Satwa Liar di Bawah Tekanan Perubahan Iklim

  • Share
Gambar rusa hutan api kebakaran. | Foto: Comfreak/Pixabay
Gambar rusa hutan api kebakaran. | Foto: Comfreak/Pixabay

Gardaanimalia.com – COP26 (Climate Change Conference of the Parties) merupakan konferensi yang dihadiri oleh pemimpin-pemimpin dunia dengan mengangkat isu iklim sebagai objek bahasan utama.

Pada 1992, PBB menyelenggarakan pertemuan besar di Rio de Janeiro, Brasil yang disebut Earth Summit. Dalam acara tersebut, Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) diadopsi. Tahun ini, COP26 diselenggarakan di Glasgow, Skotlandia pada 31 Oktober-12 November 2021 lalu.

Perubahan iklim telah menjadi masalah nyata dan serius bagi masyarakat global yang mengancam banyak jiwa dalam tiga dekade terakhir. Perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca menyebabkan banyak bencana alam di seluruh bagian bumi.

Menurut sekjen PBB, Antonio Guterres serta ilmuwan di Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menjelaskan ambang batas 1,5 derajat celcius adalah satu-satunya jalan untuk mencegah kerusakan lebih parah di muka bumi.[1]https://www.icctf.or.id/apa-itu-cop26-dan-mengapa-penting/

Kenyataan Tidak Semanis Pernyataan

Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan (IPSDH) Ditjen PKTL, Belinda A. Margono menjelaskan, Indonesia mengalami penurunan deforestasi sebesar 75,03 persen pada periode 2019/2020 yang merupakan angka deforestasi netto. Perhitungan deforestasi ini mencakup di dalam maupun di luar kawasan hutan Indonesia.

Pada konverensi COP26, Presiden Joko Widodo mengklaim Indonesia berhasil menurunkan laju deforestasi secara signifikan pada 2021, bahkan terendah dalam dua dekade terakhir serta menurunkan kebakaran hutan sebesar 82 persen dan merehabilitasi 3 juta lahan kritis selama 2010-2019.[2]https://www.menlhk.go.id/site/single_post/3645

Namun, Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Arie Rompas mengungkapkan data tersebut tidak dapat menjadi prestasi yang membanggakan Indonesia pada konferensi COP26.

Arie Rompas menjelaskan rincian data deforestasi dalam beberapa tahun terakhir yaitu 629,2 ribu ha pada periode 2015-2016, 480 ribu ha pada periode 2016-2017, 439,4 ribu ha pada periode 2017-2018.

Kemudian, lanjut Arie, pada periode 2018-2019 seluas 462,5 ribu ha, dan periode 2019-2020 sebesar 115,5 ribu ha. Sehingga, jika ditotal luas deforestasi mencapai 2,13 juta ha atau setara dengan 3,5 kali luas Pulau Bali.

BACA JUGA:
Refleksi: Menjaga Hayati, Merayakan Hari Strategi Konservasi

Pada akhirnya, deforestasi masih terus berlangsung dalam skala besar hingga saat ini dan belum mengalami penurunan yang signifikan mengingat hilangnya sebagian besar hutan dan lahan hijau di Indonesia hanya dalam kurun waktu beberapa tahun saja.[3]https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211110173824-20-719349/greenpeace-sebut-luas-deforestasi-era-jokowi-tiga-kali-pulau-bali

Dalam skala ini tentunya berbagai spesies satwa telah kehilangan habitat dalam jumlah besar. Deforestasi yang masih berlanjut semakin mendesak spesies satwa ke ambang kepunahan.

Ancaman kepunahan yang semakin tidak terkontrol akan menyebabkan hilangnya biodiversitas yang akan berdampak besar pada keseimbangan ekosistem dan akan memperparah kondisi perubahan iklim.

Korban Perubahan Iklim Tidak Hanya Manusia

Dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan oleh manusia dan lingkungan di sekitarnya. Perubahan iklim memengaruhi seluruh bagian ekosistem yang ada di bumi. Satwa liar tidak luput dari efek yang ditimbulkan akibat perubahan iklim tersebut.

Perubahan iklim menuntut sebagian spesies satwa untuk beradaptasi dengan lingkunganya yang mengalami perubahan. Adaptasi ini dapat memengaruhi beberapa hal dalam kehidupan satwa liar seperti morfologi, habitat, migrasi, reproduksi bahkan tingkah laku.

Akibat nyata dari perubahan iklim dialami oleh hampir seluruh spesies satwa di dunia termasuk Indonesia.

Tingginya laju deforestasi di Indonesia mengancam habitat spesies satwa liar terutama dengan status dilindungi. Meningkatnya laju perubahan iklim berbanding lurus dengan tingginya prediksi kepunahan satwa di masa depan.

Pakar Ekologi Univeristy of Connecticut, Mark Urban melakukan riset meta analisis yang menunjukkan bahwa 7,9 persen spesies flora dan fauna akan punah akibat peningkatan suhu.

Angka tersebut akan bervariasi tergantung pada tingkat keparahan pemanasan; kenaikan suhu 2°C (35°F) menghapuskan 5,2 persen dari total spesies, dan 4,3°C (40°F) akan memusnahkan 16 persen dari seluruh spesies di bumi.

Satwa Berada di Bawah Tekanan Perubahan Iklim

Penelitian Sara et.al (2021) mengungkapkan pemanasan global dapat mengubah morfologi spesies satwa berdarah panas seperti paruh, telinga, dan kaki yang lebih besar karena menyesuaikan dengan suhu tubuh mereka dengan iklim yang lebih panas.

Penelitian ini mengamati lebih dari 30 spesies untuk melihat perubahan bentuk tubuh. Salah satu perubahan terbesar ditemukan pada beberapa jenis burung beo Australia yang mengalami perubahan rata-rata 4 persen menjadi 10 persen sejak tahun 1871.

BACA JUGA:
Pengobatan Tradisional Tiongkok Dikhawatirkan Picu Kepunahan Satwa

Hal ini memungkinkan hewan untuk mengontrol suhu mereka lebih mudah. Pada saat yang sama, terdapat beberapa spesies yang ukuran tubuhnya cenderung menyusut, karena tubuh yang lebih kecil menahan lebih sedikit panas.

Sara menjelaskan bahwa hal tersebut pertanda spesies tertentu mengalami evolusi, namun bukan berarti mampu mengatasi perubahan iklim.[4]https://www.mongabay.co.id/2021/09/20/akibat-perubahan-iklim-bentuk-tubuh-hewan-bisa-berubah/

Contoh lain spesies yang sensitif terhadap perubahan iklim yaitu katak tropis, yang baru-baru ini ditemukan yaitu Microhyla sriwijaya. Katak ini merupakan amfibi tropis yang habitatnya terancam akibat kegiatan manusia dan aktivitas antropogenik.

Dilansir dari Mongabay, Peneliti herpetologi dari Kantor Pusat Riset Biologi-Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati, Amir Hamidy menjelaskan perubahan iklim dan penggunaan lahan dapat mengurangi daerah layak huni bagi katak tersebut.

Katak merupakan hewan berdarah dingin yang mengandalkan sumber eksternal untuk mengatur suhu tubuhnya. Perubahan iklim yang kian siginifikan dapat memengaruhi perilaku reproduksi dan fisiologi spesies ini.[5]https://www.mongabay.co.id/2021/09/17/katak-kecil-bermulut-sempit-jenis-baru-yang-sensitif-pada-perubahan-iklim/

Konservasi Satwa dalam Mitigasi Krisis Iklim

Salah satu tema yang disinggung dalam COP26 yaitu pentingnya melindungi habitat dan satwa liar. Tema ini penting dan baik, namun seringkali terabaikan karena peran satwa liar dianggap tidak berhubungan langsung dalam perubahan iklim.[6]https://www.forestdigest.com/detail/1398/konservasi-satwa-liar-dalam-cop26 Padahal seperti yang kita ketahui, satwa-satwa merasakan dampak dari perubahan iklim tersebut tanpa perantara apapun.

Selain terdampak langsung, beberapa spesies satwa mempunyai peran dalam mengurangi fenomena perubahan iklim. Paus misalnya, ia merupakan mamalia laut yang diketahui dapat menyerap karbon dalam jumlah besar di atmosfer.

Semasa hidupnya paus dapat menangkap dan menyimpan karbon rata-rata sebesar 33 ton CO2 yang terakumulasi dalam tubuhnya sebelum bangkai paus tenggelam ke dasar laut. Jumlah ini lebih besar dibandingkan sebatang pohon yang hanya menyerap hingga 48 pon CO2 setahun.[7]https://www.mongabay.co.id/2021/02/21/ini-9-fakta-unik-paus-hewan-penyerap-karbon-terbesar-dunia/

Tidak menutup kemungkinan banyak spesies lain yang juga mempunyai peran serupa dalam mengurangi emisi karbon. Peran nyata satwa dalam bencana perubahan iklim perlu mendapat perhatian yang sejajar dengan pembahasan layaknya transisi energi yang menjadi salah satu topik utama COP26.

BACA JUGA:
Satwa Liar Jadi Korban 'Perang' Manusia dengan Alam

Kehilangan biodiversitas, khususnya spesies satwa akan semakin memperparah keadaan krisis iklim. Hal ini merupakan fakta yang kerap disisihkan.

Daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List menyebutkan terdapat 1194 fauna Indonesia yang berada diambang kepunahan.[8]https://www.greeners.co/berita/presiden-jokowi-ungkap-mitigasi-perubahan-iklim-indonesia-di-cop-26/

Punahnya spesies fauna akan memicu bencana besar. Salah satu contohnya yaitu munculnya zoonosis pada manusia akibat hilangnya inang asli penyakit yaitu satwa liar.

Konservasi Satwa adalah Tanggung Jawab Manusia

Sebagian besar faktor dan dampak perubahan iklim terjadi akibat aktivitas manusia seperti pembukaan lahan, konversi hutan, penebangan liar dan aktivitas pertambangan yang diikuti hilangnya biodiversitas sebagai komponen pendukung ekosistem di bumi.

Studi yang dilakukan oleh Dr. Viktoriia Radchuk dari Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research mengungkapkan selama beberapa dekade terakhir satwa-satwa yang ada di bumi ini tidak cukup cepat untuk mengimbangi perubahan iklim, berbagai spesies satwa telah mengalami perubahan kondisi tubuh dan perilaku.[9]https://forestation.fkt.ugm.ac.id/2019/08/10/bagaimana-dampak-perubahan-iklim-terhadap-satwa-di-sekitar-kita/

Berangkat dari permasalahan tersebut, kita mengetahui bahwa kesadaran akan pentingnya peran satwa bagi kehidupan di muka bumi haruslah tertanam pada tiap-tiap individu.

Pemerintah sebagai pemangku kebijakan perlu dengan tegas dan berkomitmen untuk menghentikan segala bentuk kegiatan dan faktor penyebab perubahan iklim terutama konservasi satwa yang sering luput dari perhatian.

Satwa yang punah tidak dapat terlahir kembali di muka bumi, hal terakhir yang akan nampak adalah penyesalan akan suatu kehilangan.

Akankah generasi masa depan dapat menikmati keanekaragaman hayati seperti saat ini? Pertanyaan ini akan terjawab tergantung dengan tindakan yang telah dilakukan dan keputusan yang akan dibuat di masa sekarang ataupun di masa mendatang.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments