Sisi Lain dari Kisah Burung Kakatua

  • Share
Sisi Lain dari Kisah Burung Kakatua
Burung kakatua | Foto: Pixabay

Gardaanimalia.com – Burung kakatua adalah jenis burung paruh bengkok. Ia tergolong ke dalam suku Psittacidae dan marga Cacatua. Burung ini terbilang pintar dan punya kemampuan untuk beradaptasi secara baik dengan manusia. Termasuk dapat menirukan perkataan manusia.

Makanan utama burung kakatua adalah biji-bijian berukuran besar, serta keras. Lain daripada itu, ia juga suka makan buah-buahan, pun tunas daun.

Akan tetapi, kehidupan burung yang memiliki bulu indah ini tidak selalu semenawan bentuknya. Berikut sisi lain dari kisah burung kakaktua yang perlu Sobat satwa ketahui:

Hewan yang Sering Diselundupkan Hingga Nyaris Mati

Burung kakaktua merupakan salah satu spesies burung paruh bengkok yang keberadaannya kini tinggal sedikit di alam. Banyaknya perdagangan dan penangkapan burung jenis beo ini tentu berisiko terhadap kelangsungan hidupnya di masa depan.

Apabila ancaman ini terus berlangsung, maka generasi akan datang mungkin saja tidak dapat lagi menyaksikan keindahan dan kicau burung kakatua.

Burung kakatua termasuk jenis yang banyak diperdagangkan dan diminati karena bentuknya yang indah. Dikutip dari mongabay.id, sebanyak 24 kakatua jambul kuning diselundupkan ke Surabaya melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, meskipun akhirnya berhasil digagalkan.

Hal tersebut diketahui pihak Polres Pelabuhan Tanjung Perak saat pelaku baru turun dari kapal KM Tidar jurusan Papua-Makasar-Surabaya-Jakarta, Senin (04/05/2015).

Kasubbag Humas Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya AKP Lily Djafar mengatakan, penangkapan pelaku penyelundupan kakatua ini setelah petugas kepolisian mendapati penumpang membawa 2 ekor burung yaitu kakatua jambul kuning dan bayan hijau.

“Ketika itu burung dimasukkan ke dalam botol air mineral. Sesudah dilakukan diinterogasi dan pencarian, akhirnya ditemukan 22 ekor lainnya di atas kapal dalam kondisi ditempatkan pada botol sejenis,” jelasnya.

BACA JUGA:
Populasi Kakatua Terancam Akibat Perdagangan Ilegal dan Pengawahutanan

Masih di lokasi yang sama. Kali ini dilansir dari jawapos.com. Penyelundupan 133 burung dilindungi dan langka dari Sulawesi Selatan ke Surabaya ini digagalkan oleh aparat gabungan Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Balai Karantina Pertanian, dan BKSDA Jatim.

Dari ratusan ekor burung tersebut, beberapa di antaranya dipastikan adalah satwa dilindungi oleh Undang-Undang yakni kakatua jambul kuning dan kakatua jambul putih. Pun beberapa ekor burung bayan hijau dan merah.

Menurut keterangan lipi.go.id, perdagangan satwa ini tiap tahunnya cenderung meningkat. Di pasar burung lokal diperdagangkan burung Cacatua galerita dengan harga Rp750 ribu, Cacatua goffini Rp250 ribu, dan Cacatua moluccensis Rp1,25 juta. Kian bertambah langka suatu satwa, maka harganya juga akan semakin mahal.

Menjadi Saksi Pembunuhan Sadis di Amerika

Pada 2016 silam, seekor burung kakatua abu-abu afrika menjadi saksi kunci pembunuhan sadis di Ensley, Amerika Serikat.

Usai burung kakatua bernama Bud itu berkoak Don’t f**king shoot atau Jangan tembak!.
Ayah korban yakin kakatua itu menirukan kata terakhir korban. Senada dengan itu, istiri korban juga mengakui bahwa burung itu dapat menirukan perkataan orang di sekitar termasuk perkataan kotor.

Ditahan oleh Kepolisian India

Seekor burung kakatua ditahan oleh Kepolisian India usai seorang wanita membuat laporan polisi tentang perilaku buruk hewan tersebut.

Burung kakatua bernama Hariyal itu ditahan karena mengeluarkan kata-kata kotor kepada wanita tersebut. Diduga itu masalah perebutan harta warisan, di mana anak tirinya mengajari Hariyal berkata yang tidak baik.

Selama dua tahun wanita itu dihina oleh burung kakatua milik anak tirinya dan sudah tiga kali ia membuat laporan kepolisian. Sementara polisi menyelidiki kasus ini, burung kakatua itu ditahan dan diserahkan ke Departemen Kehutanan dan Margasatwa India.

BACA JUGA:
Perdagangan Online Burung Kakatua dan Nuri Diungkap Polres Ponorogo

Mudah Terinfeksi Penyakit

Sama seperti halnya monyet, memelihara burung juga memiliki risiko tertular penyakit, yaitu terserang Psittacosis atau Parrot fever.

Burung dengan jenis semacam kakatua, beo, macaw dan parkit mudah terinfeksi bakteri bernama Chlamydophila psittaci dan bisa menularkan ke manusia.

Bakteri bisa masuk ke dalam tubuh melalui udara. Apabila manusia menghirup udara yang sudah tercemar dengan kotoran burung terinfeksi, bahkan saat burung tersebut tidak menunjukkan gejala sakit, manusia bisa saja jadi terinfeksi.

Gejala yang akan dialami orang terinfeksi bakteri ini yaitu timbulnya demam, meriang, nyeri otot, dan batuk kering. Kalau sudah begini, cepat-cepat periksakan ke dokter saja ya Sob.

Nah oleh karena itu, maka sebaiknya kita tidak mengganggu kebebasan satwa di alam liar. Selain agar terhindar dari burung terinfeksi, penangkapan dan perdagangan kakatua juga mengancam kelangsungan hidupnya lho Sobat.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments