Sempat Dirawat Warga, Lutung Kedih Berakhir Meregang Nyawa

  • Share
Lutung kedih saat masih hidup dan diberi pengobatan oleh dokter hewan dari SRA Langkat, Sabtu (2/7). | Foto: Dede Harison/Antara
Lutung kedih saat masih hidup dan diberi pengobatan oleh dokter hewan dari SRA Langkat, Sabtu (2/7). | Foto: Dede Harison/Antara

Gardaanimalia.com – Seekor lutung kedih (Presbytis thomasi) akhirnya mati, setelah diselamatkan dan dirawat oleh seorang warga Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh.

Sebelumnya, satwa itu didapati tergeletak di atas jembatan kawasan Aras Sembilan Sembilan perbatasan antara Bandar Pusaka dan Sekerak.

“Saat ditemukan kondisinya kejang-kejang di pinggir jalan, karena kasihan melihatnya dibawa pulang untuk diobati,” kata Mimi, Sabtu (2/7).

Ia menceritakan, adiknya bernama M. Guntur yang menemukan satwa dilindungi itu ketika jalan pulang dari Bandar Pusaka dan melihat seekor kedih tertidur di jalan.

“Kami lihat rahang lehernya memar tidak bisa makan. Tubuhnya lemas, matanya merah sering kali mengeluarkan air mata,” ucapnya.

Selang berapa lama, Sasy Kapur yang merupakan keluarga dari warga tersebut mengatakan, sang monyet mati di pangkuan istrinya Mimi karena tak mau masuk kandang besi, Selasa (5/7) pukul 23.50 WIB.

“Detik-detik kedih akan mati berada di pangkuan istri saya. Kaki dan tangan kedih bengkok dan matanya melihat ke atas. Setelah tidak bernyawa lagi baru lurus lagi tubuhnya. Istri saya sampai nangis menyaksikannya,” ungkap Sasy.

Padahal, menurutnya, keadaan lutung kedih mulai membaik dan sudah mau makan. Bahkan, ia sempat mengira mamalia itu akan sembuh secara perlahan seperti sediakala.

Hal itu menjadi harapan Sasy, karena selama sepekan merawat Presbytis thomasi dan diberikan pengobatan dari dokter, kondisi leher kedih mulai bisa ditegakkan.

Walapun, ia juga mengakui bahwa sehari sebelum mati kesehatan kedih sempat mengalami drop. Perutnya kembung, sehingga mereka konsultasi dengan dokter hewan dan disarankan pergi ke Puskeswan Pemda Aceh Tamiang.

Akan tetapi, besok malamnya lutung kedih sudah tiada. “Saya langsung memberi tahu pihak BKSDA. Kedih itu kami kubur di pekarangan belakang rumah,” tuturnya.

BACA JUGA:
Polda Banten Ciduk Penjual Lutung Jawa dan Kancil via Medsos

Mengetahui hal itu, petugas BKSDA Aceh melalui Resort Wilayah 13 Langsa pun langsung turun ke lokasi untuk menyaksikan penguburan satwa dilindungi tersebut.

“Kematian satwa primata kedih sumatera di Aceh Tamiang ini nantinya akan kami laporkan ke tingkat Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe,” kata Masrudin, Kepala Resort 11 Cagar Alam Serbajadi, Rabu (6/7) dilansir Antara.

Ia menjelaskan, bahwa pihak BKSDA wajib hadir dan memastikan penguburan satwa liar. “Karena kalau tidak dikubur hewan yang mati akan membusuk bisa menyebarkan virus di lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Sebelum itu, Masrudin menyebut, pihaknya bersama lembaga Sumatran Rescue Alliance (SRA) Langkat, Sumatera Utara telah turun ke lokasi untuk mengevakuasi monyet berjambul itu.

Namun, karena kondisi lutung kedih sakit parah maka pihaknya mempercayakan perawatan satwa liar tersebut kepada warga yang menemukan yaitu Sasy Kapur.

Tak lepas tangan, pihak BKSDA juga memberi kandang besi dan menyuplai obat-obatan untuk kesembuhan kedih. “Semua pihak berkompeten yang menangani masalah satwa sudah beberapa kali kemari memantau perkembangan kedih sebelum mati,” imbuhnya.

Adapun hasil diagnosa dokter hewan, kata Masrudin, Presbytis thomasi mengalami sakit di bagian dada dan kepala yang harus dioperasi.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments