Gardaanimalia.com - "Keruh" berumur panjang. Ia bukan hanya mengenang 2015, tetapi juga memberi peringatan. Sayangnya, sebuah negara sangat senang mengabaikan peringatan.
Biasanya, lagu memiliki durasi 3–5 menit. Namun, ada lagu yang seolah tidak pernah benar-benar selesai bahkan setelah satu dekade. Bukan karena strukturnya yang rumit, melainkan karena kenyataan menolak untuk berhenti mengulanginya.
Adalah “Keruh”, lagu rilisan Float pada 2016 yang lahir karena sesaknya kabar kebakaran hutan 2015. Namun, ketika diputar kembali hari ini, ia tak terdengar seperti lagu berusia sepuluh tahun. Ia terdengar seperti lagu yang baru ditulis bulan lalu, atau minggu lalu, bahkan mungkin kemarin, ketika berita tentang kebakaran hutan kembali memenuhi layar.
Bagaimana Lagu Ini Lahir
2015. Di Sumatera dan Kalimantan, titik-titik api bermunculan dan membesar. Api tak hanya membakar hutan, tetapi juga gambut yang menyimpan sisa tumbuhan ribuan tahun. Tanah mengering, lalu membara di bawah permukaan dan sulit dipadamkan. Asap tebal berwarna hitam membumbung ke langit. Angin membawanya melintasi batas geografis dan administrasi, menyesaki pernapasan tak hanya penduduk sendiri tetapi juga negara tetangga.
Pada tahun itu, lebih dari 2,6 juta hektare lahan terbakar. Tak kurang dari 43 juta orang terpapar asap, mengakibatkan setidaknya 503.874 jiwa menderita infeksi saluran pernapasan akut di enam provinsi.
Studi dari Harvard University dan Columbia University memperkirakan 100.300 kematian dini akibat krisis kebakaran tahun itu, 91.600 di antaranya terjadi di Indonesia dan selebihnya di Malaysia dan Singapura. Selama September–Oktober 2015, emisi harian dari kebakaran ini mencapai 11,3 juta ton CO2 per hari, melebihi emisi harian seluruh Uni Eropa sebesar 8,9 juta ton.
Di tengah keadaan itu, band folk independen asal Jakarta, Float, menulis sebuah lagu. Lagu tersebut bukan lagu protes dan tidak menyebut terang-terangan “kebakaran hutan” atau apapun. Mereka memberinya judul “Keruh”, lagu yang proses pengerjaannya dimulai Oktober 2015 dan memakan waktu tujuh bulan sebelum akhirnya dirilis pada 3 April 2016.
Lagu ini lahir dalam konteks kampanye bersama Greenpeace Indonesia yang mendorong pemerintah membuka data pengelolaan hutan dan lahan. Vokalis Float, Hotma Roni Simamora atau Meng, mengatakan mereka tidak membuat lagu yang eksplisit tentang kebakaran hutan. Meski begitu, peristiwa itu menjadi pemicu single terbaru mereka.
“Keruh” sebagai Rekaman Pikiran dan Zaman
Alunan musik “Keruh” beritme lambat dan terdengar lirih layaknya bisikan, melukiskan perasaan mendalam seseorang yang sedang kehilangan arah. Komposisi instrumennya yang tersusun dari vokal, gitar akustik, bass, gitar elektrik, dan flute, membuat atmosfer lagu berhasil memerikan betapa “keruh”-nya alam pikiran akulirik.
Vokal menyambut pendengar dengan lirik, “terhempas, ke tengah hampa belantara tak berbatas”. Selain dapat dimaknai sebagai potret suasana batin ketika terus menerus menerima pemberitaan kebakaran hutan—sebagaimana dikutip dari pernyataan sang vokalis—“hampa belantara tak berbatas” juga dapat dipersepsikan bagaimana hutan yang dulu punya nama, batas, dan penghuni, malah jadi rata dengan tanah setelah api dan izin-izin yang rapi menyerang.
“Sejak kapan kah kita jauh tersesat”
Frasa “jauh tersesat” dalam lagu ini bukan sekadar citraan puitis tentang bagaimana orang tersasar di antara berita-berita buruk kebakaran hutan. Melainkan, ia juga adalah gambaran batin yang lahir dari peristiwa nyata: ketika lanskap yang kita kenal berubah, kita kehilangan peta: tentang mana yang aman, mana yang subur, mana yang menjadi rumah.
Tersesat, karena tempat yang dulu kita kenal tidak ada lagi. Orang-orang yang tinggal di sekitar hutan mungkin masih berdiri di tanah yang sama, tetapi lanskapnya sudah berbeda. Mereka kehilangan arah, warisan pengetahuan, dan tempat bergantung.
“Di dalam gelap semesta tak bertepi” barangkali menyimpan setidaknya dua makna: bagaimana kabar buruk kebakaran hutan yang terus menerus bagai tak berujung, menggelapkan alam pikir mereka yang membaca; bagaimana asapnya secara literal membuat semesta mereka yang terdampak langsung, menjadi gelap. Jarak pandang menyempit, sinar matahari gagal menembus permukaan tanah—dikalahkan pekat asap dan terangnya kobaran api.
“Senyapnya malam bergemuruh, di laut batin yang keruh”
Malam yang seharusnya sunyi, malah penuh gemuruh kegelisahan di benak. Keruh tak melulu tentang air yang tidak jernih, ia juga bisa berarti asap yang mengaburkan pandangan, bisa berarti pikiran yang kacau, bisa pula berarti tanah yang tidak lagi jelas untuk apa peruntukan dan siapa yang mengusai nanti usai kebakaran.
“Hanyut tak berarah, hanya berserah” tak berarti pasrah. Ini kelelahan. Kelelahan setelah bertahun-tahun menghadapi masalah yang sama, tanpa tampak ada tanda untuk siklus berhenti. Kelelahan akan berita buruk yang terus menerus tersiar.
“Jauh di dalam samudra tak berdasar; sajak-sajak, nyanyian tentang sinar”
Di sini, “Keruh” bergerak dari deskripsi ke harapan. “Sajak-sajak, nyanyian tentang sinar” adalah satu-satunya titik terang dalam lagu ini. Berharap pada sekecil apapun cercah yang ada.
Pada 2026, jawabannya mungkin terletak pada apa yang belum dilakukan. Program restorasi gambut yang dicanangkan setelah apa yang terjadi di 2015 belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Kanal-kanal masih mengeringkan gambut. Konsesi masih beroperasi. Saat El Niño datang, mitigasi yang ada masih belum cakap. Sinar itu, jika ada, hanya bisa lahir dari pengakuan bahwa kita belum benar-benar belajar dari 2015.
Mengapa Terdengar Seperti Baru Dirilis
Sekarang, 2026. Sepuluh tahun sudah setelah “Keruh” dirilis. Namun, lagi-lagi yang menyambut paru-paru penduduk dan satwa liar bukanlah segar oksigen pagi hari, tetapi serpih-serpih mikroskopik karbon yang dibakar. Lagi-lagi, warna oranye di ujung itu bukan matahari yang terbit, tetapi titik-titik api yang bermunculan dan membesar. Lagi-lagi, kita mendapatkan keluhan dari negara tetangga. Sama seperti sedekade lalu, bahkan mungkin lebih.
Sepanjang Januari–Agustus 2026, luas karhutla telah melonjak hingga 1,36 juta hektare. Di baliknya, ada pertanyaan yang tak kalah penting dari berapa yang terbakar, melainkan di mana terjadinya. Di Kalimantan Timur, 11.636 hektare atau 69 persen lahan terbakar berada di dalam batas izin 172 perusahaan. Hingga akhir Agustus, peneliti Universitas Mulawarman, Rustam, menyebut angka yang lebih tajam: 80–85 persen titik api ada di dalam konsesi. Tak berbeda jauh, di Sumatera Selatan, 1.091 titik panas berada di wilayah konsesi: 524 titik di 17 perusahaan HTI dan 567 titik di 47 perusahaan perkebunan.
Angka-angka ini memang tidak muncul di lirik “Keruh”. Namun, ia sedikit banyak menjelaskan mengapa lagu itu terdengar baru: yang terbakar bukan tanah kosong, dan kebakaran justru menjadi bagaikan rutinitas sekian tahunan.
Tidak ada yang berubah, kecuali tahun di kalender. Yang tidak berubah juga: penyebabnya.
Pemandangan sehari-hari warga Kalimantan masih serupa dengan sampul album yang dicetak sepuluh tahun lalu: merah membara sekaligus suram. Yah, karyanya timeless. Sayangnya, bukan (hanya) karena seninya, tapi karena masalah yang mengilhaminya tidak pernah diselesaikan.
“Keruh” secara singkat, juga dapat dilihat sebagai bagaimana satu dekade lalu tiap personel Float mengelola berita buruk, sejejak upaya untuk tetap berkesadaran penuh (mindfulness).
“Keruh” memang tidak pernah menawarkan jalan keluar: ia ‘hanya’ merekam kelelahan. “Hanya berserah” bukan ajakan untuk berhenti peduli; ia adalah pengakuan bahwa kepedulian, tanpa keadilan, menghasilkan kelelahan. Lagu itu tidak menyuruh pendengarnya untuk menjauh dari berita atas nama mindfulness. Ia justru berdiri di tengah berita dan memaknainya.
Sebab, berita buruk bagi seseorang adalah realitas bagi orang lain yang tidak bisa dihindari dengan sekadar membatasi diri dari kabar terkini. Ketika kemampuan untuk “menjauh” menjadi penanda status, maka mindfulness bukan lagi praktik spiritual—ia adalah privilese, atau bahkan ketidakpedulian, yang diberi nama lain.
Betapa cocoknya “Keruh” dengan kondisi terkini, bukan berarti ia adalah ramalan. Ia adalah observasi yang diterjemahkan ke dalam seni, dan semua itu, sayangnya, masih berlaku.
Lagu yang Urung Selesai
“Keruh” sudah dinyanyikan sejak 2016. Namun, di 2026, gelap semesta itu masih tak kunjung bertepi. Kita masih menunggu keadilan bagi mereka yang kehilangan rumah, hutan, dan napas. Tak hanya manusia, tetapi juga satwa liar penduduk asli hutan-hutan tersebut.
Pada akhir lagu, Float menulis: “Memohon agar lahir lagi terang.” Permohonan ini bukan doa pasif. Ia adalah pengakuan bahwa terang tidak akan datang sendiri. Ia harus diciptakan: melalui aturan yang menghentikan pengeringan gambut, melalui penegakan hukum terhadap konsesi yang melanggar, melalui restorasi yang bukan sekadar proyek pembangunan fasilitas.
Setelah satu dekade, ini bukan lagi tentang apakah kita sudah pernah mendengar lagu itu. Namun: apakah kita akhirnya mengerti bahwa lagu itu berbicara tentang kita. Lagu ini tidak menuntut, ia hanya menunjukkan. Akan tetapi, sudah sepuluh tahun, kebakaran hutan justru malih seperti siklus yang dinormalkan dengan dalih El Niño.
Sehingga mungkin, yang perlu dijernihkan bukanlah apapun kecuali tata kelola lahan, jarak pandang, dan udara untuk dihirup semua makhluk yang tidak mendapatkan benefit apapun dari hutan yang dibakar kecuali ISPA dan rangkaian dampak ikutan lainnya. Sebab, keruh tak akan bisa menjadi bening hanya dengan mengandalkan waktu yang berlalu.





![Harapan Memutus Siklus Api [Bagian 4]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/harapan-memutus-siklus-api-bagian-4.webp)

![Bencana Terencana: Jejak Api Karhutla yang Diabaikan Negara [Bagian 1]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/bencana-terencana-jejak-api-karhutla-yang-diabaikan-negara-bagian-1.webp)







