Populasi Badak Sumatera Hampir Punah, Suaka pun Dibangun

  • Share
Peresmian Suaka Badak yang akan dibangun di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Kamis (11/11). | Foto: Mudanews
Peresmian Suaka Badak yang akan dibangun di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Kamis (11/11). | Foto: Mudanews

Gardaanimalia.com – Pembangunan Suaka Badak Sumatera atau Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh resmi dimulai, Kamis, (11/11).

Jefry Susyafrianto, Direktur Pengelolaan Kawasan Konservasi di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan bahwa suaka badak sumatera ini diharapkan dapat menjaga kelestarian populasi satwa langka tersebut.

“Untuk menghindari bahaya kepunahan, menjaga kemurnian genetik dan keanekaragaman jenis, memelihara keseimbangan dan kemantapan ekosistem,” terang Jefry dikutip dari Medcom.

Populasi badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), menurut Jefry saat ini jumlahnya diperkirakan kurang dari 100 individu di Indonesia, tersebar di hutan Aceh, Lampung, dan Kalimantan.

Sehingga pembangunan suaka badak menjadi salah satu langkah nyata untuk menyelamatkan badak sumatera dari kepunahan.

Dalam penyampaiannya, Jefry mengungkapkan populasi badak sumatera paling besar diprediksi berada di hutan Aceh, yaitu di dalam kawasan ekosistem Leuser. Di mana lokasi ini bersebelahan dengan suakan badak di Aceh Timur.

Pembangunan suaka badak tersebut juga direncanakan akan menajdi pusat pendidikan, riset badak, dan ekowisata, ujar Jefry.

”Pembangunan suaka di sini (Aceh Timur) untuk menyelamatkan badak yang ada di Leuser Timur dan Barat. Kita semua harus terlibat menyelamatkannya. Kita berdoa agar ini menjadi sebuah keberhasilan melahirkan badak-badak lain,” harapnya melansir Kompas.

Sementara itu, Direktur Tropical Forest Conservation Action (TFCA)-Sumatera, Samedi mengutarakan bahwa dulu populasi badak di Malaysia juga sama kondisinya seperti di Indonesia sekarang. Namun, sudah sekitar 20 tahun yang lalu, populasi badak di sana punah.

Oleh karena itu, menurut Samedi badak sumatera di Indonesia saat inilah harapan dunia. Jika di Indonesia, populasi badak juga musnah, maka hal itu sudah pasti menjadi kerugian besar bagi dunia.

BACA JUGA:
Teknologi Reproduksi Jadi Upaya Cegah Kepunahan Badak Sumatera

“Jangan sampai pada ulang tahun ke 100 nanti, badak Sumatra sudah tidak ada. Kita berharap pembangunan ini nantinya bermanfaat bagi masyarakat sekitar sehingga dapat bekerja sama dengan masyarakat dengan memberdayakan ekonomi masyarakat agar ada timbal baliknya,” tutur Samedi.

Ia melanjutkan, bahwa sesudah pembangunan ini selesai, badak-badak yang masih berada di kawasan ekosistem Leuser akan dievakuasi ke dalam suaka menggunakan helikopter.

Rencana tersebut tentu akan terbantu, karena saat ini sebagian kecil keberadaan badak sudah diketahui melalui tanda-tanda seperti bekas tapak dan pucuk-pucuk tumbuhan yang dipelintir untuk dimakan oleh badak Asia bercula dua tersebut.

Harapan juga datang dari Bupati Aceh Timur, Hasballah M Thaib mengutarakan bahwa warganya sangat bangga atas pembangunan suaka tersebut.

”Penyelamatan badak akan membuat nama Aceh timur, Provinsi Aceh, dan Indonesia harum di dunia internasional karena kita berhasil menyelamatkan badak,” ungkapnya.

Ia juga menjamin kepada para pihak terkait bahwa pembangunan suaka badak tersebut akan berjalan sesuai dengan rencana.

Senada dengan itu, Dedi Yansyah, Koordinator Konsorsium Badak Utara Unit Pelaksana Proyek Program di Leuser mengatakan, tahapan pembangunan suaka saat ini berjalan sesuai dengan rencana.

Proses perizinan, dokumen analisis mengenai dampak lingkungan, dan detail engineering design (DED) pun telah rampung, lanjutnya. Dalam DED sendiri meliputi beberapa fasilitas yang akan dibangun seperti gedung administrasi, laboratorium, areal perawatan, dan barak pekerja.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments