Opini  

Pelihara Satwa Liar? Tidak! Satwa Lebih Baik #dihutanaja

Pelihara Satwa Liar? Tidak! Satwa Lebih Baik #dihutanaja
Satwa liar seperti Monyet ekor panjang banyak diperjualbelikan sebagai peliharaan. Foto: Gardaanimalia.com/pr

Gardaanimalia.com – Saat ini banyak sekali perbincangan tentang kontroversi kepemilikan satwa liar, sebenernya apasih satwa liar itu? Menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, di air dan di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia.

Banyak orang memelihara satwa liar untuk dimanfaatkan dalam hal-hal tertentu, seperti dalam segi ekonomi, transportasi, penelitian dan keamanan.

Secara hukum, satwa liar ini boleh dipelihara asalkan dengan memperhatikan kelangsungan potensi, daya dukung dan keanekaragaman jenis satwa liar.

Namun dengan semakin menurunnya populasi satwa liar saat ini di habitatnya, bijakkah memelihara satwa liar untuk kesenangan? Jawabannya adalah tidak!

Kami jabarkan satu-satu alasannya:

Peran Satwa Liar di Alam

Kehidupan satwa liar berperan sangat besar pada ekosistem hutan, sebaliknya hutan juga menyediakan sumber makanan, dan rumah bagi satwa.

Keberadaan hutan dan satwa berjalan saling beriringan dalam meneruskan kehidupan di muka bumi. Tak hanya bagi kehidupan mereka, kehidupan manusia pun bergantung besar pada keberadaan hutan dan satwa liar.

Menurunnya populasi satwa liar dapat merusak kestabilan ekosistem hutan. Tanpa adanya satwa liar, perputaran rantai makanan, penyerbukan bunga, penyebaran biji dan penyuburan tanah tidak dapat berjalan dengan baik.

Tak hanya di darat, Satwa air juga berperan sebagai penyaring zat pencemar air dan membersihkan air. Sehingga membantu menurunkan polusi yang disebabkan oleh manusia.

Populasi yang Menurun

Seiring bertambah pesatnya jumlah penduduk dan kebutuhan dasar manusia, eksploitasi hutan terjadi secara berkelanjutan. Pengawahutanan (deforestasi) dan perburuan satwa liar dilakukan hingga lepas kendali.

BACA JUGA:
Mengenai Keluarga Primata yang Dirampas Haknya

Semenjak pembukaan hutan dan mudahnya akses manusia keluar masuk hutan, satwa-satwa diburu dan diperdagangkan secara ilegal di pasar-pasar, beberapa dibunuh karena berkonflik dengan manusia.

Dengan meningkatnya permintaan, secara otomatis akan tinggi pula angka perburuan satwa liar. Hal ini menjadi faktor penurunan populasi satwa di habitatnya.

Perburuan burung secara besar-besaran juga menyebabkan kondisi yang disebut “silent forest,” di mana hutan sudah sepi karena tak berpenghuni. Padahal, keberadaan burung merupakan indikator alami kualitas lingkungan.

Kesejahteraan Satwa

Kesejahteraan satwa liar harus diperhatikan apabila dipelihara oleh manusia. Terdapat 5 hak kesejahteraan hewan yang harus dikondisikan pada peliharaan, yaitu:

  1. Bebas dari rasa lapar dan haus
  2. Bebas dari rasa panas dan tidak nyaman
  3. Bebas dari luka, sakit, dan penyakit
  4. Bebas berekspresi sesuai dengan sifat alaminya
  5. Bebas dari rasa takut dan penderitaan/ stres

Selama pemelihara tidak mampu memastikan hak tersebut dapat dipenuhi, maka tidak ada alasan apapun untuk memelihara satwa liar.

Satwa liar pada dasarnya bukan peliharaan. Satwa liar rentan menjadi buas dan membahayakan masyarakat sekitar saat beranjak dewasa. Sifat-sifat liar satwa secara naluri tidak akan hilang sepanjang hidupnya.

Satwa liar pada umumnya tidak terbiasa hidup berdekatan dengan manusia, kebanyakan dari mereka menunjukkan gejala stress, hingga kemudian melukai dirinya sendiri ataupun menyerang manusia.

Banyak pemelihara tidak sanggup mengontrol sifat alami satwa liar yang dipelihara. Sudah banyak kasus pemeliharaan satwa liar berakhir dengan tragedi menyedihkan. Misalnya, Monyet dan Owa yang menyerang warga, harimau yang menyerang pemiliknya ataupun buaya yang membunuh perawatnya.

Pemelihara juga cenderung mengurung satwa-satwa liar dalam kandang yang kebanyakan tidak layak huni.

Sebagian besar juga tidak sanggup membiayai kebutuhan satwa liar yang sangat mahal, pada akhirnya menelantarkan satwa hingga berujung kematian.

BACA JUGA:
Monyet Dijebak dengan Perangkap Lantaran Masuk Permukiman Warga

Kesehatan

Memelihara satwa liar juga dapat meningkatkan potensi penyebaran penyakit Zoonotic, yaitu pelompatan virus dari satwa ke manusia, seperti yang terjadi pada virus SARS-CoV-2 di pandemi COVID-19.

Faktanya, 75 persen penyakit baru atau yang muncul berasal dari hewan, dan lebih dari 60 persen penyakit menular yang diketahui pada manusia, seperti virus rabies, kurap dan bakteri salmonella, ditularkan dari hewan sesuai yang disampaikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Satwa liar dapat menyimpan penyakit dalam tubuhnya, contohlah Hepatitis, TBC, Toksoplasma, Leptospirosis dan Herpes. Primata dapat menularkan penyakit seperti Hepatitis melalui gigitan dan cakaran, Musang dapat menularkan leptospirosis, sementara Kucing hutan dapat membawa toksoplasma.

Pemeliharaan yang kurang baik meningkatkan potensi satwa menjadi sakit, kalau apes, penyakit yang berada di tubuh satwa liar bisa menular pada pemelihara dan keluarganya.

Etika dan Moral

Memelihara satwa liar bukan hal mudah, perlu komitmen besar dalam merawat dan membesarkannya, sama seperti anak sendiri.

Sama halnya dengan manusia, satwa liar juga butuh kasih sayang dan kebutuhan bersosialisasi dengan sesamanya, seperti primata yang merupakan satwa berkelompok.

Masalahnya kebanyakan masyarakat belum menganggap kesejahteraan satwa sebagai hal yang perlu diperhatikan, masyarakat Indonesia menganggap satwa itu sebagai benda atau properti.

Padahal satwa liar juga makhluk hidup yang perlu diperhatikan haknya, kebutuhannya, kesejahteraannya dan psikologisnya. Ingat, nyawa satwa bukan mainan yang disia-siakan hanya demi kesenangan semata.

Jadi katakan Tidak! untuk pelihara satwa liar.

Kandang dan rumah bukan habitat alami satwa liar. Satwa liar sebaiknya dibiarkan #dihutanaja untuk melaksanakan fungsi alaminya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments