Berita

Survei BBKSDA Jatim: Elang Jawa masih Eksis

04/09/2026|Irvan Sjafari
Dua ekor elang jawa terekam di langit Ponorogo saat survei sedang dilakukan oleh BBKSDA Jawa Timur Foto BBKSDA Jawa Timur...

Dua ekor elang jawa terekam di langit Ponorogo saat survei sedang dilakukan oleh BBKSDA Jawa Timur. | Foto: BBKSDA Jawa Timur

Gardaanimalia.com - Kabar gembira bagi dunia konservasi datang dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur. Berdasarkan survei pada Agustus 2026, keberadaan elang jawa (Nisaetus bartelsi) di Cagar Alam (CA) Picis dan Sigogor di Kabupaten Ponorogo menunjukkan hasil cukup positif.

Kepala Seksi KSDA Wilayah II BBKSDA Jawa Timur Gatot Kuncoro Edi menyampaikan, survei yang dilakukan pada 11-16 Agustus 2026 berhasil mencatat sekitar tujuh ekor elang jawa.

Survei diulangi pada 24-29 Agustus 2026 di lokus yang sama dan berhasil menjumpai 12 hingga 13 ekor elang jawa. Adapun metode survei yang digunakan ialah point count, dengan enam titik point count.

“Bagi kami ini cukup menggembirakan. Artinya, populasi elang jawa di CA Picis dan CA Sigogor relatif stabil. Dulu survei pada 2023 juga menjumpai sekitar 12 ekor,” ujar Gatot kepada Garda Animalia, Rabu (2/9/2026).

Bentang alam CA Gunung Picis dan CA Gunung Sigogor dengan luas mencapai 218,4 hektare memang merupakan salah satu lokasi monitoring elang jawa.

Gatot mengungkapkan, salah satu faktor pendukung eksistensi elang jawa adalah ketersediaan pakan yang cukup. Pakan tersebut bisa berupa satwa satwa kecil, seperti burung berukuran kecil, tupai, bajing, tikus, dan sebagainya. Gatot berpesan, yang harus dilakukan adalah melindungi habitat elang jawa agar tidak rusak sehingga pakannya terpenuhi.

“Selain itu, perlu menjaganya dari upaya perburuan dan perdagangan ilegal. Areal CA Picis dan CA Sigogor sangat dijaga terutama oleh polisi hutan. Kami melakukan patroli kawasan secara rutin,” tutur peraih Magister di Universitas Merdeka Malang ini.

Tim survei juga mencatat dan merekam kehadiran kompetitor elang jawa, seperti elang hitam (Ictinaetus malayensis) dan elang-ular bido (Spilornis cheela).

“Namun, jumlah pasti kompetitor tersebut belum kami ketahui,” ujarnya.

Uploaded content
Tim BBKSDA Jawa Timur sedang melakukan pemantauan kehadiran elang jawa, spesies raptor endemik Indonesia. | Foto: BBKSDA Jawa Timur

Kehadiran Raptor adalah Tanda Ekosistem Sehat

Guru Besar IPB University dari Fakultas Pertanian, Prof Syartinilia Wijaya, menuturkan bahwa elang jawa merupakan burung pemangsa endemik Indonesia yang kini terancam punah. Padahal, keberadaannya di alam liar menandakan ekosistem yang seimbang dan sehat.

“Raptor merupakan spesies indikator yang sensitif terhadap disfungsi ekosistem. Karena itu, keberadaan mereka penting dalam studi ekologi dan pemantauan kondisi lingkungan,” ujar Sayantinilia di laman IPB University

Elang jawa dikategorikan sebagai spesies terancam punah (endangered) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Raptor ini terancam akibat fragmentasi hutan, perburuan ilegal, perubahan iklim, dan aktivitas manusia.

Satwa yang merupakan representatif lambang negara burung garuda ini juga telah ditetapkan sebagai spesies prioritas nasional oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Ditjen PHKA) melalui SK Dirjen No 200/IV/KKH/2015.

Saat ini, populasinya diperkirakan hanya sekitar 511 pasang, tersebar di 74 kantong habitat dengan luas total sekitar 10.804 kilometer persegi atau sekitar 8,4 persen dari luas Pulau Jawa.