Berita

Berburu Foto Satwa di Beutong Ateuh, Merawat Kekayaan Hayati Aceh

22/09/2025|Garda Animalia
Berburu foto satwa di Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, Senin (15/9/2025). | Foto: Mardili

Berburu foto satwa di Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, Senin (15/9/2025). | Foto: Mardili

Gardaanimalia.com – Sejumlah fotografer dan jurnalis dari Banda Aceh mengikuti kegiatan hunting foto satwa liar di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalan, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Kegiatan yang difasilitasi Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) ini dimulai pada Senin (15/9/2025) dan berlangsung selama tiga hari, dipandu langsung oleh wildlife photographer Indonesia, Riza Marlon.

Kegiatan berburu foto ini bertujuan mendokumentasikan berbagai satwa liar yang hidup bebas di hutan maupun sekitar permukiman Beutong Ateuh.

Berbagai jenis burung, termasuk yang langka seperti rangkong, serta primata dan fauna lain berhasil diabadikan. Peserta juga menemukan beragam flora, mulai dari tumbuhan hutan hingga jenis-jenis jamur.

Riza Marlon menilai dokumentasi satwa dan tumbuhan di Aceh penting untuk mendorong lahirnya karya kolektif.

“Foto satwa dan tumbuhan yang indah tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga rekam jejak kekayaan hayati Aceh. Saya harap ini bisa memotivasi para fotografer dan jurnalis untuk menghasilkan buku flora dan fauna yang bermanfaat,” ungkapnya, Rabu (17/9/2025).

Jurnalis Mongabay, Junaidi Hanafiah, yang ikut serta dalam kegiatan ini menuturkan, hunting foto di Beutong Ateuh memperlihatkan betapa kayanya keragaman hayati Aceh. 

Sementara fotografer freelance asal Banda Aceh, Zulfahmi, menyebut pengalaman ini memberinya pemahaman baru dalam mendokumentasikan satwa liar secara langsung di habitat aslinya.

“Kita bisa menyerap banyak pengetahuan dari ahlinya, seperti Om Riza Marlon, dan semangatnya dalam membuat buku juga menyadarkan kita tentang pentingnya mendokumentasi satwa untuk kepentingan edukasi,” kata Zulfahmi. 

Kegiatan pemotretan dilakukan di kawasan Hutan Lindung dan Areal Penggunaan Lain (APL), serta lokasi yang direncanakan akan dibangun stasiun penelitian oleh Yayasan HAkA di atas lahan seluas 66 hektare di Beutong Ateuh. 

Koordinator Community Empowerment Yayasan HAkA, Rubama, mengatakan stasiun itu bertujuan mendukung riset keanekaragaman flora dan fauna. 

“Stasiun ini akan menjadi pusat kajian untuk mendokumentasikan kekayaan hayati, sekaligus wadah edukasi dan konservasi,” jelas Rubama.

Beutong Ateuh, Jantung Konservasi di Aceh

Kecamatan Beutong Ateuh Banggalan berada di ketinggian sekitar 556 meter di atas permukaan laut (MDPL) dan memiliki empat desa, yakni Blang Meurandeh, Blang Puuk, Kuta Tengoh, dan Babah Suak. 

Kawasan ini masuk dalam Ekosistem Leuser dan memiliki posisi strategis karena hutannya terhubung dengan Ekosistem Ulu Masen.

Wilayah berhawa sejuk ini dikenal sebagai habitat penting satwa dilindungi, seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). 

Selain itu, ratusan jenis burung, primata, mamalia kecil, serta flora langka masih dapat ditemukan di kawasan ini.

Lebih dari itu, masyarakat Beutong Ateuh juga dikenal dengan komitmen kuat menjaga lingkungan. 

Mereka menolak kehadiran tambang yang berpotensi merusak hutan, sekaligus berupaya melindungi wilayahnya dari praktik perburuan satwa, termasuk burung-burung hutan. 

Kesadaran ini membuat Beutong Ateuh bukan hanya sebagai rumah keanekaragaman hayati, tetapi juga simbol perlawanan masyarakat terhadap eksploitasi alam.


Penulis: Mardili