Senyap

  • Share
Senyap
Ilustrasi hutan. Foto: BBC

Sejenak dongakkan kepala

‘Kan kau lihat sekelebat berhambur adiwarna

Meriah melesat berebut kekasih

Adu para jantan tak mau tersisih

 

Berlatar kepak sayap mereka berlagu

Suka ria bak orkes musik pasar minggu

Kau jadi penonton saja, bersandarkan raksasa bernama beringin

Nikmati musik alam, dibelai rayu angin

 

Kecuali sampai,

DOR!

Riuh, gaduh, gemuruh

Semua serempak mengaduh

Lalu lahir diam yang asing

Hening

 

Apakah hutan sedang muram?

Kepada siapa kita bertanya

Oh, apakah kepadanya

yang mengapit senapan di ketiak busuknya itu?

 

Hutan dulu tidak diam,

tapi kita memaksanya diam

Sudah kubilang, kau harusnya jadi penonton saja

 

Kemelut lalu kalut

Tidak lama, hutan akan menuntut

 

 

Puisi ini dibuat untuk menggambarkan fenomena silent forest atau hutan diam. Kondisi di mana hutan sudah tidak lagi “ramai” dengan kicauan burung, sebab perburuan burung yang tak terkendali.

BACA JUGA:
Menyelamatkan Alam dan Satwa Liar dengan Adat Istiadat
  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments