SCF Temukan Katak Bertanduk di Pegunungan Sanggabuana

  • Share
Gambar katak tanduk jawa di hutan Pegunungan Sanggabuana. | Foto: Deby Sugiri/SCF
Gambar katak tanduk jawa di hutan Pegunungan Sanggabuana. | Foto: Deby Sugiri/SCF

Gardaanimalia.com – Di hutan Pegunungan Sanggabuana, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, teridentifikasi dua ekor katak tanduk jawa (Megophrys montana) selama bulan April 2022.

Megophrys montana tersebut ditemukan oleh Tim Eksplorasi dari Divisi Pelestarian dan Perlindungan Satwa (DPPS) Sanggabuana Conservation Foundation (SCF).

“Hasilnya ditemukan 12 jenis amfibi, salah satunya adalah katak tanduk jawa atau Javan horned frog,” ungkap Deby Sugiri, Ketua Tim Eksplorasi DPPS SCF dalam keterangannya kepada Kompas, Senin (18/4) malam.

Dia mengatakan, amfibi bertanduk ini ditemukan di lokasi yang tak jauh dari aliran sungai di sekitar air terjun pada ketinggain kurang lebih 750 meter di atas permukaan laut.

Tujuan awal berangkat ke hutan yang berada di wilayah pengelolaan Badan Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Pangkalan tersebut, tutur Deby, adalah memang untuk herping dan pengamatan satwa nokturnal.

“Jadi pendataan di lakukan malam hari. Kebetulan katak bertanduk ini aktif di malam hari, jadi teridentifikasi oleh tim di malam hari,” ujarnya.

Dalam pengamatan tim, Deby mengatakan, jumlah katak yang berhasil diidentifikasi sebanyak dua ekor dengan jenis kelamin jantan.

Satwa yang kadang juga disebut Asian spadefoot toad tersebut memiliki ukuran sebesar ibu jari kaki orang dewasa. Di mana ukuran katak bertanduk jantan lebih kecil, sementara betina bisa empat kali lebih besar dari itu.

“Katak endemik Jawa ini mempunyai ukuran sampai sekitar 10 sentimeter untuk katak betina, sedangkan yang jantan berukuran lebih kecil,” jelasnya.

Dirinya memaparkan, bahwa satwa ini memiliki tanduk di kepalanya yang berada tepat di atas kedua matanya. Kedua tanduk tersebut sebenarnya adalah perpanjangan dermal pada bagian mata yang menyerupai tanduk.

Tanduk palsu atau tonjolan yang merupakan perpanjangan dermal pada bagian mata tersebut juga tampak di bagian hidung katak dari suku Megophrydae yang meruncing.

BACA JUGA:
Microhyla Sriwijaya, Pelompat Asal Belitung dan Lampung

Kata Deby, Megophrys montana tersebut biasa bersembunyi di balik serasah daun di dasar hutan, sehingga kadang juga disebut katak serasah.

Katak ini biasa ditemukan di dataran menengah sampai dataran tinggi di ketinggian 2.000 mdpl. Tubuhnya berwarna cokelat keabu-abuan sampai cokelat kemerah-merahan.

Pun terdapat bintik kehitaman di bawah mata dan sepasang bentol di bagian belakang antara kedua kakinya. “Warna yang mirip serasah daun ini membantu katak bertanduk berkamuflase dengan kondisi hutan,” ucapnya.

Meski tidak termasuk satwa dilindungi, namun menurut Dewan Pembina SCF, Bernard T. Wahyu Wiryanta, adanya temuan ini dapat memperkaya database keanekaragaman hayati Pegunungan Sanggabuana.

Tak hanya itu, temuan tersebut juga tetap dilaporkan ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Eksplorasi oleh Tim SCF ini merupakan bagian dari penyusunan prakajian terkait usulan perubahan status kawasan Pegunungan Sanggabuana menjadi Taman Nasional,” tutur Bernard.

Keberadaan satwa tersebut kerap dijadikan indikator lingkungan. Apabila masih ada katak bertanduk, berarti ekosistemnya masih bagus.

“Paling tidak ini menjadi indikator juga untuk upaya pelestarian dan perlindungan yang dikerjakan SCF berada di jalur yang benar. Keberadaan herpetofauna (binatang melata jenis amfibi dan reptil) sangat penting dalam rantai makanan dan menjadi bioindikator lingkungan,” pungkasnya.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments