Sebuah Dekonstruksi: Imago Kupu-kupu Bukan Kupu-kupu

  • Share
Imago kupu-kupu. | Foto: Dwi Laksono
Gambar imago kupu-kupu (setelah melalui tahap ulat atau larva dan kepompong atau pupa). | Foto: Dwi Laksono

Gardaanimalia.com – Kupu-kupu lebih sering dijelaskan sebagai serangga yang memiliki sayap dengan varian warna dan motifnya yang indah, pun memiliki varian ukuran serta bentuk yang juga tak kalah menarik. Ya, tentu, kita juga mengenalnya sebagai serangga yang dapat terbang.

Stop! Berhenti di situ. Penjelasan secara teknis estetika, mungkin, itu konteksnya hanya ada dalam kepentingan kesenangan sebagian besar dari species Homo sapiens.

Meski tak ada yang salah dengan sebutan “ia bukanlah kupu-kupu” ketika tidak terbang dan tidak berwarna serta bermotif indah. Namun, sudut pandang demikian telah mengisolasi kita ke dasar jurang paling dalam, tentang apa yang disebut pertumbuhan dan perkembangan.

Karena sering kali kita menganggap kupu-kupu dewasa dengan keindahan bentuk dan warnanya, seolah sudah begitu sejak sedia kala. Padahal sebelum menjadi serangga terbang dewasa, ia adalah ulat yang acap kali kita abaikan bahkan geli saat bertemu atau saat ia menempel di tubuh kita.

Pemikiran tersebut secara tidak sadar telah mengisolasi kita untuk hanya memandang kupu-kupu semata, dengan tidak menganggap keberadaan ulat atau larva -yang belum menjadi kupu-kupu- itu sama pentingnya dengan saat ia menjadi dewasa.

Hal tersebut tentu akan menghancurkan keinginan kita untuk bisa terus menyaksikan keberadaan serangga terbang tersebut, lagi dan lagi, serta peranannya dalam suatu ekosistem akan tergerus jika populasinya terancam.

Maka untuk keluar dari pemikiran tersebut, kita harus dibiasakan dengan pemahaman metamorfosis, alias tentang pertumbuhan dan perkembangan.

Mengenal Metamorfosis

Gambar kepompong atau pupa. | Foto: Dwi Laksono
Gambar kepompong atau pupa (setelah melalui tahap ulat atau larva). | Foto: Dwi Laksono

Metamorfosis merupakan tahap perkembangan yang melibatkan perubahan bentuk, oleh karena didorong  perubahan anatomi, morfologi dan fisiologis.

Imago merupakan tahapan di dalam metamorfosis, baik yang tidak sempurna, ataupun yang dengan perubahan pada masing-masing tahap signifikan atau radikal, yaitu metamorfosis sempurna, salah satunya identik dengan yang disebut kupu-kupu.

BACA JUGA:
Mendengarkan Musisi Hutan, Menyaksikan Owa Indonesia

Imago kupu-kupu dapat dibilang sebagai tahap hidup akhir dari metamorfosis sempurna pada kondisi telah memiliki sayap dengan warna-warni yang indah, termasuk dapat terbang dan segala macamnya hingga dikenal sebagai kupu-kupu. Tentu setelah melalui tahap: telur – ulat atau larva (siklus yang paling penting & menentukan) – kepompong atau pupa, adalah tahap hidup imago atau dewasa.

Pun, menurut saya tidak ada salahnya bila kupu-kupu dewasa disebut sebagai ulat atau larva dewasa, karena satu bukti, ia bukanlah dari jenis binatang yang berbeda.

Tidak seperti halnya mereka yang menghakimi evolusi dengan metamorfosis, bahwa seolah-olah metamorfosis adalah perubahan jenis binatang.

Gambar ulat atau larva (sebelum menjadi kepompong atau pupa). | Foto: Dwi Laksono
Gambar ulat atau larva (sebelum menjadi kepompong atau pupa). | Foto: Dwi Laksono

Apa bukti penting dari metamorfosis?

Saat meninjau dalam tahap imago, terutama dengan meninjau habitatnya, kita dapat mengetahui, bahwa metamorfosis merupakan hal yang penting untuk dipahami. Bahwa dalam habitat, dalam karakter biotik, imago kupu-kupu menyesuaikan dengan tahap hidupnya yang sederhana, yaitu larva (Hostplant), di mana terdapat tumbuhan inang untuk menjadi pakan larva.

Selain itu, tentu juga dipilih habitat yang menyediakan tumbuhan bagi sumber makanannya sendiri (Foodplant) seperti  nektar di posisi tumbuhan berbunga pada keterbukaan bervariasi. Yang mana hal tersebut nantinya akan ada hubungannya dengan karakter fisik si imago kupu-kupu.

Setelah sedikit hidangan pembuka, selanjutnya kita akan mengetahui bahwa dalam metamorfosis terdapat tahapan-tahapan yang saling menentukan dan memengaruhi satu dengan yang lainnya.

Kita ambil satu contoh tahap saja, di mana tidak ada warna dan motif indah pada sayap, yaitu tahap larva atau ulat, atau bisa kita katakan tahap larva kupu-kupu.

Larva atau ulat merupakan salah satu tahap dalam metamorfosis kupu-kupu. Sudah dikatakan, bahwa keberadaan dan tempat hidup larva, tidak bisa dilepaskan dari keberadaan telur dan perilaku hidup imago kupu-kupu.

BACA JUGA:
Menyelamatkan Alam dan Satwa Liar dengan Adat Istiadat

Seperti perilaku imago dalam menentukan tempat saat ia akan bertelur, di mana itu merupakan tempat ulat (imago) itu juga pada mulanya. Mungkin disertai dengan tujuan, singkat kata habitat untuk Hostplane, tempat untuk pakan larva.

Pada tahap ulat, meski kerap membuat kita menunjukkan respon geli, dan mungkin berpikir bahwa hal tersebut akan menimbulkan gatal dan lain sebagainya, sehingga muncul pemikiran untuk mengusir atau membunuhnya (di sisi lain kita memuji warna-warna yang terdapat pada tubuhnya).

Padahal ulat merupakan bagian dari tahapan sebelum menjadi kupu-kupu atau imago kupu-kupu. Di mana ia memiliki pengaruh yang besar untuk fase selanjutnya, seperti terhadap tahap pupa atau kepompong dan imago.

Seperti apa pengaruhnya?

Sebenarnya menjadi sederhana, karena metamorfosis, sudah barang tentu di antara tahap-tahap tersebut saling menentukan. Larva dapat dikatakan sebagai mesin pencari makan daun inang tumbuh-tumbuhan.

Sebagian besar dari tubuhnya merupakan saluran pencernaan. Singkat penjelasan, dari pakan tersebut, kemudian menghasilkan antioksidan sebagai penangkal radikal bebas, nantinya juga dapat menangkal cahaya matahari yang berlebih, dan menghasilkan pigmen-pigmen warna atau pewarnaan pada imago kupu-kupu.

Warna menarik pada imago kupu-kupu, ternyata sangat berhubungan dengan kesehatan yang proses akumulasinya sudah dimulai dari ulat atau larva.

Jadi sudah jelas, bahwa dengan membiasakan mengatakan imago kupu-kupu atas dasar bukti tersebut, kemungkinan itu akan membawa kita pada arah pemahaman metamorfosis yang sedikit lebih besar.

Sehingga, dari hal tersebut, tidak hanya imago kupu-kupu atau kupu-kupu dewasa yang kita jaga dan lestarikan, tetapi juga kupu-kupu dalam bentuk lainnya yaitu larva atau ulat. Dengan begitu pula, produktivitas ekosistem dapat terwujudkan melalui perannya atau dalam keseluruhan tahapan.

BACA JUGA:
Harimau dan Manusia, Berebut Ruang dari Dongeng Sampai Alam Nyata

Perlu diketahui bahwa dalam skala dunia persebaran kupu-kupu terdapat di seluruh permukaan bumi, kecuali di daerah beriklim dingin. Ada sekitar 17.500 spesies di dunia. Di kalimantan terdapat sekurang-kurangnya 800 spesies.[1]Peggie, D. 2014. Mengenal Kupu-kupu. Jakarta: Pandu Aksara Publishing.

Satwa dengan bentuk yang indah ini merupakan salah satu jenis serangga yang berasal dari ordo Lepidotera, dan di Indonesia ditemukan sekitar 1.600 jenis, beberapa di antaranya termasuk dalam daftar merah International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).[2]Peggie D, Amir M. 2006. Practical Guide to The Butterflies of Bogor Botanic Garden. Jakarta (ID): Zoologi LIPI.

Pun berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 ada 26 spesies serangga terbang yang keberadaannya dilindungi oleh hukum di Indonesia.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments