Mengenal Tarsius, Salah Satu Primata Terkecil di Dunia

  • Share
Mengenal Tarsius, Salah Satu Primata Terkecil di Dunia
Tarsius di Sulawesi. Foto: Sakurai Midori

Gardaanimalia.com – Tarsius atau Tangkasi merupakan primata yang berasal dari Asia Tenggara. Di Indonesia, satwa bermata besar ini dapat ditemukan di Sulawesi, Kalimantan, serta Sumatera. Tarsius hidup di wilayah hutan sekunder dan perladangan dengan vegetasi yang rapat. Hewan ini termasuk dalam kategori primata terkecil di dunia.

Tercatat terdapat 14 jenis tarsius di dunia, sebanyak 1 jenis diantaranya berada di wilayah Filipina dan 13 sisanya berada di Indonesia. Terdapat 8 jenis Tarsius dilindungi yang berada di Indonesia, yaitu Krabuku ingkat (Tarsius bancanus), Krabuku diana (Tarsius dentatus), Tarsius lariang (Tarsius lariang), Krabuku peleng (Tarsius pelengenis), Krabuku kecil (Tarsius pumilus), Krabuku sangihe (Tarsius sangirensis), Krabuku tangkasi (Tarsius tarsier), dan Tarsius siau (Tarsius tumpara).

Tarsius merupakan salah satu dari 25 primata yang terancam punah, dalam IUCN termasuk kategori vulnerable hingga critically endangered alias rentan terhadap kepunahan. Keterancaman tarsius juga tercatat dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P106 Tahun 2018 tentang Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Status ini didapatkan karena habitat tarsius utamanya di hutan sekunder banyak yang mengalami kerusakan, selain itu tarsius juga ditangkap untuk dikonsumsi pada pesta kaum muda atau dalam bahasa minahasa disebut tola-tola.

Primata ini sempat populer sebagai hewan peliharaan, namun mereka membutuhkan banyak makanan sehingga satwa ini tidak cocok dijadikan hewan peliharaan. Di Filipina, primata ini juga sering dijumpai sebagai hewan atraksi dan kebanyakan dari mereka mengalami kondisi kekurangan makanan dan stress.

Baca jugaMengenal Dugong, Lady of The Sea dan Perannya dalam Ekosistem Laut

Tarsius disebut sebagai primata terkecil karena ukuran tubuhnya hanya mencapai 10 cm – 15 cm dengan berat sekitar 80 gram. Jika dilihat, fisik tarsius seperti perpaduan antara monyet dan burung hantu. Nama tarsius sendiri diambil karena keunikan bentuk tubuhnya yaitu tulang tarsal yang panjang membentuk pergelangan kaki mereka, keunikan ini membuat tarsius dapat melompat dengan mudah sejauh 3 meter dari satu pohon ke pohon lainnya. Di bagian bawah kaki tarsius memiliki bantalan, sehingga memudahkan tarsius untuk melakukan pendaratan. Tarsius memiliki ekor yang panjang dengan bulu diujung ekornya.

Primata ini disebut sebagai binatang hantu karena mereka merupakan hewan nokturnal yang menghabiskan waktunya saat malam hari. Karena hal itu, tarsius memiliki mata yang bulat dan besar sebagai adaptasi terhadap minimnya cahaya pada malam hari. Mata tarsius hampir tidak bisa di gerakkan ke kanan dan ke kiri. Penglihatan tarsius pada malam hari dibantu oleh kepalanya yang dapat memutar 180 derajat. Perburuan tarsius pada malah hari juga dibantu dengan telinganya yang dapat digerakkan untuk memantau mangsa. Sebuah fakta menyatakan bahwa mata bulat tarsius berukuran lebih besar dibandingkan otak tarsius. Makanan tarsius adalah serangga, reptil kecil, dan kelelawar.

Binatang hantu ini banyak menghabiskan waktunya di atas pohon. Kelompok Ficus sp. merupakan jenis pohon yang banyak dipilih oleh Tarsius sebagai sarang utama. Primata ini akan mengeluarkan urin untuk menandai daerah teritorialnya. Saat harus berada diatas tanah, tarsius akan melompat karena ia tidak bisa berjalan di atas tanah. Saat tarsius tidur ia akan bergantung di atas pohon, bahkan pada saat mereka melahirkan.

Primata kecil ini hidup dalam kelompok monogami atau keluarga yang terdiri dari satu jantan dewasa dan satu betina dewasa serta anak mereka yang hidup dalam satu teritorial. Sifat ini juga menjadi salah satu alasan Tarsius terancam punah karena mereka akan sukar beradaptasi dengan kelompok lain apabila terjadi perusakan habitat dan hutan.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments