Mikroplastik Jadi Ancaman Mengerikan Bagi Kehidupan Laut

Mikroplastik Jadi Ancaman Mengerikan Bagi Kehidupan Laut
Penyu memakan serpihan plastik. Foto: www.fdcunhas.com

Gardaanimalia.com – Problematika sampah plastik telah memasuki babak baru yang lebih buruk termasuk masalah mikroplastik. Penggunaan bahan plastik yang masih berlangsung hingga saat ini terus memunculkan masalah-masalah baru dalam lingkungan dan menyebabkan efek serius bagi makhluk hidup. Sifat plastik yang dinilai ringan, fleksibel, kuat dan murah tidak sebanding dengan efek yang ditimbulkan.

Pengolahan dan daur ulang sampah plastik memang telah dilakukan hampir di seluruh negara didunia tidak terkecuali Indonesia. Namun, hal ini tidak dapat menjadi solusi utama pasalnya plastik tidak selalu dalam bentuk yang tampak oleh mata. Mikroplastik merupakan istilah untuk bentuk plastik yang berubah menjadi lebih kecil.

Apa itu mikroplastik?

Menurut Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, mikroplastik didefinisikan sebagai zat plastik yang berukuran sangat kecil (<4,8 milimeter) yang berasal dari polimer dan zat turunannya seperti polystyrene serta berasal dari semua jenis plastik yang digunakan manusia sehari-hari. Mikroplastik terbentuk dari sampah plastik yang berubah bentuk atau terurai menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga lebih mudah terserap dan terbawa ke dalam lapisan tanah atau laut.[1]www.oseanografi.lipi.go.id

Mikroplastik Jadi Ancaman Mengerikan Bagi Kehidupan Laut
Proses pembentukan dan akumulasi mikroplastik. Foto: Kompasiana.com

Kontaminasi mikroplastik di perairan

Mikroplastik telah mengontaminasi lingkungan khususnya perairan dan laut di Indonesia hingga seluruh dunia dalam waktu yang lama dan berlangsung hingga saat ini. Penelitian Cordova et.al  menemukan adanya mikroplastik pada sampel air laut dengan berbagai kedalaman (3-5 meter) di perairan Lombok. Penelitian lainnya (Eriksen et.al) memperkirakan sebanyak 5 juta trilyun serpihan plastik telah mencemari lautan dengan total berat lebih dari 250.000 ton. Hal serupa juga ditemukan di berbagai perairan di seluruh dunia.[2]www.oseanografi.lipi.go.id

Tingginya konsentrasi mikroplastik di berbagai ekosistem terutama laut dan sedimen mengakibatkan biota yang hidup di dalamnya juga ikut terkontaminasi. Diketahui dari penelitian Rochman et.al, sebanyak 28% sampel ikan pada salah satu pasar di Makassar mengandung mikroplastik di dalam organ pencernaannya. Kurang lebih 24% sampel ikan dan kerang yang diperoleh di California terbukti mengandung mikroplastik. Hal tersebut merupakan bukti nyata keberadaan mikroplastik yang telah mengontaminasi berbagai jenis makhluk hidup dan ekosistem di sekitarnya.[3]http://jlppi.or.id/berita-201-mikroplastik-ancaman-yang-mengintai-di-lautan.html

Mikroplastik menjadi ancaman besar bagi satwa laut

Berdasarkan temuan para peneliti, mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh makhluk hidup baik secara aktif dan pasif. Sebagian besar kasus ini terjadi karena plastik seringkali dianggap mirip dengan makanan. Pada kasus kematian hewan, khususnya satwa  laut, ditemukan adanya kepingan, serpihan maupun plastik dalam jumlah yang besar di dalam tubuhnya. Hal ini bahkan terjadi pada fase awal dimulainya kehidupan hewan-hewan laut.

BACA JUGA:
Hari Nelayan Nasional: Menjala Harapan, Penyu dan Cantrang

Baca juga: Bencana Terus Datang, Bumi yang Semakin Tua atau Kita yang Tak Peka?

Sebagai contoh, peristiwa ini terjadi pada tukik yang nyatanya kerap memakan serpihan plastik saat baru menetas dan menuju laut untuk pertama kali. Profesor biologi kelautan James Cook Univeristy Queensland, Mark Hamann menjelaskan pada umumnya tukik atau penyu muda memangsa ubur-ubur dan plankton. Bentuk plastik yang menyerupai ubur-ubur kerap termakan terutama dalam ukuran yang kecil.[4]https://travel.detik.com/travel-news/d-5671567/sedih-deh-ternyata-tukik-lebih-sering-makan-sampah-plastik-di-lautan

Mikroplastik Jadi Ancaman Mengerikan Bagi Kehidupan Laut
Plastik pada bangkai paus sperma. Foto: AKKP Wakatob/Alfi

Masih ingatkah dengan penemuan paus sperma yang mati terdampar diperairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada 19 November 2018 silam? Dalam bangkai paus tersebut ditemukan adanya sampah plastik sebanyak 5,9 kilogram.[5]https://www.mongabay.co.id/2018/11/20/ditemukan-59-kg-sampah-dalam-perut-paus-sperma-di-wakatobi-kok-bisa/ Sampah plastik berukuran besar dapat dengan mudah termakan hewan laut. Hal ini mengisyaratkan bahwa plastik berukuran mikro jauh lebih mudah mengontaminasi hewan-hewan dengan berbagai jenis dan bentuk.

Mikroplastik menyebabkan hewan laut mengalami gangguan pencernaan, tersedak serta mengalami stress. Ketika sudah terkonsentrasi (mengendap) dalam tubuh hewan juga dapat berbahaya apabila dikonsumsi manusia dan makhluk hidup lainnya. Hal ini menjadi semakin mengkhawatirkan mengingat banyak satwa laut yang terancam punah, langka, serta berstatus dilindungi yang ikut terpapar polusi mikroplastik.

Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak mikroplastik?

Tidak dipungkiri kontaminasi plastik utamanya mikroplastik telah mencapai seluruh bagian ekosistem di dunia. Meski begitu perlu dilakukan upaya penanggulangan agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin parah:

  1. Tidak membuang sampah plastik sembarangan. Hal ini merupakan hal biasa namun merupakan langkah awal munculnya kesadaran akan dampak plastik yang buruk.
  2. Mengurangi/menggunakan alternatif penggunaan plastik seperti bioplastik, tas kain, tumblr dan lainnya.

Banyak upaya lain yang dapat dilakukan dalam penanganan sampah plastik tetapi poin di atas menjadi fundamental mengingat sebagian besar sampah plastik berasal dari individu/kelompok manusia itu sendiri, misalnya saja sampah rumah tangga. Dampak nyata sampah plastik terus terjadi dan berulang. “Kesadaran” adalah titik utama dalam mengurangi penggunaan “plastik” di seluruh dunia. Dunia harus bergerak dan berpacu dengan waktu untuk mengatasi ancaman polusi plastik. Jika tidak, beberapa kehidupan dapat hilang, punah dan hanya tersisa penyesalan di masa yang akan datang.

BACA JUGA:
Fakta Tragis di Balik Tren Pelepasan Burung untuk Acara Peresmian

Referensi[+]

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments