Pengobatan Tradisional Tiongkok Dikhawatirkan Picu Kepunahan Satwa

  • Share
Sisik Trenggiling yang beredar di Kamerun. | Foto: Keith Cameron/USFWS via Wikicommons
Sisik Trenggiling yang beredar di Kamerun. | Foto: Keith Cameron/USFWS via Wikicommons

Gardaanimalia.com – Pengobatan tradisional Tiongkok (Traditional Chinese Medicine) kini kian meluas dan diminati oleh banyak negara di Afrika.

Hal ini dikhawatirkan memicu perdagangan ilegal satwa liar dan mengancam masa depan beberapa spesies terancam punah di dunia seperti badak, trenggiling, dan macan tutul.

Sebuah Lembaga Investigasi Lingkungan di London (EIA), yang berfokus pada penyelidikan kejahatan satwa dan lingkungan merilis laporan pada Rabu (10/11) bahwa pengobatan tradisional ini picu kenaikan perburuan satwa.

China mempromosikan metode pengobatan yang sudah ada sejak 2500 tahun ini bersamaan dengan pengembangan proyek infrastruktur di seluruh Afrika, mengutip dari unggahan tertulis Al Jazeera, Rabu (10/11).

Sebagian besar pengobatan ini berbasis tanaman, namun sebagian lagi menggunakan hewan yang populasinya terancam punah, seperti trenggiling dan badak.

Juru Kampanye Satwa Liar EIA Ceres Kam menyampaikan kekhawatiran atas isu ini. “Pada akhirnya, perkembangan TCM yang tak terkekang bisa menimbulkan ancaman serius bagi keanekaragaman hayati yang ditemukan di banyak negara Afrika. Semuanya atas nama keuntungan jangka pendek,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan.

“Setiap pemanfaatan spesies di TCM akan berpotensi memicu permintaan lebih banyak dan mendorong kejahatan terhadap satwa liar yang menyebabkan eksploitasi berlebihan,” jelasnya.

Pun Lethal Remedy, dalam laporan tersebut mengutarakan bahwa beberapa produk pengobatan tradisional China itu sangat mudah diakses di Afrika, sehingga jelas menimbulkan ancaman besar bagi keberlangsungan satwa yang tengah di ambang kepunahan.

Di tengah-tengah pandemi Covid-19, perusahaan dan klinik TCM juga didirikan di negara-negara di seluruh benua Afrika guna meningkatkan kegiatan promosi.

Diungkapkan pula bahwa beberapa pengecer sedang membangun atau mencari rantai pasok langsung ke sumber penjualan.

Untuk itu, EIA melalui Kam mendesak pemerintah untuk turut melakukan pengawasan ketat pada TCM, sekaligus melakukan tindakan pencegahan terhadap pemanfaatan satwa liar yang terancam punah dalam produknya.

BACA JUGA:
Warga Aceh Dituntut 3 Tahun Kurungan Penjara Karena Menjual Sisik Trenggiling

Selain itu, yang juga menjadi catatan adalah status larangan penggunaan cula badak dan bagian tubuh harimau di Afrika yang pernah diberlakukan pada tahun 1993, namun tiba-tiba dicabut pada 2018 silam.

“Kami memahami bahwa pengobatan tradisional merupakan bagian integral dari banyak budaya dan memainkan peran krusial dalam perawatan kesehatan di Afrika dan sekitarnya,” ujar Kam.

“Kekhawatiran kami yang sangat nyata adalah bahwa ekspansi TCM yang begitu besar di Afrika akan berdampak pada meningkatnya permintaan secara drastis untuk perawatan yang mengandung satwa liar, sehingga menyebabkan lebih banyaks spesies yang terancam punah,” tambahnya.

Penggunaan spesies langka sebetulnya telah dilarang di China. Namun masih ada beberapa yang mengajukannya sebagai resep obat seperti afrodisiak untuk mengobati kanker hingga kondisi kulit.

Dengan masih jalannya pandemi Covid-19, diprediksikan isu kesehatan bisa saja memperkuat relasi pengobatan tradisional China dan Afrika.

Pada akhir November ini, hal tersebut kemungkinan akan menjadi topik utama di Forum Kerjasama China-Afrika (FOCAC) yang diadakan di Senegal.

Dalam hal ini, EIA mencatat beberapa negara seperti Afrika Selatan, Kamerun, Tanzania, dan Togo, tercantum di antara negara-negara Afrika yang sudah menandatangai perjanjian untuk mengembangkan pengobatan tradisional dengan China.

Sementara beberapa negara lain seperti Afrika Selatan dan Namibia telah mengakui pengobatan tradisional China sebagai metode Kesehatan masyarakat mereka.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments