Menghidupkan Kembali Spesies Punah vs Menjaga Mereka dari Kepunahan


Gardaanimalia.com – Punahnya beberapa jenis spesies yang ada di muka bumi ini bisa disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah dampak dari adanya seleksi alam. Sebagai contohnya, ketika zaman es iklim di dunia berubah sangat drastis sehingga beberapa makhluk hidup yang tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru tidak dapat terselamatkan.

Dikutip dari MacFarlane dalam artikelnya yang berjudul “All the Species That Went Extinct in 2018, and Ones On The Brink for 2019” mengemukakan bahwa rata-rata satu sampai lima spesies punah dari muka bumi ini disebabkan oleh seleksi alam setiap tahunnya, ini terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia, namun akibat ulah manusia mulai dari penebangan liar yang menyebabkan banyak spesies kehilangan tempat habitat mereka sampai dengan adanya Global Warming proses pemunahan yang ada justru semakin cepat terjadi dan kuantitas spesies yang terancam punahpun naik drastis.

The Center For Biological Diversity mengatakan bahwa presentasi yang ada melonjak menjadi 1000-10.000 kali lipat lebih banyak daripada punahnya spesies akibat adanya seleksi alam. Ini berarti bahwa ada sekitar 1000-50.000 spesies berpotensi punah setiap tahunnya.

Kehilangan sejumlah spesies dalam jumlah sebanyak itu tentu saja akan berpengaruh pada rantai makanan yang ada. Memang betul dalam perputarannya ada beberapa jenis spesies yang dapat menggantikan peran spesies lain sehingga rantai ekosistem yang ada masih dapat terus berputar sebagai mana mestinya namun terkadang ada kalanya peran suatu spesies tidak dapat tergantikan dan hanya spesies tersebut yang dapat melakukannya. Sebagai akibatnya ekosistem menjadi tidak seimbang.

Berdasarkan Elizabeth Kolbert dalam bukunya yang berjudul “The Sixth Extinction : An Unnatural History” dunia sedang berada dalam ancaman Kepunahan Massal yang Ke-Enam. Namun sebagian ahli mengajukan gagasan bahwa bagaimana jika kepunahan yang ada hanya bersifat sementara? Bagaimana jika binatang yang telah punah sebenarnya dapat dihidupkan kembali? Kara Rogers dalam articlenya yang berjudul De-Extincion memaparkan bahwa ide tentang awapuna ini sebenarnya sudah lama dieksplorasi sejak awal abad ke-20.

Namun diakibatkan oleh minimnya ilmu pengetahuan dan teknologi banyak hasil percobaan yang gagal dan beberapa tidak dapat bertahan hidup secara lama. Bertahun-tahun para ahli meneliti lebih dalam mengenai hal ini sampai akhirnya tibalah mereka di titik dimana bahwa para ahli mampu menyatakan bahwa ini bukan hanya soal teknologi lagi melainkan hanya permasalahan waktu dan uang.

Namun permasalahannya apakah awapunah benar-benar penting? Apakah justru hal ini tidak menyebabkan permasalahan baru seperti penempatan spesies tersebut. Bagaimana dampak mereka terhadap ekosistem yang telah terjaga setelah kepunahan mereka? dan bukan tidak mungkin beberapa orang justru akan memanfaatkan hal ini secara negatif.

Bagaimana jika beberapa pemburu hewan justru mengadakan awapunah masal hanya untuk menciptakan lahan tempat mereka bersenang-senang dengan spesies yang telah dihidupkan kembali tersebut? Karena seperti yang dikatakan bahwa ini hanya soal uang dan waktu bukan? Maka siapakah yang berhak terhadap hasil awapunah tersebut? Tentu saja orang yang menyalurkan dana? Kemudian pertanyaan lainnya jika awapunah benar-benar bisa diterapkan pada banyak spesies hewan apakah manusia hanya akan membiarkan mereka punah?

Dibandingkan melakukan penanganan after effect tidakkah sebaiknya manusia melakukan upaya prevensi agar satwa yang ada tidak punah? Pada akhirnya keputusan ada ditangan individu masing-masing. Jalan mana yang akan mereka pilih.

Penulis : Finazulianti


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − five =