Pembunuhan Satwa Liar Dengan Senapan Angin Menjadi-jadi

 

Penggunaan senapan angin untuk menembak satwa liar kini menjadi-jadi. Banyaknya masyarakat yang masih awam tentang peraturan penggunaan senapan angin menambah seringnya kasus penembakan satwa liar hingga menyebabkan kematian. Ironisnya, hasil pembunuhan itu dipamerkan dengan bangga di media sosial masing-masing.

Masih banyak orang yang beranggapan bahwa pembunuhan satwa menggunakan senapan angin itu merupakan hal lumrah. Apalagi kalau satwa itu merupakan hama, seperti tupai, burung bangau, atau burung pipit. Penjualan senapan angin secara bebas juga dijadikan alasan bagi sebagian orang untuk tetap menggunakan senapan angin sesuka hatinya. Tak sampai hati, Satwa dilindungi pun ditembak pula.

Pembunuhan Satwa Liar Dengan Senapan Angin Menjadi-jadi
Dua orang pemuda yang tega membunuh satwa dilindungi yaitu Elang ular bido menggunakan senapan angin lalu dipamerkan di media sosial

Padahal peraturan tentang penggunaan senapan angin sudah tertera cukup jelas dalam Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia nomor 8 tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olahraga. Dalam Pasal 4 ayat (1) dan (3), senapan angin (air rifle) termasuk ke dalam senjata api olahraga yang pemakaiannya hanya digunakan untuk menembak sasaran atau target. Sedangkan dalam pasal 5 ayat (3), Senapan angin (air rifle) hanya dilakukan di lokasi pertandingan dan latihan.

Selain itu setiap orang yang memiliki senapan angin berkewajiban untuk memiliki izin dari Kepolisian dengan persyaratan tertentu. Hal ini ditetapkan dalam Pasal 12 ayat (1), yaitu :

Persyaratan untuk dapat memiliki dan/atau menggunakan Pistol Angin (Air
Pistol) dan Senapan Angin (Air Rifle) untuk kepentingan olahraga sebagai
berikut:

  1.  Memiliki kartu tanda anggota klub menembak yang bernaung di bawah
    Perbakin;
  2.  Berusia paling rendah 15 (lima belas) tahun dan paling tinggi 65 (enam
    puluh lima) tahun;
  3.  Sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan Surat Keterangan dari
    Dokter serta Psikolog; dan
  4. Memiliki keterampilan menembak yang dibuktikan dengan surat
    keterangan yang dikeluarkan oleh Pengprov Perbakin.
BACA JUGA:
Harimau Sumatra Korban Jerat Pemburu Dilepasliarkan BKSDA Aceh

Sementara untuk berburu, dijelaskan dalam Pasal 41 bahwa Pemegang Senjata Api untuk kepentingan olahraga dilarang menggunakan atau menembakkan senjata api di luar lokasi latihan, pertandingan, dan berburu. Sementara itu untuk berburu diperlukan izin dari Polres ataupun Polda setempat.

Sudah jelas dari ketetapan pasal-pasal ini, penggunaan senapan angin untuk menembak satwa liar sudah diluar konteks. Satwa liar jelas bukan target tembak dan lokasinya juga diluar dari ketentuan lokasi tembak, kecuali jika diizinkan oleh kepolisian setempat.

Pembunuhan Satwa Liar Dengan Senapan Angin Menjadi-jadi
Pelaku Pembunuhan orangutan dengan senapan angin di PT. WSSL, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah dijerat UU darurat atas kepemilikan senjata api rakitan secara ilegal serta atas pembunuhan individu orangutan, diancam dengan hukuman minimal lima belas tahun penjara serta denda minimal 2,5 miliar rupiah.

STOP Penggunaan Senapan Angin Untuk menembak Satwa Liar!! #terorsenapanangin

Berikut Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia nomor 8 tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olahraga :

Download (PDF, Unknown)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments