Menu
Berita

Penanganan Kebakaran Tidak Optimal, Habitat Orangutan di Konsesi PT KAL Hangus 90 Persen

20/10/2026|Bayu Nanda
Kawasan konservasi PT KAL yang terbakar dan satu individu orangutan yang bertahan di tengahnya Foto Istimewa - Penanganan...

Kawasan konservasi PT KAL yang terbakar dan satu individu orangutan yang bertahan di tengahnya. | Foto: Istimewa

Gardaanimalia.com - Kawasan konservasi yang dikelola perusahan babak belur akibat kebakaran. Perubahan manajemen diduga lemahkan upaya mitigasi.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026 masih berlangsung hingga detik ini, tanpa mengenal batas administrasi dan fungsi kawasan. Kawasan High Conservation Value (HCV) milik PT Kayung Agro Lestari (KALE) turut jadi sasaran api hingga menghanguskan sekitar 90 persen kawasannya.

Sekitar 30 orangutan dievakuasi dari dalam dan sekitar HCV PT KALE. Jumlah ini mencapai hampir 60 persen dari total orangutan yang dievakuasi dari Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara di Kalimantan Barat, yaitu 51 individu dievakuasi. 

Perubahan manajemen PT KALE diduga menjadi salah satu sebab mengapa karhutla di kawasan tersebut tidak tertangani dengan baik. 

Sebagai informasi, PT KALE didirikan induk perusahaan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) pada 2004. Lalu, First Resources Limited menyelesaikan akuisisi 91,17 persen sahamnya pada Mei 2025. Akuisisi ini membawa perubahan pengendalian terhadap kelompok usaha tersebut, termasuk PT KALE.

Salah satu perubahan yang berdampak pada masifnya karhutla di kawasan konsesi PT KALE adalah pembubaran tim pemadam kebakaran internal perusahaan maupun kelompok masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) yang dibentuk manajemen lama.

Buruknya respons perusahaan dalam menangani kemarau panjang dan kebakaran dibenarkan oleh Kepala Dusun Sempurna, Abdul Hajar. 

Abdul mulai berkoordinasi dengan perusahaan saat ia mengamati bahwa api sudah mulai masuk area HCV pada Agustus lalu.

“Kami berupaya meminta pencegahan kebakaran di Desa Kuala Satong, ke arah Siduk–Palnam. Namun, saat itu mereka tidak merespons kami,” ujar Abdul.

Abdul baru mendapatkan respons konkret sekitar beberapa minggu kemudian, setelah ia mengatakan bahwa pihaknya hanya memiliki satu mesin yang digunakan KTPA. Bantuan yang diberikan berupa mesin penyiraman dan dua gulung selang pemadaman. 

“Masih sangat kurang, Pak. Bukan sekadar kurang, tetapi masih banyak yang dibutuhkan,” ujar Abdul. 

Ia kemudian menyoroti, sebelum perusahaan beralih manajemen, konsolidasi antara pihak perusahaan dan masyarakat bahkan dimulai ketika cuaca panas baru berlangsung sepekan. 

“Namun, setelah berpindah ke FR (First Resources), komunikasi terkait hal tersebut agak berkurang,” tuturnya mengakui. 

Pembubaran Tim Damkar

Selain koordinasi perusahaan dan masyarakat yang semakin renggang, ketidakseriusan perusahaan dalam menanggapi hadirnya api juga terlihat dari pembubaran tim Pemadam Kebakaran (Damkar).

“Pada zaman kepengurusan yang lama, itu personel kami berjumlah 35 orang aktif. Dengan jumlah tambahan seperti security,” ujar Sahbilek, mantan petugas Damkar PT KALE. Namun, menurut pengakuannya, anggota Damkar kini hanya tersisa tiga orang.

Di periode manajemen sebelumnya, selain memiliki tim damkar internal, PT KALE juga membentuk kelompok masyarakat dan petani yang dinamai Kelompok Tani Peduli Api (KTPA).

Kelompok ini bertugas mencegah kebakaran dan membantu tim damkar PT KALE untuk mengamankan area konsesi dan sekitarnya dari karhutla.

Berkurangnya anggota ini dinilai Sahbilek tidak mampu lagi mengakomodir kebakaran terjadi di konsesi.

“[Kalau dulu], ketika musim panas, kita semua stand by di lapangan. Sekarang, menara [pemantau] tidak diurus lagi. Embung-embung tidak diurus lagi. Pokoknya [perusahaan] tidak mau tahu tentang masalah api,” paparnya.