Gardaanimalia.com - Di kebun binatang maupun film, harimau yang kita kenal umumnya berwarna oranye dengan corak belang hitam. Namun, tahukah kamu bahwa ada pula harimau berwarna putih? Sesuai namanya, satwa ini memiliki kulit dan bulu berwarna putih dengan corak belang gelap.
Harimau putih merupakan variasi genetik langka pada harimau yang memiliki keunikan tersendiri, tak heran banyak orang penasaran dengan fakta-fakta di baliknya, termasuk alasan mengapa warna kulitnya bisa berbeda dari harimau pada umumnya. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Sejarah Ditemukannya Harimau Putih Pertama
Dalam laman Mandai Wildlife Reserve, sejarah harimau putih modern di penangkaran tidak dapat dilepaskan dari seekor harimau jantan bernama Mohan. Mohan merupakan anak harimau putih yang ditemukan di hutan Bandhavgarh, India, pada tahun 1951 oleh Raja Rewa, Martand Singh. Saat ditemukan, Mohan diperkirakan berusia sekitar sembilan bulan dan kemudian dibawa ke istana Raja Rewa.
Di sana, Mohan dikawinkan dengan harimau betina berwarna oranye. Dari perkawinan tersebut lahir 10 anak, tetapi seluruhnya berwarna oranye. Ketika Mohan kemudian dikawinkan dengan salah satu betina keturunannya, lahirlah empat anak harimau putih.
Peristiwa inilah yang kemudian menjadi awal berkembangnya populasi harimau putih melalui pembiakan di bawah perawatan manusia. Sebagian besar harimau putih yang kini berada di penangkaran diyakini memiliki hubungan keturunan dengan Mohan.
Menurut National Geographic, catatan mengenai harimau putih di India telah ada sejak tahun 1500-an. Harimau putih bukanlah spesies atau subspesies yang berbeda dari harimau pada umumnya, melainkan harimau dengan variasi genetik resesif yang menyebabkan warna bulunya menjadi putih.
Untuk menghasilkan anak berwarna putih, seekor harimau harus mewarisi dua salinan gen tersebut, masing-masing dari induknya. Di alam liar, harimau dengan warna putih sangat jarang ditemukan. National Geographic mencatat, harimau putih liar terakhir yang diketahui ditembak pada tahun 1958. Setelah itu, populasi harimau putih berkembang terutama melalui pembiakan di penangkaran.
Jumlahnya yang semula hanya beberapa puluh ekor pada 1970-an kemudian meningkat menjadi ratusan. Popularitas harimau putih di kebun binatang turut didorong oleh penampilannya yang khas, yakni bulu putih, loreng hitam, dan mata biru.
Bukan Albino, Melainkan Hasil Mutasi Genetik
Harimau putih kerap disangka albino, padahal sebenarnya bukan. Ia adalah varian langka dari harimau Bengal (Panthera tigris tigris) yang tetap memiliki garis-garis cokelat gelap, namun dengan bulu putih, hidung dan bantalan kaki merah muda, serta mata biru. Warna putih pada bulunya merupakan hasil variasi genetik yang disebut leukisme, yaitu kondisi yang menyebabkan hilangnya sebagian atau seluruh pigmen pada bagian tubuh tertentu.
Pada 2013, tim peneliti asal Cina berhasil mengidentifikasi gen di balik fenomena ini, yaitu gen pigmen bernama SLC45A2, dan menerbitkan temuan tersebut di jurnal Current Biology. Dijelaskan bahwa gen ini mencegah tubuh harimau memproduksi pigmen merah dan kuning yang biasanya bercampur menjadi warna oranye khas harimau.
Namun, karena pigmen hitam tidak ikut terhambat, harimau putih tetap memiliki belang gelap di tubuhnya. Mutasi ini bersifat resesif, artinya sifat bulu putih hanya akan muncul jika seekor harimau mewarisi salinan gen tersebut dari kedua induknya sekaligus.
Fakta-Fakta Menarik
Fakta menarik berikutnya, harimau putih termasuk satwa soliter alias penyendiri. Dalam keseharian, mereka lebih memilih berburu sendirian, kecuali saat memasuki musim kawin. Saat musim kawin tiba, harimau putih akan mencari pasangan dan mulai berbagi hasil buruan. Setelah harimau putih betina melahirkan, mereka pun hidup bersama anak-anaknya sebagai satu keluarga kecil. Selain itu, fakta lainnya menunjukkan harimau putih bisa saja lahir dari dua induk harimau berwarna oranye, apabila keduanya sama-sama membawa gen tersebut tanpa memunculkannya sendiri.
Kondisi ini sangat langka terjadi di alam. Bahkan dalam IFAW disebutkan, peluangnya diperkirakan hanya sekitar 1 berbanding 10.000.
Ancaman dari Pembiakan Selektif
Sebagai satwa langka di alam liar, harimau putih tidak dipandang semata-mata sebagai satwa yang menarik. Semestinya harimau putih juga menjadi prioritas konservasi. Kenyataannya, sebagian besar harimau putih yang ada saat ini justru lahir dari pembiakan selektif di penangkaran, dikawinkan secara sengaja, bahkan lewat perkawinan sedarah, demi mempertahankan sifat bulu putihnya agar tetap muncul pada keturunannya.
Praktik ini membawa dampak buruk bagi kesehatan harimau putih, mulai dari kematian dini, bayi lahir dalam keadaan mati, hingga berbagai kelainan bentuk tubuh. Karena itu, sejak 2011, asosiasi kebun binatang dan akuarium di Amerika Serikat melarang lembaga-lembaga di bawah akreditasinya untuk sengaja membiakkan warna langka seperti ini, demi menghindari dampak buruk terhadap kesehatan hewan maupun program pembiakan itu sendiri.
Harimau putih merupakan variasi genetik langka yang keberadaannya di alam sangat terbatas, bahkan nyaris tidak lagi ditemukan sejak pertengahan abad lalu. Kisahnya menjadi pengingat penting bagi kita untuk terus menjaga dan melestarikan satwa liar secara bertanggung jawab, alih-alih menjadikannya sekadar objek tontonan atau eksploitasi.
















