Serba-serbi Konservasi Macan Tutul Jawa: Ancaman dan Usaha Mitigasinya

  • Share
Serba-serbi Konservasi Macan Tutul Jawa: Ancaman dan Usaha Mitigasinya
Macan tutul jawa yang tertangkap kamera. Foto: Shanida dkk

Gardaanimalia.com – Sudah 13 tahun macan tutul jawa (Panthera pardus melas, Cuvier 1809) masuk ke dalam kategori hewan terancam punah (critically endangered) sejak IUCN menetapkan status itu pada tahun 2008. Perhitungan populasi macan tutul jawa juga belum dilakukan secara komprehensif sehingga jumlahnya tidak diketahui secara pasti.

Estimasi oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2013) menunjukkan populasi antara 491-596 ekor  yang masih ada di alam liar.[1]2016. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Macan tutul jawa (Panthera pardus melas): 2016-2026. Jakarta: Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Beberapa estimasi yang lebih pesimistik menunjukkan angka lebih kurang 250 ekor.[2]Iqbal, D. 2019. “Pernah Dihormati, Macan tutul jawa Kini Dimusuhi”. Mongabay. Diakses dari https://www.mongabay.co.id/2019/11/10/pernah-dihormati-macan-tutul-jawa-kini-dimusuhi/ pada 30 Agustus … Continue reading[3]Staf. “A small leopard in big danger”. Conservation CATalyst. Diakses dari https://conservationcatalyst.com/javan-leopards pada 30 Agustus 2021. IUCN (2021) menggunakan batas maksimal 500 ekor untuk model viabilitasnya.[4]Traylor-Holzer, K., Holst, B., Leus, K., Ferraz, K. (editor). 2020. Conservation Planning Workshops for the Javan Leopard (Panthera pardus melas) Provisional Report. IUCN SSC Conservation Planning … Continue reading

Terlepas dari berapa banyak jumlahnya, populasi macan tutul jawa semakin menurun. Alasan utama penurunan ini adalah banyaknya konflik yang terjadi antara macan tutul jawa dan manusia. Pulau Jawa, habitat macan tutul jawa, adalah pulau terpadat di dunia yang dihuni oleh 150 juta manusia. Ini berarti, perbandingan antara populasi macan tutul jawa dan manusia di Pulau Jawa adalah sekitar 1:300.000.

Bukan hanya itu, satwa ini juga tidak dapat bergerak secara leluasa. Habitatnya hanya tinggal 16% dari luas habitat asalnya yang melingkupi seluruh pulau.[5]Wibisono, H.T., Wahyudi, H.A., Wilianto, E., Pinondang, I.M.R., Primajati, M., Liswanto, D., Linkie, M. 2018. “Identifying priority conservation landscapes and actions for the Critically Endangered … Continue reading Luasan 16% ini juga terfragmentasi menjadi wilayah-wilayah yang lebih kecil. Penelitian oleh Wibisono dkk. (2018) menunjukkan bahwa luasan ini terpecah menjadi 29 zona (Gambar 1).

Konsentrasi populasi macan tutul jawa lebih padat di bagian barat Jawa karena daerah ini memiliki tingkat presipitasi yang lebih tinggi dibandingkan Jawa bagian timur. Tingginya tingkat presipitasi mendukung produktivitas tumbuhan bagi hewan-hewan ungulata yang menjadi mangsa macan tutul jawa.[6]Wibisono, H.T., Wahyudi, H.A., Wilianto, E., Pinondang, I.M.R., Primajati, M., Liswanto, D., Linkie, M. 2018. “Identifying priority conservation landscapes and actions for the Critically Endangered … Continue reading[7]Sunquist, M.E., Karanth, U.K., Sunquist, F. 1999. “Ecology, behavior, and resilient of the tiger and its conservation needs”. Dalam: Seidensticker, J., Christie, S., Jackson, P. (editor). Riding … Continue reading

Pada Jawa bagian barat, terdapat delapan zona yang dapat menampung 50 ekor macan tutul jawa. Salah satunya adalah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak yang dapat menampung 100 individu.

 

Serba-serbi Konservasi Macan Tutul Jawa: Ancaman dan Usaha Mitigasinya
Gambar 1. Peta pesebaran 29 zona dengan potensi populasi macan tutul jawa. Warna hijau tua menunjukkan tempat yang telah dibuktikan memiliki populasi macan tutul jawa. Warna hijau muda menunjukkan daerah ideal namun tanpa bukti keberadaan macan tutul jawa. Warna kuning memperlihatkan daerah hutan (sumber gambar: Wibisono dkk., 2018).

Jika ditotalkan, terdapat 12 zona yang dapat menampung 50 ekor macan tutul jawa di seluruh Pulau Jawa. Mengapa angka ini penting? Penelitian macan tutul di Afrika Selatan memprediksikan jika suatu subpopulasi macan tutul hanya memiliki 50 ekor individu, subpopulasi ini hampir pasti akan punah dalam waktu 100 tahun.[8]Sunquist, M.E., Karanth, U.K., Sunquist, F. 1999. “Ecology, behavior, and resilient of the tiger and its conservation needs”. Dalam: Seidensticker, J., Christie, S., Jackson, P. (editor). Riding … Continue reading Selain itu, model oleh IUCN menunjukkan bahwa populasi macan tutul jawa di bawah 30 ekor memiliki resiko kepunahan sebesar 84% jika faktor ancaman manusia tidak dihitung.[9]Traylor-Holzer, K., Holst, B., Leus, K., Ferraz, K. (editor). 2020. Conservation Planning Workshops for the Javan Leopard (Panthera pardus melas) Provisional Report. IUCN SSC Conservation Planning … Continue reading Inilah mengapa zona-zona dengan kapasitas tampung 50 ekor menjadi fokus kegiatan konservasi spesies ini.

Aktivitas Manusia yang Mengancam Macan Tutul Jawa

Layaknya satwa endemik lain, macan tutul jawa sudah rentan oleh kepunahan bahkan tanpa adanya manusia. Hewan-hewan endemik biasanya tersebar pada wilayah yang sangat terbatas dan perlu hidup dalam kondisi lingkungan yang stabil.[10]Isik, K. 2011. “Rare and endemic species: why are they prone to extinction?”. Turkish Journal of Botany. 35(4): 411-417. DOI: http://dx.doi.org/10.3906/bot-1012-90  Satu perubahan signifikan, semisal bencana alam, dapat meluluhlantakkan seluruh eksistensi spesies.

Hal ini terjadi pada kerabat purba macan tutul jawa yang seharusnya dapat menghuni Pulau Sumatra, bahkan Kalimantan. Macan tutul dapat hadir di Jawa karena migrasi macan tutul dari Asia sekitar 600 ribu tahun yang lalu. Mereka bermigrasi lewat lokasi di antara Pulau Sumatra dan Kalimantan yang pada zaman dahulu belum menjadi laut dan masih berupa dataran rendah. Namun, 74 ribu tahun yang lalu, Gunung Toba meletus dan diduga membunuh seluruh populasi macan tutul di luar Jawa.[11]Wilting, A., Patel, R., Pfestorf, H., Kern, C., Sultan, K., Ario, A., Peñazola, F., Kramer-Schadt, S., Radchuk, V., Foerster, D.W., Fickel, J. 2016. “Evolutionary history and conservation … Continue reading Macan tutul di Pulau Jawa yang selamat karena letusan Gunung Toba tidak memengaruhi kehidupan mereka secara signifikan. Akhirnya, macan tutul terjebak di Pulau Jawa ketika daratan di utara digenangi oleh air dan menjadi Laut Jawa yang kita kenal hari ini (Gambar 2).

Serba-serbi Konservasi Macan Tutul Jawa: Ancaman dan Usaha Mitigasinya
Gambar 2. Sejarah migrasi macan tutul Asia menuju Jawa. (a) Daerah potensi pesebaran macan tutul pada 600 ribu tahun yang lalu. Warna kuning menunjukkan daerah laut yang dahulu masih berupa dataran rendah. (b) Garis hitam menunjukkan jalur yang dipakai macan tutul Asia sampai ke Jawa. (c-e) evolusi paparan barat Indonesia hingga saat ini. Gambar c memperlihatkan pesebaran abu Gunung Toba. Perhatikan bahwa Jawa tidak terpengaruh. (f) Pesebaran macan tutul pada saat ini (sumber gambar: Wilting dkk., 2016).

Saat ini, manusia adalah satu-satunya ancaman bagi macan tutul jawa. Dua aktivitas manusia yang paling mengancam adalah perburuan dan deforestasi hutan. Mengingat bahwa satwa liar ini merupakan satwa endemik dengan pesebaran yang sangat terbatas, dua aktivitas tersebut dapat menjadi faktor kepunahan dalam waktu sangat dekat.

Baca juga: Inilah Perbedaan Kangguru yang Hidup di Indonesia dan Australia

Penelitian terbaru oleh Gomez dan Shepherd (2021) menemukan perdagangan 51 ekor macan tutul jawa yang berhasil ditahan dari tahun 2011 hingga 2019.[12]Gomez L., dan Shepherd, C.R. 2021. “The illegal exploitation of the Javan Leopard (Panthera pardus melas) and Sunda Clouded Leopard (Neofelis diardi) in Indonesia”. Nature Conservation. 43: … Continue reading Ini tidak menghitung kasus-kasus yang berhasil lolos dan tidak tertangkap. Berarti, jumlah individu yang diperdagangkan mungkin lebih besar dari estimasi awal. Secara keseluruhan, bagian tubuh macan tutul jawa yang umum diperjualbelikan adalah taring, cakar, telapak kaki, kulit, tengkorak, dan produk taksidermi utuh (Gambar 3).

Serba-serbi Konservasi Macan Tutul Jawa: Ancaman dan Usaha Mitigasinya
Gambar 3. Bagian tubuh macan tutul jawa (garis putus-putus pendek) yang berhasil ditangkap dari perdagangan satwa liar di pasar nasional dan internasional. Tren mengalami peningkatan dari tahun 2011 hingga 2019 dengan kuku, kulit, dan taring sebagai bagian tubuh yang paling sering dijual (sumber gambar: Gomez dan Shepherd, 2021).

Bagian tubuh macan tutul jawa memiliki nilai yang tinggi di pasar hewan liar sebagai ornamen.[13]Partasasmita, R., Shanida, S.S., Iskandar, J., Megantara, E.R., Husodo, T., Parikesit, Malone, N. 2016. “Human-Leopard Conflict in Girimukti Village, Sukabumi, Indonesia”. Biodiversitas. 17(2): … Continue reading Di samping itu, bagian-bagian tubuh mereka juga banyak dipakai sebagai bahan obat-obatan tradisional. Daging dan tulangnya digunakan untuk meningkatkan kesuburan pria. Abu dari hasil pembakaran rambut kaki macan tutul digunakan untuk obat penyakit mulut, liver, otak, paru-paru, jantung, hingga asma. Gigi, cakar, dan lidahnya digunakan sebagai azimat. Minat kepada bagian tubuh macan tutul semakin meningkat karena mereka digunakan sebagai pengganti produk harimau yang secara lokal sudah banyak punah.[14]Raza, R.H., Chauhan, D.S., Pasha, M.K.S., Sinha, S. 2012. Illuminating the Blind Spot: A Study on Illegal Trade in Leopard Parts in India (2001-2010). New Delhi: TRAFFIC India/WWF India. 52 hal.

Di luar perburuan yang disengaja, macan tutul jawa juga banyak menjadi korban persekusi masyarakat. Dewasa ini, interaksi berbahaya antara manusia dan macan tutul jawa semakin meningkat. Dari tahun 2011-2019, terdapat tujuh macan tutul jawa yang dibunuh karena menyerang ternak masyarakat.[15]Gomez L., dan Shepherd, C.R. 2021. “The illegal exploitation of the Javan Leopard (Panthera pardus melas) and Sunda Clouded Leopard (Neofelis diardi) in Indonesia”. Nature Conservation. 43: … Continue reading Lebih lagi, masyarakat meminta uang ketika pihak berwajib datang untuk mengambil macan tutul jawa yang ditangkap. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa macan tutul jawa sengaja diperangkap agar oknum bisa mendapatkan uang.

Peningkatan konflik manusia dan macan tutul jawa jelas bukan tanpa sebab. Degradasi dan fragmentasi habitat menjadi alasan utama hal ini.[16]Wibisono, H.T., Wahyudi, H.A., Wilianto, E., Pinondang, I.M.R., Primajati, M., Liswanto, D., Linkie, M. 2018. “Identifying priority conservation landscapes and actions for the Critically Endangered … Continue reading[17]Partasasmita, R., Shanida, S.S., Iskandar, J., Megantara, E.R., Husodo, T., Parikesit, Malone, N. 2016. “Human-Leopard Conflict in Girimukti Village, Sukabumi, Indonesia”. Biodiversitas. 17(2): … Continue reading[18]Partasasmita, R., Shanida, S.S., Iskandar, J., Megantara, E.R., Husodo, T., Parikesit, Malone, N. 2016. “Human-Leopard Conflict in Girimukti Village, Sukabumi, Indonesia”. Biodiversitas. 17(2): … Continue reading[19]Gunawan, H., Iskandar, S., Sihombing, V.S., Wienanto, R. 2017. “Conflict between humans and leopards (Panthera pardus melas Cuvier, 1809) in Western Java, Indonesia”. Biodiversitas. 18(2): … Continue reading Degradasi dan fragmentasi habitat mengakibatkan kapasitas tampung habitat menjadi kecil dan memaksa macan tutul jawa berburu ke daerah dekat hunian manusia.

Gunawan dkk. (2017) meneliti bagaimana deforestasi meningkatkan konflik manusia dan macan tutul jawa di daerah Jawa bagian barat.[20]Gunawan, H., Iskandar, S., Sihombing, V.S., Wienanto, R. 2017. “Conflict between humans and leopards (Panthera pardus melas Cuvier, 1809) in Western Java, Indonesia”. Biodiversitas. 18(2): … Continue reading Sebagian besar hutan produksi dan hutan lindung dialihfungsikan sebagai lahan untuk menanam kopi. Walaupun hal ini sudah diatur oleh Community-Based Forest Management (CBFM), banyak pihak yang melanggar aturan dan menanam kopi sampai di luar batas aturan. Pasalnya, sebagian dari hutan produksi dan hutan lindung ini merupakan daerah penyangga dengan lokasi cagar alam.

Subpopulasi macan tutul jawa yang paling rentan terhadap konflik dengan manusia adalah yang hidup di sekitar daerah-daerah penyangga ini. Biasanya, macan tutul jawa yang menjadi korban adalah yang berumur tiga tahun ke bawah, yaitu individu yang baru saja beranjak dewasa dan lepas dari induknya. Individu ini sering kali tidak mendapatkan wilayah karena kalah oleh individu yang lebih tua dan kuat.[21]Gunawan, H., Iskandar, S., Sihombing, V.S., Wienanto, R. 2017. “Conflict between humans and leopards (Panthera pardus melas Cuvier, 1809) in Western Java, Indonesia”. Biodiversitas. 18(2): … Continue reading Hal ini semakin mengkhawatirkan karena macan tutul muda adalah individu yang baru saja matang dan siap bereproduksi untuk mempertahankan jumlah populasinya.

Untuk menunjukkan hal ini dengan lebih terperinci, Gunawan dkk. (2017) membuat peta kerentanan konflik manusia dan macan tutul jawa di bagian barat Pulau Jawa (Gambar 4).[22]Gunawan, H., Iskandar, S., Sihombing, V.S., Wienanto, R. 2017. “Conflict between humans and leopards (Panthera pardus melas Cuvier, 1809) in Western Java, Indonesia”. Biodiversitas. 18(2): … Continue reading

Serba-serbi Konservasi Macan Tutul Jawa: Ancaman dan Usaha Mitigasinya
Gambar 4. Peta kerentanan konflik manusia dan macan tutul jawa di daerah Jawa bagian barat. Warna hijau menunjukkan daerah dengan kerentanan rendah. Warna kuning menunjukkan daerah dengan kerentanan sedang. Warna merah menunjukkan daerah dengan kerentanan tinggi. Titik-titik merah merupakan lokasi tempat macan tutul jawa terdeteksi (sumber gambar: Gunawan dkk., 2017).

Usaha-usaha Mitigasi

Sudah kita lihat kalau perburuan dan deforestasi merupakan dua aktivitas manusia yang paling mengancam populasi macan tutul jawa. Maka, usaha-usaha mitigasi harus berfokus pada dua hal ini.

Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 membuat daftar spesies yang dilindungi, yaitu spesies yang tidak boleh ditangkap, dilukai, dibunuh, disimpan, dimiliki, dipelihara, dipindahkan, dan diperjualbelikan. Macan tutul jawa termasuk dalam daftar ini. Namun, masih banyak kasus transaksi bagian tubuh macan tutul jawa di pasar nasional maupun internasional. Bahkan, saat ini trennya meningkat. Ini memperlihatkan kalau implementasi hukum perlindungan satwa liar di Indonesia masih sangat lemah dan rentan untuk dikelabui.[23]Gomez L., dan Shepherd, C.R. 2021. “The illegal exploitation of the Javan Leopard (Panthera pardus melas) and Sunda Clouded Leopard (Neofelis diardi) in Indonesia”. Nature Conservation. 43: … Continue reading

Selain itu, hukuman yang diberikan kepada pelaku kejahatan hewan liar juga terbilang rendah. Hukuman maksimumnya adalah lima tahun penjara dan denda sebesar Rp 100 juta. Namun, realitanya, rata-rata hukuman yang diberikan adalah <1-1,6 tahun penjara dan denda sebesar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.[24]Gomez L., dan Shepherd, C.R. 2021. “The illegal exploitation of the Javan Leopard (Panthera pardus melas) and Sunda Clouded Leopard (Neofelis diardi) in Indonesia”. Nature Conservation. 43: … Continue reading Sebagai perbandingan, harga seekor macan tutul jawa bisa mencapai 450 juta rupiah.[25]Tanjung, C.A. 2019. “Kapolda Riau: Singa dan Leopard Dihargai Rp 450 Juta”. detikNews. Diakses dari https://news.detik.com/berita/d-4823752/kapolda-riau-singa-dan-leopard-dihargai-rp-450-jutapada … Continue reading Lebih dari itu, hanya setengah dari kasus penyelundupan hewan liar di Indonesia yang berhasil diproses pada jalur hukum.[26]Gomez L., dan Shepherd, C.R. 2021. “The illegal exploitation of the Javan Leopard (Panthera pardus melas) and Sunda Clouded Leopard (Neofelis diardi) in Indonesia”. Nature Conservation. 43: … Continue readingDilihat dari semua hal ini, pengokohan hukum konservsasi satwa liar dan implementasinya adalah hal yang krusial untuk melindungi populasi macan tutul jawa.

Selain menegakkan hukum, perlu juga adanya campur tangan aktif manusia untuk meningkatkan populasi macan tutul jawa. Hal ini dikarenakan populasi macan tutul jawa sudah sangat sedikit sehingga faktor alami seperti bencana alam dan kawin sedarah (inbreeding) cukup untuk memusnahkan seluruh populasi.

Salah satu bentuk campur tangan aktif yang dapat dilakukan adalah menyediakan konektivitas antarzona subpopulasi macan tutul jawa yang terfragmentasi. Hal ini dilakukan agar subpopulasi di dua tempat yang berbeda bisa berinteraksi antara satu sama lain dan memperluas variasi gen mereka sehingga kemungkinan kawin sedarah dapat diperkecil.[27]Traylor-Holzer, K., Holst, B., Leus, K., Ferraz, K. (editor). 2020. Conservation Planning Workshops for the Javan Leopard (Panthera pardus melas) Provisional Report. IUCN SSC Conservation Planning … Continue reading[28]Wibisono, H.T., Wahyudi, H.A., Wilianto, E., Pinondang, I.M.R., Primajati, M., Liswanto, D., Linkie, M. 2018. “Identifying priority conservation landscapes and actions for the Critically Endangered … Continue reading

Ada dua hal dapat dilakukan untuk membentuk konektivitas ini. Pertama adalah dengan membuat zona habitat termodifikasi di antara dua zona yang terfragmentasi.[29]Wibisono, H.T., Wahyudi, H.A., Wilianto, E., Pinondang, I.M.R., Primajati, M., Liswanto, D., Linkie, M. 2018. “Identifying priority conservation landscapes and actions for the Critically Endangered … Continue reading Zona habitat termodifikasi ini berfungsi sebagai “jembatan penghubung” antara dua zona. Membuat zona habitat termodifikasi berarti memperluas zona penyangga yang juga berarti memperluas daerah hutan yang diatur ketat dalam hukum. Kedua adalah dengan memindahkan dan memperkenalkan macan tutul jawa muda dari satu lokasi ke lokasi lain.[30]Traylor-Holzer, K., Holst, B., Leus, K., Ferraz, K. (editor). 2020. Conservation Planning Workshops for the Javan Leopard (Panthera pardus melas) Provisional Report. IUCN SSC Conservation Planning … Continue reading Dengan adanya macan tutul baru, berarti terdapat variasi gen baru pula dalam subpopulasi tersebut.

Monitoring rutin juga penting dilakukan agar perhitungan populasi macan tutul jawa yang akurat bisa didapatkan. Perhitungan yang akurat mampu membuat model viabilitas populasi dan habitat yang akurat pula. Hal ini akan menjadi dasar yang baik untuk para pemangku kebijakan menentukan langkah konservasi dengan tepat sasaran.

Jika dirangkum, terdapat dua bentuk mitigasi utama untuk melindungi populasi macan tutul jawa. Pertama adalah dengan penegakan hukum konservasi hewan liar yang ketat. Kedua adalah dengan campur tangan aktif manusia untuk meningkatkan jumlah populasi macan tutul jawa. Seluruh kegiatan mitigasi ini harus dilakukan secara penuh dan terintegrasi agar macan tutul jawa tidak lagi berada di ambang kepunahan.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments