Orangutan Jantan Dilepasliarkan ke Hutan Lindung Sungai Paduan

  • Share
Orangutan kalimantan yang dilepasliarkan di Hutan Lindung Sungai Paduan, Senin (13/6). | Foto: Abdan Syakura/Republika
Orangutan kalimantan yang dilepasliarkan di Hutan Lindung Sungai Paduan, Senin (13/6). | Foto: Abdan Syakura/Republika

Gardaanimalia.com – Satu individu orangutan jantan berhasil dilepasliarkan ke kawasan Hutan Lindung Sungai Paduan, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Senin (13/6).

Pelepasliaran tersebut dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama KPH Kayong, Yayasan Alam Rehabilitasi Indonesia, Yayasan Palung, dan LPHD Nipah Kuning dan LPHD Padu Banjar.

Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah Kayong, Dwi Erlina Susanti menyebut, lokasi habitat yang dipilih memiliki komposisi makanan yang banyak.

“Kami sangat mendukung kegiatan translokasi orangutan yang dilakukan di Hutan Lindung Sungai Paduan karena masih memiliki komposisi pohon makanan yang banyak untuk orangutan yaitu sekitar 70 persen,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Saat ini, kata Erlina, kondisi wilayah hutan Desa Nipah Kuning seluas 2.051 hektare yang menjadi rumah baru buat orangutan tersebut merupakan habitat yang bagus.

Ia menjelaskan, bahwa dari empat hutan desa yang ada di kawasan Hutan Lindung Sungai Paduan, hutan Desa Nipah Kuning ini adalah kawasan hutan yang paling baik.

“Selain ketersediaan pohon makanan yang cukup banyak, tutupan hutan di sana juga lebih baik sehingga sangat cocok untuk habitat orangutan,” imbuhnya.

Dirinya menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak sehingga pelepasliaran orangutan berjalan lancar. “Saya juga berharap pada lokasi Hutan Lindung Sungai Paduan habitatnya tetap terjaga,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta memberikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam upaya penyelamatan satwa endemik Kalimantan tersebut.

“Namun demikian sebenarnya tanggung jawab sepenuhnya terhadap kelestarian satwa liar bukan semata dibebankan kepada pemerintah, dan sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap konservasi,” paparnya.

BACA JUGA:
Beruang Madu Memasuki Permukiman, BKSDA Pasang Perangkap

Menurut Sadtata, dibutuhkan sebuah konsep pengembangan yang bisa menjadi solusi permanen dan memberikan penyelesaian jangka panjang.

“Dengan mempertimbangkan perkembangan dan pertumbuhan lanskap dan sosial masyarakat kita,” lanjutnya.

Ujarnya, manusia sudah harus mulai membiasakan diri dengan kehadiran satwa liar di sekitar mereka. Manusia harus bisa hidup “berdampingan” dengan satwa liar untuk menjamin keberlangsungan kelestariannya.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments