Berita

BKSDA Aceh Klarifikasi Soal Gading Hilang dan Bau Menyengat Gajah yang Terbawa Banjir

08/01/2026|Mardili
Kondisi bangkai gajah jantan liar berusia 10 tahun yang mati terbawa banjir bandang di Kampung Meunasah Lhok Kecamatan Meu...

Kondisi bangkai gajah jantan liar berusia 10 tahun yang mati terbawa banjir bandang di Kampung Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, pada Rabu, 24 Desember 2025. | Foto: Manda

Gardaanimalia.com - Isu hilangnya gading dan menyeruaknya bau menyengat dari bangkai gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang ditemukan mati akibat banjir di Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, menuai perhatian luas publik.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengklarifikasi bahwa informasi yang beredar tidak sesuai dengan fakta lapangan.

Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, memastikan gading gajah tidak hilang dan telah diamankan bersama kepolisian sejak awal penanganan.

Ia juga menegaskan bau yang sempat dikeluhkan warga muncul akibat keterbatasan penanganan di lokasi yang masih berada dalam situasi darurat bencana.

“Informasi yang menyebut gading gajah hilang atau diambil pihak tertentu itu tidak benar. Gading sudah ditemukan dan diamankan bersama Polres,” kata Ujang saat dikonfirmasi, Rabu (7/1/2026).

Ujang menjelaskan, laporan awal terkait temuan bangkai gajah diterima BKSDA Aceh pada 28 November 2025, beberapa hari setelah banjir besar melanda sejumlah wilayah di Aceh.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim BKSDA Aceh bersama Satreskrim Polres setempat turun ke lokasi pada 29 November 2025.

Namun, penanganan tidak dapat dilakukan secara maksimal karena akses menuju lokasi masih rusak dan alat berat belum bisa menjangkau area tersebut.

“Dalam kondisi darurat, BKSDA Aceh tetap menjalankan prosedur awal, termasuk sterilisasi lokasi dan nekropsi terbatas,” kata Ujang.

Lanjutnya, untuk mencegah gangguan kesehatan dan potensi pembongkaran, bangkai gajah dikubur secara darurat dengan cara manual menggunakan tanah, kayu, dan terpal plastik.

Pemantauan lanjutan dilakukan secara berkala, termasuk pada 10 Desember 2025, guna memastikan lokasi tetap steril. 

 “Monitoring rutin dilakukan setiap dua hingga tiga pekan. Berdasarkan hasil pengecekan terbaru beberapa hari yang lalu, bangkai telah mengalami proses penguraian alami dan kondisi lokasi dinyatakan aman,” ungkap Ujang.

Seluruh sisa tulang belulang gajah akan diamankan dan dikuburkan secara permanen, baik di lokasi kejadian maupun dipindahkan ke fasilitas konservasi, seperti pusat latihan gajah, menyesuaikan kondisi lapangan.

Hasil Nekropsi dan Kondisi Terkini

Ujang menjelaskan bahwa gajah tersebut mati akibat hanyut terbawa banjir besar yang menerjang Aceh pada November 2025, bukan karena perburuan atau konflik dengan manusia.

“Murni karena terbawa banjir bandang. Berdasarkan hasil nekropsi, gajah tersebut berjenis kelamin jantan dengan usia sekitar 10 tahun,” jelasnya.

Ia juga menyebut, jarak lokasi bangkai dengan permukiman warga mencapai lebih dari satu kilometer, dengan akses yang sulit dijangkau, terutama saat kondisi pascabencana.

“Lokasinya tidak dekat dengan permukiman. Untuk kesana harus berjalan kaki sekitar satu kilometer lebih, dan aksesnya memang cukup sulit,” tuturnya.

Menurutnya, bau menyengat dari bangkai hanya bersifat sementara dan tidak hanya bersumber dari bangkai gajah. Di sekitar lokasi juga ditemukan bangkai ternak lain yang turut hanyut saat banjir, sehingga memperparah bau di area tersebut.

“Hasil pengecekan terakhir menunjukkan bangkai sudah terurai secara alami dan bau sudah tidak tercium lagi,” ujar Ujang.