Gardaanimalia.com - Seekor kuskus ditemukan tewas, diduga menjadi korban karhutla di kawasan taman nasional.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas hingga memasuki kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Blok Akejawi, Halmahera Timur, Maluku Utara, tidak hanya menyisakan hamparan hutan yang terbakar, tetapi juga mengancam kehidupan di dalamnya.
Pada 26 September 2026, tim Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata menemukan seekor kuskus maluku (Phalanger ornatus), satwa endemik Maluku Utara, dalam kondisi mati hangus terbakar.
Penemuan tersebut terjadi enam hari setelah titik awal kebakaran dilaporkan muncul pada 20 September 2026. Api yang melanda kawasan sekitar Desa Akejawi, Kecamatan Wasile Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, menjadi ancaman bagi ekosistem hutan dan berbagai satwa yang bergantung pada habitat tersebut.
Kuskus maluku merupakan satwa berkantung yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan dan dikenal memiliki pergerakan relatif lambat.
Ketika api menjalar, asap menyelimuti hutan, dan vegetasi mulai terbakar, kemampuan kuskus untuk menyelamatkan diri dapat menjadi sangat terbatas. Hilangnya tempat berlindung dan jalur pergerakan membuat satwa yang hidup di dalam hutan menghadapi risiko terjebak dalam kobaran api.
Ancaman Krisis Ekologis dan Dugaan Eksploitasi Pertambangan Liar di Area Karhutla
Persoalan di Akejawi tidak berhenti pada kebakaran dan kematian satwa.
Dalam penelusuran patroli di lapangan saat karhutla berlangsung, tim Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata juga menemukan peralatan mekanis yang diduga digunakan untuk aktivitas pertambangan liar. Temuan ini menambah kompleksitas persoalan di kawasan tersebut.
Meski demikian, keterkaitan antara peralatan yang ditemukan, dugaan aktivitas pertambangan, dan penyebab kebakaran masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.
Di saat yang sama, sumber air yang dimanfaatkan warga dan satwa di kawasan tersebut dilaporkan mengalami perubahan warna menjadi cokelat kemerahan serta menunjukkan indikasi pencemaran.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas air dan keberlangsungan kehidupan di sekitarnya.
Bagi masyarakat, sumber air merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Perubahan kualitas air dapat memengaruhi ketersediaan air yang aman digunakan, bergantung pada tingkat dan jenis pencemarnya.
Bagi satwa liar, sumber air juga menjadi bagian penting dari habitat, terutama ketika kebakaran merusak tempat berlindung dan sumber pakan.
Dampaknya juga berpotensi menjangkau biota akuatik yang hidup di perairan tersebut. Perubahan kualitas air dapat memengaruhi organisme yang sensitif terhadap kondisi lingkungannya, mulai dari organisme kecil hingga biota lain dalam rantai makanan. Meski demikian, jenis pencemar, tingkat kontaminasi, dan dampak biologisnya perlu dipastikan melalui pengujian kualitas air dan pemeriksaan ekologis.
Rangkaian persoalan ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak dapat dipandang sebagai persoalan kebakaran semata.
Ketika kebakaran melanda kawasan hutan, sementara terdapat dugaan aktivitas eksploitasi dan kondisi sumber air yang mengalami perubahan, ancaman terhadap lingkungan menjadi semakin kompleks. Hutan, satwa liar, sumber air, biota akuatik, dan kehidupan masyarakat merupakan bagian dari satu kesatuan ekologis yang saling terhubung.
Kerusakan pada satu bagian dapat memicu dampak pada bagian lainnya. Hilangnya tutupan vegetasi berpotensi mengubah kondisi tanah dan aliran air. Material hasil pembakaran maupun tanah yang terbawa limpasan dapat memengaruhi kualitas perairan, meskipun penyebab perubahan warna air di Akejawi masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Jika tekanan terhadap habitat terus berlangsung, kemampuan ekosistem untuk pulih pun dapat semakin terhambat.
Dampak Karhutah menjadi Lebih Kompleks
Akejawi, bagian dari Taman Nasional Aketajawe Lolobata, merupakan salah satu kawasan penting bagi perlindungan keanekaragaman hayati Maluku Utara.
Kebakaran berlangsung selama berminggu-minggu, yang dipertaruhkan bukan hanya luas hutan yang hangus, tetapi juga keberlangsungan habitat, keselamatan satwa liar, kualitas sumber air, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Api yang terus mengancam kawasan ini menjadi peringatan bahwa perlindungan hutan Halmahera membutuhkan penanganan segera, pemantauan yang berkelanjutan, serta penyelidikan terhadap berbagai tekanan yang dapat memperparah kerusakan ekosistem.
Situasi ini mengarah pada ancaman krisis ekologis: kondisi ketika tekanan terhadap lingkungan memengaruhi berbagai unsur kehidupan sekaligus dan mengganggu keseimbangan ekosistem.
Untuk memastikan skala dan tingkat keparahannya di Akejawi, diperlukan pemantauan terhadap kondisi hutan, kualitas air, dampak terhadap satwa, serta dugaan aktivitas eksploitasi di kawasan tersebut.
Penemuan kuskus maluku yang mati terbakar di Akejawi menjadi pengingat bahwa di balik setiap kebakaran hutan terdapat kehidupan yang mungkin tidak sempat menyelamatkan diri. Temuan peralatan mekanis dan perubahan kondisi sumber air memperluas persoalan yang perlu mendapat perhatian, bukan hanya untuk memahami dampak yang telah terjadi, tetapi juga untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Kita mungkin dapat menunggu api padam. Namun, padamnya api tidak serta-merta mengembalikan kehidupan yang telah hilang. Pepohonan membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali, habitat membutuhkan waktu untuk pulih, dan satwa yang kehilangan tempat hidupnya belum tentu dapat kembali ke lingkungan yang sama.
Sebab, ketika api mencapai jantung hutan Halmahera, maka yang ikut dipertaruhkan adalah masa depan keanekaragaman hayati dan keberlangsungan kehidupan di dalamnya.













