersih sepanjang tahun.

BACA JUGA:
Lindungi Hutan dan Satwa Liar Demi Mencegah Pandemi

Ia adalah Rumah bagi Banyak Spesies Satwa

Kawasan gambut juga merupakan rumah bagi spesies-spesies satwa liar. Berdasarkan data WWF tahun 2009, tercatat ada 35 spesies mamalia, 150 spesies burung, dan 34 spesies ikan dapat ditemukan di lahan gambut.

Beberapa satwa tersebut merupakan satwa endemik dan termasuk yang dilindungi dalam data International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List.[8]https://forestsnews.cifor.org/49510/gambut-di-bawah-kaki-mereka?fnl=en Karena itu, kebakaran hutan gambut adalah ancaman yang serius bagi satwa yang hidup di dalamnya.

Berdasarkan data yang terbit tahun 2017 di Forestnews, rusaknya hutan rawa gambut tropis menyebabkan populasi harimau sumatera di alam liar hanya tersisa 400 individu saja. Pun jumlah orangutan sumatera turun 80 persen dalam 75 tahun terakhir.

Orangutan sebagai binatang yang sangat aktif, membutuhkan wilayah hutan yang luas sebagai habitatnya. Saat kebakaran terjadi, sang betina yang cenderung bertahan di sarangnya menjadi korban.[9]https://forestsnews.cifor.org/49510/gambut-di-bawah-kaki-mereka?fnl=en

Lalu, Apakah Lahan Gambut Tidak Bernilai Ekonomi?

Karakteristik hutan gambut yang miskin oksigen dan bersifat asam membuat kawasan ini relatif tidak subur untuk menjadi kawasan yang dapat dimanfaatkan lahannya.

Namun dalam podcast Gambut Bakisah oleh KBR, diterangkan bahwa masyarakat sekitar kawasan gambut biasanya sudah paham bagaimana memanfaatkan lahan ini, dan bagaimana mereka memanfaatkannya bisa beragam antara daerah satu dengan lainnya.[10]https://kbr.id/saga/09-2020/berkenalan_dengan_hutan_gambut/103537.html

Lahan gambut merupakan ekosistem alami bagi beberapa tanaman yang memiliki nilai ekonomi, seperti rumbia, rotan, karet, nanas, padi, mahang, pisang, tebu, kalapapa, sagu, singkong, jelutung, punak, resak, dan kapur naga.

Beberapa jenis ikan yang bernilai ekonomi rupanya juga dapat dibudidayakan di lahan gambut. Di antaranya adalah ikan patin siam, lele dumbo, dan nila.[11]https://pantaugambut.id/pelajari/peran-penting-lahan-gambut/menunjang-perekonomian-masyarakat-lokal

Disebutkan dalam buku Lahan Gambut Indonesia bahwa gambut dangkal pada umumnya lebih subur dan dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman, termasuk tanaman pangan dan sayuran semusim, namun diutamakan untuk tanaman semusim.

BACA JUGA:
Microhyla Sriwijaya, Pelompat Asal Belitung dan Lampung

Gambut dangkal yang letaknya di bagian tepi rawa di belakang tanggul sungai memiliki kesuburan relatif lebih tinggi dan dapat digunakan untuk menanam padi sawah.

Kemudian, untuk gambut sedang sampai sangat dalam lebih sesuai untuk tanaman hortikultura dan tanaman tahunan.

Sementara gambut sangat dalam (lebih dari tiga meter) mempunyai tingkat kesuburan paling rendah dan berperan penting dalam menjaga kualitas lingkungan, sehingga lebih disarankan sebagai lahan konservasi.[12]https://www.researchgate.net/publication/323476309_Kesesuaian_Lahan_Gambut_untuk_Pertanian

Begitu besar peran gambut bagi ekosistem, pun ternyata ia bisa dimanfaatkan tanpa dirusak asal kita memahami bagaimana karakteristiknya.

Kita pun dituntut untuk peduli mengenai kondisi gambut di Indonesia, terlebih kasus kerusakan gambut di Indonesia tidaklah kecil angkanya.

Komitmen pemerintah dalam merestorasi lahan gambut juga perlu kita awasi bersama. Jangan sampai mimpi buruk kebakaran lahan gambut di Riau, Kalimantan dan beberapa daerah lainnya kembali menghantui masa depan bumi kita.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments