Berita

Anak SD Selamatkan Elang Tikus, BBKSDA Jatim: Kekurangan Pakan atau Perdagangan Ilegal?

15/04/2026|Irvan Sjafari
Maheswra Kamajaya dan elang tikus yang diselamatkannya Foto BBKSDA Jatim - Anak SD Selamatkan Elang Tikus BBKSDA Jatim Ke...

Maheswra Kamajaya dan elang tikus yang diselamatkannya. | Foto: BBKSDA Jatim

Gardaanimalia.com - Orang dewasa patut belajar dari seorang bocah berusia 11 tahun bernama Maheswra Kamajaya.

Suatu ketika pada Minggu 5 April 2026, siswa Kelas IV SD Watugong itu berlari menyusuri pematang sawah di Desa Watugong, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidorajo, Jawa Timur.

Langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu yang tak biasa di bawah pohon, seekor elang tergeletak, kakinya terlilit tali, tubuhnya tampak lemah.

Bocah ini iba pada nasib burung ini, mengangkat burung itu dan membawanya pulang ke rumahnya di Perumahan Pesona Permata Ungu. Sang Ayah M. Suyudi ikut tergerak hatinya.

Di garasi rumahnya yang sederhana, elang tersebut diletakkan. Air minum disediakan. Berbagai jenis pakan dicoba, ikan air tawar, ikan laut, hingga daging ayam. Namun, burung itu tetap diam, tak mau makan. Hari pertama dilalui dengan cemas.

Harapan datang dari arah yang tak diduga. Seorang tetangga yang menebang pohon kelapa menemukan sarang burung dengan anakan di dalamnya. Anakan itu kemudian diberikan kepada keluarga Maheswara.

Saat itulah, untuk pertama kalinya, elang tersebut mau makan, sebuah momentum yang membuat mereka sedikit lega. Selama beberapa hari, elang itu menjadi perhatian kecil di lingkungan mereka. Ada yang datang melihat, ada pula yang tertarik untuk memelihara. Namun, keluarga Maheswara menolak. Mereka tak ingin satwa itu berpindah tangan tanpa kepastian.

Kebingungan pun muncul, harus dibawa ke mana? Suyudi kemudian berinisiatif mencari bantuan. Ia menghubungi Call Center Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, berharap ada pihak yang bisa menangani.

Empat hari setelah penemuan, pada 9 April 2026, jawaban itu datang. Tim Balai Besar KSDA Jawa Timur tiba di rumah mereka. Elang tersebut kemudian diserahkan secara sukarela untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Petugas mengidentifikasi burung itu sebagai elang tikus (Elanus caeruleus), salah satu raptor yang berperan penting di ekosistem persawahan. Selain itu, elang tikus merupakan satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Nomor P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Dilindungi. 

Maheswara mendapatkan pelajaran dari alam sekaligus juga memberikan pelajaran pada orang dewasa untuk welas asih kepada satwa, sekaligus juga memberikan kontribusi pada satwa yang dilindungi. 

Kepala BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan mengapresiasi tindakan Maheswara, di tengah berbagai cerita tentang ancaman terhadap satwa liar.

“Tidak heroik, tidak pula dramatis. Hanya tentang seorang anak yang memilih peduli dan sebuah keluarga yang memutuskan melakukan hal yang benar,” katanya kepada Garda Animalia melalui Whatsapp, Selasa (14/4/2026).

Penemuan elang tikus dalam kondisi lemah perlu dilihat sebagai kasus individual dengan kemungkinan penyebab. Bisa jadi kekurangan pakan atau dehidrasi, cedera akibat aktivitas manusia, paparan racun sepeti pestisida atau kelelahan saat dispersal (berpindah tempat).

Hanya saja, Nur Patria Kurniawan mencatat dalam konteks ini perlu juga dipertimbangkan hipotesis tambahan yang cukup kuat, terkait kemungkinan satwa peliharaan atau bekas perdagangan ilegal.

“Satwa bisa merupakan peliharaan yang lepas atau sengaja dilepas atau korban perdagangan ilegal yang dibuang saat pelaku menghindari operasi penertiban,” ujar dia.

Satwa dalam kondisi ini umumnya, kehilangan insting berburu, tidak mengenali bahaya di alam, mengalami stres dan disorientasi. Akibatnya, satwa menjadi rentan kelaparan dan cedera.

Satwa seperti ini juga lebih mudah terjerat benda seperti tali layang-layang, yang dalam kondisi normal bisa dihindari oleh satwa liar yang masih memiliki insting baik.

Fenomena ini merupakan bagian dari Human–Wildlife Interaction (HWI), yang dapat berkembang menjadi konflik jika tidak dikelola. Beberapa faktor pendorong konflik satwa liar dan manusia adalah penyempitan habitat, ketersediaan pakan di area manusia, perilaku manusia (memberi pakan, memelihara satwa liar).

“Dampak yang mungkin terjadi: konflik dan risiko keselamatan, satwa kehilangan sifat liar, gangguan keseimbangan ekosistem, risiko penyakit,” tutupnya.